Aku mencintai seseorang
Seseorang insan muda yang jenius nan cerdas
Ia mengikat hatiku yang lemah bak daun yang layu
Ia yang selalu tak lepas oleh pandanganku
Suatu hari..
Ia bernada ana uhibu fillah
Lalu istikharah yang berwarna hijau
Datang dimimpi malamku yang gelap
Cinta itu bersatu karena tuan yang berkehendak
Indah aku menyairkan isi hatiku
Karena ia yang semangat menjalani kehidupan
Aku tak mau kalah dengannya
Seperti orang yang bersaing dalam perlombaan
Mutlaknya..
Dua insan adalah sepasang burung merpati
Berlaga hingga membumbung dilangit tertinggi
Hatiku kini sudah sekuat baja
Namun …
Waktu berjalan tanpa lampu merah
Memeluk prestasi atau cinta ?
cinta itu seakan memudar
Tuan pemilik segala nama
apa yang harus dilakukan?
Dua insan melepaskan tangan sampai diujung jari
Berarti usai sudah sebuah kisah
Aku tersenyum melihat ia melambaikan tangan
Hingga bayangnya tak terjangkau
Pandanganku memudar bagaikan hanya debu yang terlihat
Aku merasakan air yang mengalir deras di pipiku
Semboyanku cinta..
Apakah pantas untuk menangis?
Ketika ia berlambai aku tersenyum
Seperti orang yang benar-benar kuat nan qana’ah
Dan menangis ketika ia telah pergi
Sakitnya itu disini
Di dada yang tidak berdarah merah kehitam-hitaman




Andini masih terpaku dengan pertanyaan ayahnya, ia mengambil hapenya dan sms firman,
Send : firman
 firman, apakah kau tau ayahmu itu sahabat ayahku ?
Andini memandang layar ponselnya tanpa arah seeprti melamun belum juga ada balesan dr firman
Send : firman
firman ?
layar itu tetap sama daritadi berwarna pink dengan tema boneka panda dan wallpaper andini sedang berpose manis dan anggun di bali kemarin ketika liburan bersama temantemannya
send : firman
semoga sibukmu bermakna murni dan semoga sehat selalu
andini sekarang sudah meletakkan ponselnya di samping bantal kasurnya ia sekarang menatap buku kimia yang akan dipelajari besok,
hening.. hanya ada suara goresan pensil dari tangan andini lampu kamar andini mulai remangremang hanya ada lampu didepan kepalanya dan cahaya monitor laptop yang hanya menyala berwarna biru, suara pensil itu perlahan menurun dan benarbenar hening dan sayup hanya sepoisepoi angin yang memburu, tapi lampu itu masih bersinar terang dikepalanya andini, andini meletakkan kepalanya di atas meja dan menelungkupkan tangannya untuk dijadikan bantal, ngantuk, hampir larut memang tapi kepala andini masih banyak berproses namun matanya sudah hampir menutup, andini bertasbih berharap dirinya tenang dan nyaman, ia berjalan melewati lemari berwarna cokelat muda yang ada tempelan foto di pintu lemari andini pelanpelan meletakkkan badannya diranjang dan tetap bertasbih, lampu meja belajar andini masih menyala mungkin pikirannya masih menyala andini teringat mimpinya tentang angsa dan teringat doanya untuk memberikan kekuatan pada kaum yang kurang, andini terlonjak dari ranjangnya bukan karena ingat akan mimpi dan doanya tapi kehadiran sosok yang dikenali oleh andini dengan remangremang andini melihatnya bukan takut kerana seperti hantu tapi takut akan kelakuannya yang diamdiam masuk tanpa ketuk pintu dan bersuara, andini menatap tajam bayangbanyag itu
“belum tidur kan dinda ? “ bisikbisik kak andi bernada
“ apa yang kak andi lakuin ? “
“ aku yakin kau belum tidur kan, aku khaawatir dinda atas pertanyaannya ayah tadi?” kak andi sambil menyalakan lampu kamar
“ em, iya kak, aku kepeikiran tentang itu “ adinda hanya menunduk
“ ehm,  dinda purapura aja ngga tau ya, sebenarnya kau harusnya bahagia adinda “ kak andi sekarang memunculkan senyumnya yang tadi disembunyikan
“ maksut kakak ? “ Tanya adinda dengan mengernyitkan dahi
“ sebenaranya “ kak andi dengan bikin penasaran
“ apa kak “ adinda sekarang menatap kak andi
“ kau dijodohkan dengan firman “
“ hehehe, udah malem mungkin kakak tadi kesini ngelindur kali ya, udah ah kak aku mau tidur “
“ eh bentar dong adinda, aku serius “ sembil menarik tangan adinda yang siap meluncurkan tubuhnya ke rangjang
“ serius kak ? “ sekarang adinda serius bertanya dan mekin tajam menatap kak andi, tapi posisinya andini yang ngga jadi meluncur ke ranjang itu lucu banget :D
“ yaelah, anak ini ngga percaya, beneran lah “
“ coba jelaskan agar aku bisa percaya “ tukas andini yang makin ngga percaya
“ aduh dinda, gini ya sekarang kita hubungkan antara logic dan penalaran, ayah kita dan ayhnya firman sahabat di SMA, firman dan kamu kebetulan juga dekat, dan tadi ayh tibatiba menanyakan hal seperti itu kan din “ jelas kak andi
“ kakak, benaran deh kakak ngelindur, itu ma berdasarkan yang difikiran kakak aja kan, belum fakta kak “ jawab andini
“ klo kakak ngelindur kamu cubit deh kakak pasti sakit, aku yakin gitu dinda “ jelas kakak secara paksa
 udah deh kak “ andini memasukkan dirinya didalam selimut
“ adinda “ pinta kak andi
“ nicedream kakak “ suara andini dari dalam selimut

suasana restoran di pusat kota semakin ramai ditambah lagi waktu sudah menjadi bukti bisu laparnya para pegawai yang sedang menikmati makan siangnya “ hallo pak, lama tidak berjumpa “ sapa seoarang lelaki yang sebaya dengan pak danang beliau menyalami pak danang dan duduk join dimeja pak danang.
“ ohh pak adi, hai apa kabar “ jawab pak danang dengan tenang dan ramah
“ semakin baik apalagi bertemu denganmu “ jawab pak adi dengan bergurau
“ hahaha bisa saja, ohya aku dengar firman udah mau lulus SMA, mau lanjtu di PTN mana nanti “ Tanya pak danang
“ entahlah, firman anaknya bandel banyak sekali yang disukainya, saya hampir bingung mau masukin firman kemana “ jawab pak adi dan seperti mengeluh pada pak danang
“ wah, firman memang orang yang gampang menikmati pekerjaan, dimasukkan saja ke PTN yang sesuai dengan bakatnya “ pinta pak danang
“ seharusnya begitu, malahan ya, kemarin saya Tanya masuk di PTN mana, jawabnya begini ehm aku masih ingin menyelesaikan sesuatu disini yah dan ayah nanti akan tau dan semoga ayah bahagia dengan apa yang aku lakukan “ ujar pak adi sambil memperaktikan bcaranya firman yang santun
“ bagaimana klo kau ada di posisiku ? “ tany pak adi lagi
“ hahaha, benarbenar dewasa firman itu “  jawab pak danang dengan tertawa
“ aku menyukai kelakuan firmana yang seperti ibunya, ibunya juga ulet dalam menangani berbagai hal, hal itu lah yang membuatku kesulitan mendapatkan ibunya firman “ ujar pak adi
“ hahaha, semoga firman cepat menemukan apa tujuan yang dilakukannya ya “
Jawab pak danang
“ itulah yang aku tunggu, bulan depan UNAS udah datang, semakin khawatir saja aku padanya “
“ doakan saja pak, hanya doa dan melakukan yang terbaik untuk anakanak kita” jawab pak adi
“ oya, kau juga punya anak yang bernama andini ya, usia berapa dia ? “ Tanya pak adi
“ andini masih 17th, dia juga seperti firman hanya saja firman kau sekolahkan dulu, “ jawab pak danang tenang
“ aku juga mengira bahwa firman dan andini itu hampir persis wataknya “ celoteh pak adi yang memperpanjang dialog antara mereka
“ bagaimana kau bisa kenal andini pak adi ? andini saja tidak mengerti kau ayahnya firman “ Tanya pak danang
“ firman lah yang selalu menceritakan andini padaku, kau tak usah khawatir begitu, anakku sangat memahami anakmu lebih dari kau hahaahaha “ jawab pak adi dan terbahak
“ apa janganjangan “ pak danang dengan heran
“ ya allah, kau tak tau apa, anak kau dan anakku itu begitu “ ujar pak adi dengan tenang
“ maksutnya begitu ?“ Tanya pak danang
“ ya seperti anakanak remaja lainnya “ jawab pak adi dengan menernyutkan dahinya
“ apakah benar ? kau tau dari firman bicara sendiri ? “ Tanya pak danang tidak percaya
“ ya menurut pandanganku, kau tau lah bagaimana dulu kau mencintai dan mencerritakan ibunnya andini pada ayahmu dulu, itulah yang aku rasakan , aku sangat menyetujui bahwa pandanganku ini benar dan kita besan untuk nantinya” jawab pak adi dengan panjang lebar
“ hahaha kau ini masih tetap seperti dulu “ jawab pak danang yang sekarang udah mulai tenang
Sayupsayup canda antara pak adi dan pak danang semakin hening ya karena mereka mulai menyantap makanannya yang sudh siap dilahap setelah makan bersama mereka saling undurdiri dengan berjabat tangan dan saling berucap salam.