" Aku harus jujur kepada diriku sendiri. Aku tidak peduli dengan jawaban Falah, kalaupun Falah ternyata tidak menyukaiku, it’s ok. Ia tidak berhak untuk menyakitiku terus-menerus. 4 tahun haruslah sudah cukup. " - Hana


Hana memutuskan untuk mengambil S2 tawaran dari bundanya.

“ Bunda, Hana pergi menemui Falah, buru-buru banget. Hana janji nanti sarapan diluar. “

Hana melangkahkan kakinya, terakhir kali Hana jogging disekitar kompleks 8 bulan yang lalu, ketika Hana hendak pergi berlibur ke Bandung selama 2 bulan sebelum memasuki semester 4 perkuliahannya. Hana berharap bisa menemui Falah sekarang,  tidak peduli apapun Hana akan mengungkapkan perasaannya. Hana lebih memilih ia berhadapan dengan Aca daripada ia harus memendam perasaannya lagi. Hana percaya Aca akan mengerti, ia percaya Aca sahabat baiknya.

Hana sudah mengelilingi kompleks 2x tapi ia belum menemukan keberadaan Falah, ia merasa lelah, ia memilih istirahat di depan Swalayan kompleks. Ia melihat anak-anak kecil yang menunggu orang tuanya belanja di Swalayan, anak-anak itu anak kembar dari Bu Rania, namanya Ganesa dan Vanesa. Mereka bermain petak umpet yang membuat Ganesa kelabakan mencari tempat persembunyian karena Vanesa menghitung dari angka 1 hingga 10 cepat banget. Hana tertawa melihat ekspresi Ganesa yang menggemaskan. Vanesa tau kelemahan kakaknya, Ganesa, ia anak yang tidak mengenal kata “cepat“. 

Hana tidak sengaja menangkap pemandangan yang sangat membuat dirinya iri di seberang jalan. Ia melihat sepasang cewek dan cowok sedang berjalan lucu. Ceweknya memakai pakaian yang sangat muslimah dan cowoknya memakai pakaian yang gaul dan kekinian. Cowok itu terlihat sangat smart looking. Ah Hana langsung teringat Falah.

“ Falah, kamu dimana sekarang ? “ lirih Hana.

Biasanya orang kalau ingin menyatakan cinta, ia pasti deg-deg an, salah tingkah dan mungkin jika dokter saraf melihat tangan orang itu pasti ia akan divonis penyakit Tremor. Namun, semua itu tidak berlaku pada Hana, Hana siap menerima jawaban Falah, karena Hana lelah jika harus menyembunyikan perasaannya lebih lama lagi.

“ Eh ada kak Hana, kok tumben dirumah, o iya sih liburan lebaran ya kak Hana? “ sapa bu Rania ramah.

“ Iya Bu, hehe “ jawab Hana singkat, sambil tersenyum J
“ Halo. Adik-adik yang semakin imut dan menggemaskan “ sapa Hana lg kepada si anak kembar.

“ Aloo kak Ana,“ jawab Ganes, imut. 

Kenapa mereka sangat menggemaskan ya Allah. Ganesa menggenggam tangan Hana erat. Ia mengeliat manja dipangkuan Hana.

“ Kakak Falah, kak Ganeca ada kak Falah disana “ Vanesa berlarian ke tempat Falah,

“Maklum ya kak Han, Vanesa memang sangat dekat dengan Falah dan Adinda, ibu sering menitipkan Ganesa dan Vanesa ke mereka kalo ibu sedang ada arisan di rumah, maklum lah istri seorang  pejabat “ pinta Bu Rania kepada Hana.

Bukan itu yang Hana pikirkan sekarang, Adinda siapa ?
“kak Ana, turunin Ganeca, Ganeca ingin ke kakak Adinda” pinta Ganesa membuyarkan lamunan Hana. Aku menurunkan ia dari pangkuanku. Ia berlari ke gadis yang memakai pakaian muslimah tadi yang Hana lihat.

 Jadi cowok yang smart looking itu memang Falah? Tapi kok dekat banget dengan cewek itu, diakah Adinda?

“ Kak Hana tadi enggak sahur ya? Mukanya kok pucat sekali ? “ Tanya bu Rania membuyarkan lamunan Hana lagi.
“ Eh enggak bu, Adinda ini siapa ya ? “ tanyaku ganti.

“ Dia anaknya Pak Gadirta, keluarga pindahan dari Turki, dengar-dengar sih mereka pindah karena urusan kantor. Pak Gadirta seorang diplomat “

Mulut Hana membentuk huruf o setelah mendengar keterangan dari bu Rania.

“ Mereka serasi ya “ tambah bu Rania lagi.

Seketika Hana diam tidak berkutik. Ia hanya memandang lurus menatap lekat-lekat wajah bu Rania. Setega itu bu Rania meruntuhkan tekadnya tadi pagi. Segampang itu. Hanya dengan kata-kata ia mampu memunculkan kembali rasa sakit yang baru Hana buang.

“ Mereka mau menikah loh, Kak Hana datang kan ke resepsinya minggu depan ? “
“ Me.. menika.. menikaah ? “ Tanya Hana lagi memastikan.

“ Hana, itukah kamu? Abis Jogging kamu Han? Wah tumben sekali ya? “
Jangan tanya siapa yang berkata seperti itu. Ia pasti Falah.

Hana tidak akan lemah! Hana kuat.

“ Heh, iya nih cari udara segar. Hehe “ jawab Hana sekuat tenaga.
“ oh gitu. Ini Adinda. Perkenalkan ia adalah cal….”
Belum selesai Falah meneruskan kalimatnya, Hana menarik tangan Falah mengajaknya menjauh dari swalayan.

“ Pulanglah, Falah bersamaku sebentar. “ bisik Hana kepada Adinda. Dalam hati Hana mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa Hana bisa berkata seperti itu kepada Adinda yang jelas-jelas calon istri Falah.

Sudah kubilang dari awal kan? Tidak peduli apapun aku akan jujur dan menerima resikonya.

“ Hana, heeei, Hana. Adinda calon istriku. Kamu tidak boleh bersikap seperti ini. tidak sopan Han, heii lepas “ Falah melepas paksa tangannya dari genggaman Hana. Hampir saja Hana terjatuh.

“ Falah! Aku mencintaimu “ ucap Hana sedikit membentak.

“ Tidak peduli apapun resikonya, aku mencintaimu. “ tambah Hana

“ Kemarin malam kamu menanyakan alasan kenapaa aku berubah selama ini kan. jawabannya karena aku mencintaimu “ tambah Hana lagi.

“ Hana, kamu sudah tidak waras “ Falah menyanggah kalimat Hana dengan sadis.
Seketika Hana termenung, ia memeras otaknya untuk mencerna perkataan Falah barusan.

Bukankah lebih baik kamu menolaknya saja Falah? Cinta yang aku miliki ini sudah berumur 4 tahun, sudah menjadi pohon Mangga yang besar bahkan berbuah. Namun, kamu judge tidak waras setelah aku mengungkapnya?
Falah pergi meninggalkan Hana sendirian, 

Hana terduduk di kursi taman kompleks. Ia tidak bisa berpikir lagi, yang ia lakukan hanyalah termenung. Bagaimana dengan Aca jika ia mengetahui bahwa Falah akan menikah? bukan dengan Hana, bukan juga dengan Aca.

PUISIKU TERGANTI

Jika aku berada di jalanMu
Maka kututup mataku dari indahnya dunia
Jika aku menggenggam erat janji
Maka aku & kamu masih bersama
Jika aku melepas kehidupanku
Maka aku tak sampai disini
Aku iri dengan kesederhanaan
Tapi aku srakah kepada kenyataan
Apapun pilihanku, akhir tetaplah menjadi akhir, bukan?
Bukankah takdir Tuhan itu indah?
Ataukah pilihanku yang terlanjur salah?
Hingga memperbaikinya perlu kesulitan yang amat rumit dibinasakan?
Bagaimana kalo Tuhan lelah mendengar ocehanku?
Abaianku?
Bahkan kelalaianku?

Juni, 2018
***


Flashback Falah.

Falah sudah mencintai Hana sejak pertama kali ia memandang Hana. Falah merasakan rasa yang berbeda ketika jalan bersama Hana. Hana yang membuat Falah merasakan perjuangan dalam mencari perhatian. Falah selalu penasaran dengan Hana. Tetapi, sebelum bertanya Hana pasti menceritakannya terlebih dahulu.

4 tahun yang lalu adalah tahun terburuk bagi Falah, Hana tiba-tiba bersikap dingin kepadanya. Ia tidak mau pulang bersama lagi, sejak hari itu hingga kelulusan SMA tiba Falah tidak pernah berhenti menawarkan pulang bareng kepadanya.

“ Hana, jangan gini dong, aku bosen pulang sendirian “ pinta Falah padanya
“ kamu duluan ya Fal, sampaikan ke Bundaku, aku pulang telat, aku ke perpustakaan kota dulu “ jawab Hana selalu begitu, kalau tidak ia beli buku ya ia akan pergi ke perpustakaan.

Ulang tahun pun Hana tidak meraayakannya. Padahal Falah berharap besar disaat hari ulang tahun Hana tiba. Lalu Falah mengirimi Hana pesan via whatsapp.

“Ciye, bentar lagi HUT. Mau kado apa nih?”
“Tahun ini, aku pergi  liburan ke Lombok bersama keluarga”
“Hmm. Hana hati-hati ya disana kalau begitu”
Read.

Falah di rumah hanya bisa menunggu kepulangan Hana. Setelah itu seringkali Falah menawarkan agenda makan malam bersama keluarga Hana. Tapi Nihil. Hana tidak ikut datang. Lalu Hana mengirimi Hana pesan via whatsapp lagi.

“Hana kok tdk ikut dinner?”
“ Lagi ada tugas banyak,”
“ Yaudah deh, semangat yaa”
Read.

“ Hmm, disini siapa yang jurusan IPA ya? “ gerutu Falah ketika melihat tanda biru tanpa balasan. Falah sekolah jurusan IPA, ia sedang nyantai sedangkan Hana yang jurusan Bahasa ia malah sok sibuk.

Hingga suatu hari pengumuman kelulusan pun tiba, Falah diterima di jurusan kedokteran Gigi di Jember, sedangkan Hana mengambil jurusan Sastra Indonesia di Surabaya. Sejak saat itu. Falah memutuskan untuk berhenti mengganggu Hana. Ia berpikir tanpa kehadirannya pun Hana baik-baik saja.

Liburan semester 2, Falah ingin menghabiskan waktu liburannya di rumah, ia enggan untuk bepergian, mungkin dengan itu Falah bisa bertemu dengan Hana, tapi Hana berlibur ke Bandung. Ia memikirkan Hana sampai ia memutari kompleks selama 6x. Falah paling suka olahraga lari. Di sela-sela ia istirahat ia tidak sengaja bertemu dengan Hana, Hana berjalan sendirian memasuki Swalayan. Falah tidak ingin mengganggu mood Hana hari ini. Hana terlihat murung tapi optimis sekali. Hana keluar dari Swalayan, ia membawa banyak belanjaan, yang isinya ciki semua.

Falah merindukan Hana yang dulu, Hana yang selalu ceria dimanapun ia berada. Falah tidak sanggup untuk menyapa Hana lagi, Falah takut Hana semakin membencinya.

Falah memasuki swalayan, ia membeli minuman.
“ Mbak, cewek yang pakai baju merah tadi beli apa aja ya? “ Tanya Falah tiba-tiba, ia sok kenal dengan mbak-mbak kasir swalayan.

“ Oh mbak Hana? “ Tanya mbak itu lagi.

“Iya, mbaknya kenal? “ Tanya Falah lagi
“ Ibunya mitra usaha Swalayan sini mas, kemarin lusa ada acara mbak Hana yang Handle, barusan ia berpamitan katanya mau ke keluar kota “

mulut Falah membentuk huruf o ketika mbak-mbak Swalayan itu menjelaskan, lalu ia menerima uang kembalian, keluar dari Swalayan.

“ Hana kamu kenapa? “ geram ia merasakan rasa ini, Falah merindukan Hana, sangat sangat merindu.

“ Aw, sakit “ suara gaduh terdengar dari belakang tempat Falah berdiri. Seorang cewek terjatuh setelah menabrak tubuh Falah yang tiba-tiba berhenti ketika berjalan.

“ Eh aduh Sorry, sorry banget aku tidak sengaja “

“ Aduh ya Ampun, lain kali hati-hati ya bang, ini sakit jadinya “ jawab cewek itu. Ia cantik, kulitnya putih, tinggi dan pakaiannya sopan.

“ Sekali lagi aku minta maaf ya “ pinta Falah lagi.

“ Tidak dimaafin! “ ucap cewek itu sambil tersenyum. Tiba-tiba cewek itu jadi friendly.

“ Jadi ? “ Tanya Falah lagi.

“ Apa? “ cewek itu Tanya balik.

“ Apasih ? “ Tanya Falah lagi sambil tertawa melihat ekspresi cewek itu yang bingung dan sedikit malu-malu. Menggemaskan

“ Dimaafin tapi ada syaratnya! “ pinta cewek itu lagi, Falah menyadari 2 hal. Cewek ini cerewet dan menggemaskan.

“ Iya, apa? “ Tanya Falah lagi sambil tersenyum.

“ Hmm, kasih tau aku Swalayan yang dekat di area kompleks ini dimana? “ Tanya cewek ini dengan lantang.

“ Neng, lain kali kalo keluar rumah kacamatanya dipakai yaa, “ seru Falah sambil tertawa sarkas.

“ Apanih? Aku serius ih dasar ya ternyata sama aja kayak cowok-cowok lainnya. Suka modus “
gerutu cewek itu sambil meninggalkan Falah dari tempatnya.

“ Hei. Modus darimana. ini di depan kamu Swalayan. Tengok kiri tuh “ jelas Falah dengan sarkas.

“ Eh ya Ampun akhirnyaaa “

“ Dasar cewek. Negative terus pikirannya! “ gerutu Falah, tapi percuma cewek itu bisa dengar.

“ Maaf bang ya, saya penghuni baru disini. Wajar kan saya tanya dan waspada selalu. “ gerutu cewek itu juga tidak mau kalah.

“ Oh penghuni baru? “ Tanya Falah memperjelas

“ Iya, kenalin namaku Adinda “

Cewek itu, Adinda, ia tidak menjabat tangan Falah melainkan menundukan diri ke Falah. Falah mengernyitkan alisnya. Ia berpikir sejenak.

“ Oh perpaduan dari Jepang dan Arab ya ? “ Tanya Falah menyelisik

“ Hehe iya, Abah saya asli Turki, Umi saya yang Jepang “ jelas Adinda..



pict by : Pinterest




Saat itu Matahari tak segan—segan memancarkan sinarnya. Silau, cerah, bersamaan dengan hati yang membiru. Memaksa kaki untuk melangkah lebih jauh dari biasanya, sampai di titik dimana kakiku berhenti melangkah. 

Bahkan aku baru menyadari hadirnya lembayung senja, aku tersadar bahwa sekarang aku berhenti di tengah-tengah keramaian orang banyak. 

Orang-orang lalu lalang yang sedang menjajakan dagangannya. Sekarang sudah gelap, entah mengapa hari ini 3 jam berasa 1 detik. lalu suara serak seorang lelaki menyebut namaku membuyarkan lamunanku,  aku menoleh ke sumber suara, disana ia berdiri, di tengah-tengah di sebuah alun-alun kota santri, aku bertemu lagi dengan lelaki itu. Lelaki yang seumuran denganku. Yang pernah aku kagumi hingga sekarang.
 Lelaki itu, Falah, dia anak dari Bunda Yaha, aku memanggilnya Bunda Yaha karena beliau sahabat karib Bundaku sejak SMA. Aku kenal Falah sejak usiaku 14 tahun, setelah lulus SMP bundaku mengadakan reuni di rumah, sekaligus syukuran atas prestasi yang aku dapatkan selama 3 tahun di SMP, aku peringkat 1 di kelas terus-menerus. Disaat itulah aku bertemu dengan Falah. Sampai akhirnya bundaku meminta Falah untuk menjagaku disekolah baruku. Waktu itu kita kebetulan diterima di sekolah yang sama. Di SMA 2. Sekarang ia sedang memakai baju taqwa dan sarung, kelihatannya ia usai melaksanakan sholat terawih di Masjid Jami’. Ia masih sama seperti biasanya, lesung di Pipinya selalu saja terlihat. Ah seseorang diluar sana. Tolong hentikan perasaan ini. Aku mengaguminya~
            “ Hana, kamu sendirian sajakah ? “ Tanya dia setelah menyapaku.
            “ hmm, ini sendiri. Emang ada siapa lagi kelihatannya? “
            “ mungkin, sama aku ? “ Tanya dia lagi. Dia sekarang ketawa.
            “ hehehe, jangan ngaco, aku sendirian ini “
Aku melihat Falah sedang mengernyitkan alisnya. Mungkin dia berasumsi bahwa aku kurang kerjaan banget. Mending teraweh daripada jalan sendirian gini, yakan?Mungkin Falah belum hafal kebiasaan wanita di setiap bulannya.
“ Falah, aku duluan yaa “ ucapku sambil melanjutkan langkahku lagi.
“ Hana,“ panggil dia kemudian. Aku berusaha untuk tidak mendengarnya. Aku melanjutkan langkahku. Aku sengaja mempercepat langkahku.
“ Hana, tunggu sebentar “ ucap Falah lagi, ia sekarang berjalan berdampingan bersamaku. Dia benar-benar mengejar langkahku. Aku masih berdiam diri mengunci mulutku rapat-rapat, menunggu dia berkata lagi. Tapi dia hanya menyandingi langkahku hingga langkahku sampai di sebuah kompleks tempat tinggal dia. Aku memberhentikan langkahku, aku tidak berani menatap Falah. Aku menundukkan wajahku, menatap tanah yang mungkin akan jadi saksi bisu.
“ kamu masih sama seperti dulu, kamu belum berubah Hana, “
Aku tidak mengerti dengan yang diucapkan Falah barusan, ia benar-benar membuatku berfikir keras. Bukankah apa yang aku lakukan sekarang benar? Aku sudah berpamitan untuk duluan, untuk meninggaalkan dia agar dia bisa melanjutkan aktivitasnya. Tapi dia malah mengikutiku. Jadi aku menuju rumahnya agar dia bisa segera pulang. Apakah aku salah?
“ Hana, look at me “ ucap dia lagi lirih.
“ iya Falah “ aku mencoba untuk melihat wajahnya saja. Aku belum berani mengekspresikan apa yang aku rasakan ketika aku melihat kedua matanya.
“ hari ini kita bertemu lagi Hana, ini kebetulan yang sangat aku nantikan, karena cerita yang belum aku ceritakan kekamu, Hana. Sudah ada puluhan cerita “
Falah. Andaikan kamu tau, aku sudah tidak tau lagi bagaimana cara untuk mengatasi permasalahan hati, sudah 4 tahun yang lalu, semestinya sudah masa lalu. Tapi, entah mengapa hati ini belum sembuh.
“ Hana, aku kangen kamu, dulu kita sering pulang sekolah bareng, ke kantin bareng, belajar bareng, sekarang. Sekarang kamu menjauhiku Han, “
Ya tuhann semesta alam. Falah kenapa jadi mellow begini, harusnya aku yang mellow. Disini aku yang tersakiti.
“ Han, kamu jangan diam. Aku udah buang jauh-jauh rasa maluku untuk berkata seperti ini kepadamu “
Kali ini, aku memberanikan diri untuk menatap mata cokelatnya, seperti yang dulu-dulu, matanya teduh penuh kehangatan. Falah menghapus air mataku yang tanpa aku sadari sudah membanjiri pipiku. Aku masih diam tak berkutik.
“ Okay, okay. Aku ga akan maksa kamu untuk kembali lagi seperti dulu. Tapi, setidaknya kasih aku penjelasan apa alasan kamu menjauhiku ? apa latar belakang dari semua ini ? “
“ aku lelah, aku mau pulang. “ aku melepaskan tangan Falah, tapi ia menggenggam tanganku erat.
“ han, please. “ pinta ia lagi,
Aku tidak sanggup lagi, aku ingin menjauh sejauh mungkin dari Falah, ia tidak perlu tau apa alasan aku menjauhinya. Hal ini hanya akan memperumit semuanya.

Cerita 4 tahun yang lalu, seusai UAS semester 4 SMA, aku dan teman-temanku nongkrong di Eazy Coffee, kala itu Tiffany, Andrea, Aca membawa hot news yang katanya akan jadi bahan rumpi. Aku sendiri seseorang yang memiliki kemampuan expertdi bidang good listener. Meskipun begitu, teman-temanku tidak bosan menceritakan curahan hatinya kepadaku, hingga pada akhirnya aku mengetahuinya, Tiffany bercerita tentang kucing peliharaannya yang dicuri oleh tetangganya sendiri, ia menangis setiap melihat kandang kucingnya kosong, setiap sore dia keliling kompleks untuk mencari kucingnya hingga ketemu, saat itu Tiffany menemukan kucingnya sedang main kejar-kejaran bola bersama anak tetangganya. receh? Tidak.
Andrea, dia memberi kabar bahwa gadis yang biasa kita bully sekarang jadi selebgram, dia sering mendapatkan endorse baju-baju wanita yang katanya jaman now, berawal dari bermain tiktok ia berhasil meraup ratusan ribu disetiap postingan endorse-nya. Kira-kira percakapan kita seperti ini.
Andrea            : “ aku ga nyangka bangeeet, dia bisa jadi selebgram “
Aca                  : “ anjir, dia menang putih doang, idung dia masih mancung aku, aku ga bisa terima ini “
Tiffany            : “ dosa besar kamu Aca. Jaga omongan Ca, ckckckc “
Andrea            : “ kalo kita liat potensinya sih, tetep Hana lah yang paling pantes jadi selebgram, liat aja ya, Hana cantik, sering jalan di catwalk, pemotretan apalagi? Makanannya sehari-harinya itu “
Hana                : “ wah ngacoo nih anak, aku kalem wkwkwwk “
Aca                  : “ ya Ampunnn, iyaa Hana. Napa sih han kamu jarang banget apload foto-foto bagus kamu, itu potensi loh ya, yang apload malah fotografernya wkwkw”
Tiffany            : “ apaa aku bantuin apload Han ? aku rela deh jadi manager kamu wkwkw lumayan, bisa aku beli ini kafe kalo sukses ntar”
Hana                : “ aduh makin ngaco kalian semua wwkwkw “
Lembayung senja kian menghilang perlahan, aku yang masih menikmati obrolan bersama teman-temanku pun tenggelam dalam kelegaan, lega akan semua yang telah usai, ujian sekolah dan menyambut liburan ke Bali nanti. namun, bayangan itu semua pecah, pecah berkeping-keping ketika Aca mencurahkan semua isi hatinya. Hanya dengan 4 kata yang mampu menghancurkan sistem penjagaan hatiku.
“ aku menyukai Falah banget “
ucap Aca mampu membuat  semua orang tiba-tiba berhenti ketawa. Aku yang tadinya menikmati coffe late serasa rasanya sampai ke hati. Rasanya empeduku langsung bocor. Pahit semuaaa. Sungguh kenyataan pahit yang harus aku terima. Aku dan sahabatku menyukai orang yang sama. Salah satu dari kita harus mengakui lebih dulu. Aku sudah kalah start meskipun aku dulu yang lebih dekat dengan Falah.
“ Ciyeee. Acaa sudah besar kau nak “ suara Andrea menghancurkan keheningan.
Kesalahan yang terus menerus aku lakukan selama aku lahir hingga sekarang adalah sifatku yang tertutup. Aku tidak bisa mengutarakan apa yang aku rasakan, aku selalu mengalah, aku mencoba untuk selalu tenang dan menyelesaikan semua masalah yang terjadi dengan kemampuan otakku yang hangat tidak dengan hati yang dingin. Tapi, untuk masalah yang satu ini. ini sulit. Sumpaaah. Inginku menenggelamkan diriku ke dalam coffe late ini.

Sudah 4 tahun berlalu, selama itulah aku menahan rasa. Aku melanjutkan sekolahku di luar kota. Di bidang Sastra. Bulan ini aku free jadi aku pulang ke rumah. Di rumah aku suntuk hingga akhirnya aku mendengar suara laki-laki itu memanggil namaku. Mungkin ini jawaban Tuhan semesta alam. Definisi pulang kerumah adalah bukan semata-mata rumah dan segala isinya.
Mulutku enggan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Falah, aku melangkahkan kakiku menjauhinya. Aku pulang ke rumah, ke gedung putih nomor 75. Di seberang kompleks.
“ loh, hana dari mana nak ? “ Tanya Bunda setelah melihatku menutup pintu.
“ Hana dari alun-alun bun, cari udara segar “
“ sini dulu nak, Bunda mau ngobrol “ bunda mendudukan dirinya diatas sofa, tehnya kini sudah bertengger rapi di atas meja.
“ apa bunda ? “
“ setelah bunda memikirkannya, Bunda menawarkan Hana untuk lanjut S2 di Singapura, Hana persiapkan ya. Ini terserah Hana menyetujuinya atau tidak, Bunda hanya memberi kesempatan “ bunda mengutarakannya dengan lantang tanpa ada beban sama sekali.
“ whaaat ? Hana ga ada sama sekali bun kepikiran untuk kesana. Hana belum siap “
Baru saja aku bertemu Falah, tidak mungkin aku memanjangkan space-nya lagi, untuk liburan ini saja, biarlah aku yang hanya melihatnya dari jauh, tapi setidaknya tidak sejauh Singapore Bunda, apakah kali ini aku harus jujur ke Bunda ? apakah aku harus membuka perasaanku agar tersampaikan atau membuka luka lama karena lebih memilih meninggalkan?
Bunda terdiam, beliau menautkan kedua alisnya. Aku tau bunda pasti kaget dengan pernyataanku.
“ Hana “ panggil Bunda
“ iya Bunda “
“ Bunda tau, Hana mempunyai banyak teman disini, pasti Hana belum siap untuk berpisah dengan mereka ya? Tapi menurut bunda ini kesempatan yang tidak bisa orang lain dapatkan secara gampang nak “
Kini bunda menatap mataku, dalam bunda menatapnya..
“ tapi Bun, Hana engga sanggup lagi berjauhan terus-terusan. “
Air mataku yang sudah lama aku tahan, kini keluar dari tempat pertahanan.
“ Hana sudah memiliki pacar ? “ Tanya Bunda menyelisik
“ belum Bunda “
“ lalu, berjauhan dengan siapa nak ? “ Tanya bunda lagi, lebih menyelisik.
“ Falah Bunda “ ucapku kemudian jujur.
Bunda mengusap air mataku, Bunda memelukku hangat. Bunda tidak menenangkanku dengan kata-kata, beliau langsung bereaksi dengan tindakan. Hangat

Kepadamu tuan pemilik hatiku :

Pada senja yang kabur.
Aku ucapkan padamu selamat malam.
Dengan kondisi hati yang usai terbakar
Mata yang tak henti-hentinya terpejam
Meratapi pedihnya penantian kabar
Selama api dalam hati belum padam
Hingga kesabaran yang belum terbayar
Karena cinta dalam hati yang rumit bak belukar
Bagaikan kata-kata yang tiada terbenar
Harapan pun musnah layaknya api dalam damar

Malam ini aku menutup buku diary dengan selembar puisi. Mata dan hatiku berkecamuk di dalam tubuhku, hatiku enggan untuk bertemu mimpi, tiba-tiba jam berdenting cukup keras membuyarkan lamunanku. Jam 12 malam aku masih terjaga. Jika kakiku bisa berbicara ia sudah mengatakan ini : “ bawa aku ke kasur, aku sudah muak dengan kehancuran hatimu “
Mungkin lanjut sekolah di luar negeri adalah satu-satunya obat. Tidak, itu bukan obat. Obat yang ampuh adalah Falah, Ia dalangnya. Falah harus datang padaku membawa cincin dan bunga mawar merah dan bertanya “ will you marry me ? “. Iya itu obatnya. Ah aku melupakan sesuatu. Sahabatku juga mencintai Falah. Jika di dunia ini tidak ada etika dalam sosial. Aku sudah pasti jalang. Aku menyatakan perasaan cintaku tepat setelah Aca berkata “ aku cinta Falah banget “ lalu memanggil Falah. Mungkin saja Falah menyukainya tapi tidak dengan Aca dan kedua temanku.
Hari berganti bulan hingga bulan berganti tahun, sudah berganti berkali-kali. Tapi aku masih tenggelam dalam perasaan yang sama. Perasaan bersalah karena mengabaikan suara hatiku. Andai saja aku menceritakan soal hatiku kepada Falah sebelum aku mengenalkannya kepada ketiga temanku. Andai sajaaa.
Aku melamun lagi, lamunanku pecah setelah hapeku berdering. Panggilan dari Aca.
Aca      : “ kamu masih ngapain Han, kok masih online “
Hana    : “ ga bisa tidur, nunggu sahur sekalian “
Aca      : “ emang puasa ? kamu kan paling ga bisa nahan lapar hahahaha “
Hana    : “ kewajiban bos. Nahan cinta selama 4 tahun aja bisa masa makan gabisa!! “
Hanaaaa bodoh, ngapain bicara se-senewen itu ke Aca. Ah tarik napass, santaii. Bikin Aca ga curiga
Aca      : “ waduh, ngeri ni orang. 4 tahun kamu nahan cinta tanpa ngasih tau ke kita-kita !!! “
Hana    : “ Cinta kepada rasul “
Aca      : “ yang benar aja, cinta rasul itu dari bayi cuy. Pokoknya besok kita bukber kamu harus cerita. Titik!! “
Hana    : “ gaak bakal. Kamu ga kenal Acaa “
Aca      : “ maka dari itu, kenalin dong “
Hana    : “ ga akan, sekarang banyak pelakor, ngeri. “
Aca      : “ tegaa banget ah, ga bakal sahabatmu nikung anjir, seganteng dan setajir apasih dia, eh nahan cinta? Btw definisi dari nahan cinta apa ya ? belum jadian udah takut ditikung. Dasar nyali ciut “
Hana    : “ bodo amat, aku tiba-tiba ngantuk “
Aca      : “ tujuan aku nelpon ini nyuruh kamu tidur, mau nina bobo-in kamu “
Hana    : “ jijik “
           

Cepat-cepat aku tutup telepon dari Aca sebelum kekonyolannya kumat semakin dalam. Sebaiknya aku menerima tawaran dari bunda, aku bisa ambil fast track biar bisa lulus di semester 7 bahkan 6 sekalipun, semakin sibuk aku belajar semakin lupa aku dengan kehinaan ini. pura-pura baik dengan sahabat sendiri yang sama-sama mencintai Falah itu benar-benar menjijikan, munafik dan kejam pada diri sendiri. Mungkin sudah saatnya aku membuka hati kepada orang lain. Move on itu penting buat kesehatan, trust it!

sumber foto : Pinterest