Patah Part 1




Saat itu Matahari tak segan—segan memancarkan sinarnya. Silau, cerah, bersamaan dengan hati yang membiru. Memaksa kaki untuk melangkah lebih jauh dari biasanya, sampai di titik dimana kakiku berhenti melangkah. 

Bahkan aku baru menyadari hadirnya lembayung senja, aku tersadar bahwa sekarang aku berhenti di tengah-tengah keramaian orang banyak. 

Orang-orang lalu lalang yang sedang menjajakan dagangannya. Sekarang sudah gelap, entah mengapa hari ini 3 jam berasa 1 detik. lalu suara serak seorang lelaki menyebut namaku membuyarkan lamunanku,  aku menoleh ke sumber suara, disana ia berdiri, di tengah-tengah di sebuah alun-alun kota santri, aku bertemu lagi dengan lelaki itu. Lelaki yang seumuran denganku. Yang pernah aku kagumi hingga sekarang.
 Lelaki itu, Falah, dia anak dari Bunda Yaha, aku memanggilnya Bunda Yaha karena beliau sahabat karib Bundaku sejak SMA. Aku kenal Falah sejak usiaku 14 tahun, setelah lulus SMP bundaku mengadakan reuni di rumah, sekaligus syukuran atas prestasi yang aku dapatkan selama 3 tahun di SMP, aku peringkat 1 di kelas terus-menerus. Disaat itulah aku bertemu dengan Falah. Sampai akhirnya bundaku meminta Falah untuk menjagaku disekolah baruku. Waktu itu kita kebetulan diterima di sekolah yang sama. Di SMA 2. Sekarang ia sedang memakai baju taqwa dan sarung, kelihatannya ia usai melaksanakan sholat terawih di Masjid Jami’. Ia masih sama seperti biasanya, lesung di Pipinya selalu saja terlihat. Ah seseorang diluar sana. Tolong hentikan perasaan ini. Aku mengaguminya~
            “ Hana, kamu sendirian sajakah ? “ Tanya dia setelah menyapaku.
            “ hmm, ini sendiri. Emang ada siapa lagi kelihatannya? “
            “ mungkin, sama aku ? “ Tanya dia lagi. Dia sekarang ketawa.
            “ hehehe, jangan ngaco, aku sendirian ini “
Aku melihat Falah sedang mengernyitkan alisnya. Mungkin dia berasumsi bahwa aku kurang kerjaan banget. Mending teraweh daripada jalan sendirian gini, yakan?Mungkin Falah belum hafal kebiasaan wanita di setiap bulannya.
“ Falah, aku duluan yaa “ ucapku sambil melanjutkan langkahku lagi.
“ Hana,“ panggil dia kemudian. Aku berusaha untuk tidak mendengarnya. Aku melanjutkan langkahku. Aku sengaja mempercepat langkahku.
“ Hana, tunggu sebentar “ ucap Falah lagi, ia sekarang berjalan berdampingan bersamaku. Dia benar-benar mengejar langkahku. Aku masih berdiam diri mengunci mulutku rapat-rapat, menunggu dia berkata lagi. Tapi dia hanya menyandingi langkahku hingga langkahku sampai di sebuah kompleks tempat tinggal dia. Aku memberhentikan langkahku, aku tidak berani menatap Falah. Aku menundukkan wajahku, menatap tanah yang mungkin akan jadi saksi bisu.
“ kamu masih sama seperti dulu, kamu belum berubah Hana, “
Aku tidak mengerti dengan yang diucapkan Falah barusan, ia benar-benar membuatku berfikir keras. Bukankah apa yang aku lakukan sekarang benar? Aku sudah berpamitan untuk duluan, untuk meninggaalkan dia agar dia bisa melanjutkan aktivitasnya. Tapi dia malah mengikutiku. Jadi aku menuju rumahnya agar dia bisa segera pulang. Apakah aku salah?
“ Hana, look at me “ ucap dia lagi lirih.
“ iya Falah “ aku mencoba untuk melihat wajahnya saja. Aku belum berani mengekspresikan apa yang aku rasakan ketika aku melihat kedua matanya.
“ hari ini kita bertemu lagi Hana, ini kebetulan yang sangat aku nantikan, karena cerita yang belum aku ceritakan kekamu, Hana. Sudah ada puluhan cerita “
Falah. Andaikan kamu tau, aku sudah tidak tau lagi bagaimana cara untuk mengatasi permasalahan hati, sudah 4 tahun yang lalu, semestinya sudah masa lalu. Tapi, entah mengapa hati ini belum sembuh.
“ Hana, aku kangen kamu, dulu kita sering pulang sekolah bareng, ke kantin bareng, belajar bareng, sekarang. Sekarang kamu menjauhiku Han, “
Ya tuhann semesta alam. Falah kenapa jadi mellow begini, harusnya aku yang mellow. Disini aku yang tersakiti.
“ Han, kamu jangan diam. Aku udah buang jauh-jauh rasa maluku untuk berkata seperti ini kepadamu “
Kali ini, aku memberanikan diri untuk menatap mata cokelatnya, seperti yang dulu-dulu, matanya teduh penuh kehangatan. Falah menghapus air mataku yang tanpa aku sadari sudah membanjiri pipiku. Aku masih diam tak berkutik.
“ Okay, okay. Aku ga akan maksa kamu untuk kembali lagi seperti dulu. Tapi, setidaknya kasih aku penjelasan apa alasan kamu menjauhiku ? apa latar belakang dari semua ini ? “
“ aku lelah, aku mau pulang. “ aku melepaskan tangan Falah, tapi ia menggenggam tanganku erat.
“ han, please. “ pinta ia lagi,
Aku tidak sanggup lagi, aku ingin menjauh sejauh mungkin dari Falah, ia tidak perlu tau apa alasan aku menjauhinya. Hal ini hanya akan memperumit semuanya.

Cerita 4 tahun yang lalu, seusai UAS semester 4 SMA, aku dan teman-temanku nongkrong di Eazy Coffee, kala itu Tiffany, Andrea, Aca membawa hot news yang katanya akan jadi bahan rumpi. Aku sendiri seseorang yang memiliki kemampuan expertdi bidang good listener. Meskipun begitu, teman-temanku tidak bosan menceritakan curahan hatinya kepadaku, hingga pada akhirnya aku mengetahuinya, Tiffany bercerita tentang kucing peliharaannya yang dicuri oleh tetangganya sendiri, ia menangis setiap melihat kandang kucingnya kosong, setiap sore dia keliling kompleks untuk mencari kucingnya hingga ketemu, saat itu Tiffany menemukan kucingnya sedang main kejar-kejaran bola bersama anak tetangganya. receh? Tidak.
Andrea, dia memberi kabar bahwa gadis yang biasa kita bully sekarang jadi selebgram, dia sering mendapatkan endorse baju-baju wanita yang katanya jaman now, berawal dari bermain tiktok ia berhasil meraup ratusan ribu disetiap postingan endorse-nya. Kira-kira percakapan kita seperti ini.
Andrea            : “ aku ga nyangka bangeeet, dia bisa jadi selebgram “
Aca                  : “ anjir, dia menang putih doang, idung dia masih mancung aku, aku ga bisa terima ini “
Tiffany            : “ dosa besar kamu Aca. Jaga omongan Ca, ckckckc “
Andrea            : “ kalo kita liat potensinya sih, tetep Hana lah yang paling pantes jadi selebgram, liat aja ya, Hana cantik, sering jalan di catwalk, pemotretan apalagi? Makanannya sehari-harinya itu “
Hana                : “ wah ngacoo nih anak, aku kalem wkwkwwk “
Aca                  : “ ya Ampunnn, iyaa Hana. Napa sih han kamu jarang banget apload foto-foto bagus kamu, itu potensi loh ya, yang apload malah fotografernya wkwkw”
Tiffany            : “ apaa aku bantuin apload Han ? aku rela deh jadi manager kamu wkwkw lumayan, bisa aku beli ini kafe kalo sukses ntar”
Hana                : “ aduh makin ngaco kalian semua wwkwkw “
Lembayung senja kian menghilang perlahan, aku yang masih menikmati obrolan bersama teman-temanku pun tenggelam dalam kelegaan, lega akan semua yang telah usai, ujian sekolah dan menyambut liburan ke Bali nanti. namun, bayangan itu semua pecah, pecah berkeping-keping ketika Aca mencurahkan semua isi hatinya. Hanya dengan 4 kata yang mampu menghancurkan sistem penjagaan hatiku.
“ aku menyukai Falah banget “
ucap Aca mampu membuat  semua orang tiba-tiba berhenti ketawa. Aku yang tadinya menikmati coffe late serasa rasanya sampai ke hati. Rasanya empeduku langsung bocor. Pahit semuaaa. Sungguh kenyataan pahit yang harus aku terima. Aku dan sahabatku menyukai orang yang sama. Salah satu dari kita harus mengakui lebih dulu. Aku sudah kalah start meskipun aku dulu yang lebih dekat dengan Falah.
“ Ciyeee. Acaa sudah besar kau nak “ suara Andrea menghancurkan keheningan.
Kesalahan yang terus menerus aku lakukan selama aku lahir hingga sekarang adalah sifatku yang tertutup. Aku tidak bisa mengutarakan apa yang aku rasakan, aku selalu mengalah, aku mencoba untuk selalu tenang dan menyelesaikan semua masalah yang terjadi dengan kemampuan otakku yang hangat tidak dengan hati yang dingin. Tapi, untuk masalah yang satu ini. ini sulit. Sumpaaah. Inginku menenggelamkan diriku ke dalam coffe late ini.

Sudah 4 tahun berlalu, selama itulah aku menahan rasa. Aku melanjutkan sekolahku di luar kota. Di bidang Sastra. Bulan ini aku free jadi aku pulang ke rumah. Di rumah aku suntuk hingga akhirnya aku mendengar suara laki-laki itu memanggil namaku. Mungkin ini jawaban Tuhan semesta alam. Definisi pulang kerumah adalah bukan semata-mata rumah dan segala isinya.
Mulutku enggan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Falah, aku melangkahkan kakiku menjauhinya. Aku pulang ke rumah, ke gedung putih nomor 75. Di seberang kompleks.
“ loh, hana dari mana nak ? “ Tanya Bunda setelah melihatku menutup pintu.
“ Hana dari alun-alun bun, cari udara segar “
“ sini dulu nak, Bunda mau ngobrol “ bunda mendudukan dirinya diatas sofa, tehnya kini sudah bertengger rapi di atas meja.
“ apa bunda ? “
“ setelah bunda memikirkannya, Bunda menawarkan Hana untuk lanjut S2 di Singapura, Hana persiapkan ya. Ini terserah Hana menyetujuinya atau tidak, Bunda hanya memberi kesempatan “ bunda mengutarakannya dengan lantang tanpa ada beban sama sekali.
“ whaaat ? Hana ga ada sama sekali bun kepikiran untuk kesana. Hana belum siap “
Baru saja aku bertemu Falah, tidak mungkin aku memanjangkan space-nya lagi, untuk liburan ini saja, biarlah aku yang hanya melihatnya dari jauh, tapi setidaknya tidak sejauh Singapore Bunda, apakah kali ini aku harus jujur ke Bunda ? apakah aku harus membuka perasaanku agar tersampaikan atau membuka luka lama karena lebih memilih meninggalkan?
Bunda terdiam, beliau menautkan kedua alisnya. Aku tau bunda pasti kaget dengan pernyataanku.
“ Hana “ panggil Bunda
“ iya Bunda “
“ Bunda tau, Hana mempunyai banyak teman disini, pasti Hana belum siap untuk berpisah dengan mereka ya? Tapi menurut bunda ini kesempatan yang tidak bisa orang lain dapatkan secara gampang nak “
Kini bunda menatap mataku, dalam bunda menatapnya..
“ tapi Bun, Hana engga sanggup lagi berjauhan terus-terusan. “
Air mataku yang sudah lama aku tahan, kini keluar dari tempat pertahanan.
“ Hana sudah memiliki pacar ? “ Tanya Bunda menyelisik
“ belum Bunda “
“ lalu, berjauhan dengan siapa nak ? “ Tanya bunda lagi, lebih menyelisik.
“ Falah Bunda “ ucapku kemudian jujur.
Bunda mengusap air mataku, Bunda memelukku hangat. Bunda tidak menenangkanku dengan kata-kata, beliau langsung bereaksi dengan tindakan. Hangat

Kepadamu tuan pemilik hatiku :

Pada senja yang kabur.
Aku ucapkan padamu selamat malam.
Dengan kondisi hati yang usai terbakar
Mata yang tak henti-hentinya terpejam
Meratapi pedihnya penantian kabar
Selama api dalam hati belum padam
Hingga kesabaran yang belum terbayar
Karena cinta dalam hati yang rumit bak belukar
Bagaikan kata-kata yang tiada terbenar
Harapan pun musnah layaknya api dalam damar

Malam ini aku menutup buku diary dengan selembar puisi. Mata dan hatiku berkecamuk di dalam tubuhku, hatiku enggan untuk bertemu mimpi, tiba-tiba jam berdenting cukup keras membuyarkan lamunanku. Jam 12 malam aku masih terjaga. Jika kakiku bisa berbicara ia sudah mengatakan ini : “ bawa aku ke kasur, aku sudah muak dengan kehancuran hatimu “
Mungkin lanjut sekolah di luar negeri adalah satu-satunya obat. Tidak, itu bukan obat. Obat yang ampuh adalah Falah, Ia dalangnya. Falah harus datang padaku membawa cincin dan bunga mawar merah dan bertanya “ will you marry me ? “. Iya itu obatnya. Ah aku melupakan sesuatu. Sahabatku juga mencintai Falah. Jika di dunia ini tidak ada etika dalam sosial. Aku sudah pasti jalang. Aku menyatakan perasaan cintaku tepat setelah Aca berkata “ aku cinta Falah banget “ lalu memanggil Falah. Mungkin saja Falah menyukainya tapi tidak dengan Aca dan kedua temanku.
Hari berganti bulan hingga bulan berganti tahun, sudah berganti berkali-kali. Tapi aku masih tenggelam dalam perasaan yang sama. Perasaan bersalah karena mengabaikan suara hatiku. Andai saja aku menceritakan soal hatiku kepada Falah sebelum aku mengenalkannya kepada ketiga temanku. Andai sajaaa.
Aku melamun lagi, lamunanku pecah setelah hapeku berdering. Panggilan dari Aca.
Aca      : “ kamu masih ngapain Han, kok masih online “
Hana    : “ ga bisa tidur, nunggu sahur sekalian “
Aca      : “ emang puasa ? kamu kan paling ga bisa nahan lapar hahahaha “
Hana    : “ kewajiban bos. Nahan cinta selama 4 tahun aja bisa masa makan gabisa!! “
Hanaaaa bodoh, ngapain bicara se-senewen itu ke Aca. Ah tarik napass, santaii. Bikin Aca ga curiga
Aca      : “ waduh, ngeri ni orang. 4 tahun kamu nahan cinta tanpa ngasih tau ke kita-kita !!! “
Hana    : “ Cinta kepada rasul “
Aca      : “ yang benar aja, cinta rasul itu dari bayi cuy. Pokoknya besok kita bukber kamu harus cerita. Titik!! “
Hana    : “ gaak bakal. Kamu ga kenal Acaa “
Aca      : “ maka dari itu, kenalin dong “
Hana    : “ ga akan, sekarang banyak pelakor, ngeri. “
Aca      : “ tegaa banget ah, ga bakal sahabatmu nikung anjir, seganteng dan setajir apasih dia, eh nahan cinta? Btw definisi dari nahan cinta apa ya ? belum jadian udah takut ditikung. Dasar nyali ciut “
Hana    : “ bodo amat, aku tiba-tiba ngantuk “
Aca      : “ tujuan aku nelpon ini nyuruh kamu tidur, mau nina bobo-in kamu “
Hana    : “ jijik “
           

Cepat-cepat aku tutup telepon dari Aca sebelum kekonyolannya kumat semakin dalam. Sebaiknya aku menerima tawaran dari bunda, aku bisa ambil fast track biar bisa lulus di semester 7 bahkan 6 sekalipun, semakin sibuk aku belajar semakin lupa aku dengan kehinaan ini. pura-pura baik dengan sahabat sendiri yang sama-sama mencintai Falah itu benar-benar menjijikan, munafik dan kejam pada diri sendiri. Mungkin sudah saatnya aku membuka hati kepada orang lain. Move on itu penting buat kesehatan, trust it!

sumber foto : Pinterest

0 komentar:

Posting Komentar