Patah Part 2




" Aku harus jujur kepada diriku sendiri. Aku tidak peduli dengan jawaban Falah, kalaupun Falah ternyata tidak menyukaiku, it’s ok. Ia tidak berhak untuk menyakitiku terus-menerus. 4 tahun haruslah sudah cukup. " - Hana


Hana memutuskan untuk mengambil S2 tawaran dari bundanya.

“ Bunda, Hana pergi menemui Falah, buru-buru banget. Hana janji nanti sarapan diluar. “

Hana melangkahkan kakinya, terakhir kali Hana jogging disekitar kompleks 8 bulan yang lalu, ketika Hana hendak pergi berlibur ke Bandung selama 2 bulan sebelum memasuki semester 4 perkuliahannya. Hana berharap bisa menemui Falah sekarang,  tidak peduli apapun Hana akan mengungkapkan perasaannya. Hana lebih memilih ia berhadapan dengan Aca daripada ia harus memendam perasaannya lagi. Hana percaya Aca akan mengerti, ia percaya Aca sahabat baiknya.

Hana sudah mengelilingi kompleks 2x tapi ia belum menemukan keberadaan Falah, ia merasa lelah, ia memilih istirahat di depan Swalayan kompleks. Ia melihat anak-anak kecil yang menunggu orang tuanya belanja di Swalayan, anak-anak itu anak kembar dari Bu Rania, namanya Ganesa dan Vanesa. Mereka bermain petak umpet yang membuat Ganesa kelabakan mencari tempat persembunyian karena Vanesa menghitung dari angka 1 hingga 10 cepat banget. Hana tertawa melihat ekspresi Ganesa yang menggemaskan. Vanesa tau kelemahan kakaknya, Ganesa, ia anak yang tidak mengenal kata “cepat“. 

Hana tidak sengaja menangkap pemandangan yang sangat membuat dirinya iri di seberang jalan. Ia melihat sepasang cewek dan cowok sedang berjalan lucu. Ceweknya memakai pakaian yang sangat muslimah dan cowoknya memakai pakaian yang gaul dan kekinian. Cowok itu terlihat sangat smart looking. Ah Hana langsung teringat Falah.

“ Falah, kamu dimana sekarang ? “ lirih Hana.

Biasanya orang kalau ingin menyatakan cinta, ia pasti deg-deg an, salah tingkah dan mungkin jika dokter saraf melihat tangan orang itu pasti ia akan divonis penyakit Tremor. Namun, semua itu tidak berlaku pada Hana, Hana siap menerima jawaban Falah, karena Hana lelah jika harus menyembunyikan perasaannya lebih lama lagi.

“ Eh ada kak Hana, kok tumben dirumah, o iya sih liburan lebaran ya kak Hana? “ sapa bu Rania ramah.

“ Iya Bu, hehe “ jawab Hana singkat, sambil tersenyum J
“ Halo. Adik-adik yang semakin imut dan menggemaskan “ sapa Hana lg kepada si anak kembar.

“ Aloo kak Ana,“ jawab Ganes, imut. 

Kenapa mereka sangat menggemaskan ya Allah. Ganesa menggenggam tangan Hana erat. Ia mengeliat manja dipangkuan Hana.

“ Kakak Falah, kak Ganeca ada kak Falah disana “ Vanesa berlarian ke tempat Falah,

“Maklum ya kak Han, Vanesa memang sangat dekat dengan Falah dan Adinda, ibu sering menitipkan Ganesa dan Vanesa ke mereka kalo ibu sedang ada arisan di rumah, maklum lah istri seorang  pejabat “ pinta Bu Rania kepada Hana.

Bukan itu yang Hana pikirkan sekarang, Adinda siapa ?
“kak Ana, turunin Ganeca, Ganeca ingin ke kakak Adinda” pinta Ganesa membuyarkan lamunan Hana. Aku menurunkan ia dari pangkuanku. Ia berlari ke gadis yang memakai pakaian muslimah tadi yang Hana lihat.

 Jadi cowok yang smart looking itu memang Falah? Tapi kok dekat banget dengan cewek itu, diakah Adinda?

“ Kak Hana tadi enggak sahur ya? Mukanya kok pucat sekali ? “ Tanya bu Rania membuyarkan lamunan Hana lagi.
“ Eh enggak bu, Adinda ini siapa ya ? “ tanyaku ganti.

“ Dia anaknya Pak Gadirta, keluarga pindahan dari Turki, dengar-dengar sih mereka pindah karena urusan kantor. Pak Gadirta seorang diplomat “

Mulut Hana membentuk huruf o setelah mendengar keterangan dari bu Rania.

“ Mereka serasi ya “ tambah bu Rania lagi.

Seketika Hana diam tidak berkutik. Ia hanya memandang lurus menatap lekat-lekat wajah bu Rania. Setega itu bu Rania meruntuhkan tekadnya tadi pagi. Segampang itu. Hanya dengan kata-kata ia mampu memunculkan kembali rasa sakit yang baru Hana buang.

“ Mereka mau menikah loh, Kak Hana datang kan ke resepsinya minggu depan ? “
“ Me.. menika.. menikaah ? “ Tanya Hana lagi memastikan.

“ Hana, itukah kamu? Abis Jogging kamu Han? Wah tumben sekali ya? “
Jangan tanya siapa yang berkata seperti itu. Ia pasti Falah.

Hana tidak akan lemah! Hana kuat.

“ Heh, iya nih cari udara segar. Hehe “ jawab Hana sekuat tenaga.
“ oh gitu. Ini Adinda. Perkenalkan ia adalah cal….”
Belum selesai Falah meneruskan kalimatnya, Hana menarik tangan Falah mengajaknya menjauh dari swalayan.

“ Pulanglah, Falah bersamaku sebentar. “ bisik Hana kepada Adinda. Dalam hati Hana mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa Hana bisa berkata seperti itu kepada Adinda yang jelas-jelas calon istri Falah.

Sudah kubilang dari awal kan? Tidak peduli apapun aku akan jujur dan menerima resikonya.

“ Hana, heeei, Hana. Adinda calon istriku. Kamu tidak boleh bersikap seperti ini. tidak sopan Han, heii lepas “ Falah melepas paksa tangannya dari genggaman Hana. Hampir saja Hana terjatuh.

“ Falah! Aku mencintaimu “ ucap Hana sedikit membentak.

“ Tidak peduli apapun resikonya, aku mencintaimu. “ tambah Hana

“ Kemarin malam kamu menanyakan alasan kenapaa aku berubah selama ini kan. jawabannya karena aku mencintaimu “ tambah Hana lagi.

“ Hana, kamu sudah tidak waras “ Falah menyanggah kalimat Hana dengan sadis.
Seketika Hana termenung, ia memeras otaknya untuk mencerna perkataan Falah barusan.

Bukankah lebih baik kamu menolaknya saja Falah? Cinta yang aku miliki ini sudah berumur 4 tahun, sudah menjadi pohon Mangga yang besar bahkan berbuah. Namun, kamu judge tidak waras setelah aku mengungkapnya?
Falah pergi meninggalkan Hana sendirian, 

Hana terduduk di kursi taman kompleks. Ia tidak bisa berpikir lagi, yang ia lakukan hanyalah termenung. Bagaimana dengan Aca jika ia mengetahui bahwa Falah akan menikah? bukan dengan Hana, bukan juga dengan Aca.

PUISIKU TERGANTI

Jika aku berada di jalanMu
Maka kututup mataku dari indahnya dunia
Jika aku menggenggam erat janji
Maka aku & kamu masih bersama
Jika aku melepas kehidupanku
Maka aku tak sampai disini
Aku iri dengan kesederhanaan
Tapi aku srakah kepada kenyataan
Apapun pilihanku, akhir tetaplah menjadi akhir, bukan?
Bukankah takdir Tuhan itu indah?
Ataukah pilihanku yang terlanjur salah?
Hingga memperbaikinya perlu kesulitan yang amat rumit dibinasakan?
Bagaimana kalo Tuhan lelah mendengar ocehanku?
Abaianku?
Bahkan kelalaianku?

Juni, 2018
***


Flashback Falah.

Falah sudah mencintai Hana sejak pertama kali ia memandang Hana. Falah merasakan rasa yang berbeda ketika jalan bersama Hana. Hana yang membuat Falah merasakan perjuangan dalam mencari perhatian. Falah selalu penasaran dengan Hana. Tetapi, sebelum bertanya Hana pasti menceritakannya terlebih dahulu.

4 tahun yang lalu adalah tahun terburuk bagi Falah, Hana tiba-tiba bersikap dingin kepadanya. Ia tidak mau pulang bersama lagi, sejak hari itu hingga kelulusan SMA tiba Falah tidak pernah berhenti menawarkan pulang bareng kepadanya.

“ Hana, jangan gini dong, aku bosen pulang sendirian “ pinta Falah padanya
“ kamu duluan ya Fal, sampaikan ke Bundaku, aku pulang telat, aku ke perpustakaan kota dulu “ jawab Hana selalu begitu, kalau tidak ia beli buku ya ia akan pergi ke perpustakaan.

Ulang tahun pun Hana tidak meraayakannya. Padahal Falah berharap besar disaat hari ulang tahun Hana tiba. Lalu Falah mengirimi Hana pesan via whatsapp.

“Ciye, bentar lagi HUT. Mau kado apa nih?”
“Tahun ini, aku pergi  liburan ke Lombok bersama keluarga”
“Hmm. Hana hati-hati ya disana kalau begitu”
Read.

Falah di rumah hanya bisa menunggu kepulangan Hana. Setelah itu seringkali Falah menawarkan agenda makan malam bersama keluarga Hana. Tapi Nihil. Hana tidak ikut datang. Lalu Hana mengirimi Hana pesan via whatsapp lagi.

“Hana kok tdk ikut dinner?”
“ Lagi ada tugas banyak,”
“ Yaudah deh, semangat yaa”
Read.

“ Hmm, disini siapa yang jurusan IPA ya? “ gerutu Falah ketika melihat tanda biru tanpa balasan. Falah sekolah jurusan IPA, ia sedang nyantai sedangkan Hana yang jurusan Bahasa ia malah sok sibuk.

Hingga suatu hari pengumuman kelulusan pun tiba, Falah diterima di jurusan kedokteran Gigi di Jember, sedangkan Hana mengambil jurusan Sastra Indonesia di Surabaya. Sejak saat itu. Falah memutuskan untuk berhenti mengganggu Hana. Ia berpikir tanpa kehadirannya pun Hana baik-baik saja.

Liburan semester 2, Falah ingin menghabiskan waktu liburannya di rumah, ia enggan untuk bepergian, mungkin dengan itu Falah bisa bertemu dengan Hana, tapi Hana berlibur ke Bandung. Ia memikirkan Hana sampai ia memutari kompleks selama 6x. Falah paling suka olahraga lari. Di sela-sela ia istirahat ia tidak sengaja bertemu dengan Hana, Hana berjalan sendirian memasuki Swalayan. Falah tidak ingin mengganggu mood Hana hari ini. Hana terlihat murung tapi optimis sekali. Hana keluar dari Swalayan, ia membawa banyak belanjaan, yang isinya ciki semua.

Falah merindukan Hana yang dulu, Hana yang selalu ceria dimanapun ia berada. Falah tidak sanggup untuk menyapa Hana lagi, Falah takut Hana semakin membencinya.

Falah memasuki swalayan, ia membeli minuman.
“ Mbak, cewek yang pakai baju merah tadi beli apa aja ya? “ Tanya Falah tiba-tiba, ia sok kenal dengan mbak-mbak kasir swalayan.

“ Oh mbak Hana? “ Tanya mbak itu lagi.

“Iya, mbaknya kenal? “ Tanya Falah lagi
“ Ibunya mitra usaha Swalayan sini mas, kemarin lusa ada acara mbak Hana yang Handle, barusan ia berpamitan katanya mau ke keluar kota “

mulut Falah membentuk huruf o ketika mbak-mbak Swalayan itu menjelaskan, lalu ia menerima uang kembalian, keluar dari Swalayan.

“ Hana kamu kenapa? “ geram ia merasakan rasa ini, Falah merindukan Hana, sangat sangat merindu.

“ Aw, sakit “ suara gaduh terdengar dari belakang tempat Falah berdiri. Seorang cewek terjatuh setelah menabrak tubuh Falah yang tiba-tiba berhenti ketika berjalan.

“ Eh aduh Sorry, sorry banget aku tidak sengaja “

“ Aduh ya Ampun, lain kali hati-hati ya bang, ini sakit jadinya “ jawab cewek itu. Ia cantik, kulitnya putih, tinggi dan pakaiannya sopan.

“ Sekali lagi aku minta maaf ya “ pinta Falah lagi.

“ Tidak dimaafin! “ ucap cewek itu sambil tersenyum. Tiba-tiba cewek itu jadi friendly.

“ Jadi ? “ Tanya Falah lagi.

“ Apa? “ cewek itu Tanya balik.

“ Apasih ? “ Tanya Falah lagi sambil tertawa melihat ekspresi cewek itu yang bingung dan sedikit malu-malu. Menggemaskan

“ Dimaafin tapi ada syaratnya! “ pinta cewek itu lagi, Falah menyadari 2 hal. Cewek ini cerewet dan menggemaskan.

“ Iya, apa? “ Tanya Falah lagi sambil tersenyum.

“ Hmm, kasih tau aku Swalayan yang dekat di area kompleks ini dimana? “ Tanya cewek ini dengan lantang.

“ Neng, lain kali kalo keluar rumah kacamatanya dipakai yaa, “ seru Falah sambil tertawa sarkas.

“ Apanih? Aku serius ih dasar ya ternyata sama aja kayak cowok-cowok lainnya. Suka modus “
gerutu cewek itu sambil meninggalkan Falah dari tempatnya.

“ Hei. Modus darimana. ini di depan kamu Swalayan. Tengok kiri tuh “ jelas Falah dengan sarkas.

“ Eh ya Ampun akhirnyaaa “

“ Dasar cewek. Negative terus pikirannya! “ gerutu Falah, tapi percuma cewek itu bisa dengar.

“ Maaf bang ya, saya penghuni baru disini. Wajar kan saya tanya dan waspada selalu. “ gerutu cewek itu juga tidak mau kalah.

“ Oh penghuni baru? “ Tanya Falah memperjelas

“ Iya, kenalin namaku Adinda “

Cewek itu, Adinda, ia tidak menjabat tangan Falah melainkan menundukan diri ke Falah. Falah mengernyitkan alisnya. Ia berpikir sejenak.

“ Oh perpaduan dari Jepang dan Arab ya ? “ Tanya Falah menyelisik

“ Hehe iya, Abah saya asli Turki, Umi saya yang Jepang “ jelas Adinda..



pict by : Pinterest

0 komentar:

Posting Komentar