Sudah pagi. Bunda memberikan secangkir teh untuk mas Alan. Mas Alan sedang membaca Koran di depan rumah. Dia sedang membaca rubrik yang berisi sarcasm. Bupati yang sudah berkecukupan tapi masih saja celaka. Ia akhirnya dibawa ke Jakarta. Lalu di rubric itu tertulis highlight  “ sederhana saja, asal lurus dijalannya Allah”.
“ mas Alan. Baca berita apa? Kok ndak merhatiin bunda duduk disini dari tadi loh “ ujar bunda selagi minta perhatian ke anak sulungnya.
“ aku tau bunda ada disitu kok. Hehehehe, dasar bunda caper 
Mereka berdua tersenyum bersama, seorang ibu yang menemani anaknya membaca Koran di pagi hari. Jika bisa digambarkan dengan lukisan, mungkin orang-orang akan melihatnya terkesan sederhana dan bahagia. Dengan secangkir teh di tangan kanan anaknya, sesekali anaknya meneguk dan merasakan hangatnya. Seorang gadis manis muncul dari balik pintu, ia mengenakan rok panjang berwarna putih dan kemeja hitam bermotif bunga mawar yang menutupi lengannya. Ditambah kerudung Saudi berwarna merah. Paket lengkap syar’i. Ziana, ia duduk di mas Alan. Wajah Zia terlihat lesu dan pucat.  Cara berjalannya pun pincang.
“ aku bisa jalan normal lagi kapan ya Bun?” Zia bertanya kepada Bundanya.
“ sini-sini Bunda tiupin dengan ucapan Basmallah “
Bunda menarik kaki kiri Zia, lalu Bunda
“ Bismillahirrahmannirahim, Bunda berharap kaki Zia cepat sembuh karena bunda rindu cerianya Ziana, anak bunda yang paling cantik ini “
“ iyaaa lah Bun. Anak bunda yang perempuan kan hanya Zia “ sahut mas Alan.
“ hehehehehe, mas Alan loh ya cantik aslinya, kalau pakai kerudung. Xixi. Mas, Zia ingin bialng sesuatu ke Bunda, eh Zia bilang langsung aja deh, gini bun anak perempuannya Bunda yang baru saja kena sengatan kalajengking ini lapar bun, “ ujar Zia panjang dan tidak efektif.
“ dek, kamu ini yang tersengat kakinya kan? Bukan kepalanya kan? Kalimatmu loh dek. Hemat kata dek, hemaaaat “ sahut mas Alan menyeringai.
“ hehehe, Zia hanya ingin pagi Zia rame mas, Zia tidak suka kesunyian “ Zia memang seperti itu anaknya.
“ mau bakar sampah sama mas gak ? “ tantang mas Alan.
“ dengan kaki Zia yang seperti ini “ ujar Zia dengan sedikir kesal
“ sudah-sudah, intinya Ziana lapar gitu kan? “ ujar Bunda kemudian menengahi. Bunda menurunkan kaki ke Ziana. Bunda dan Ziana ke dapur untuk sarapan bersama.
            “ ayah, udah selesai joggingnya? “ Tanya mas Alan. Ia menyambut kedatangannya di depan rumah. Ia meletakkan korannya. Ia mengalihkan pandangannya ke ayah, menatapnya.
Ayah memakai sweater nike putih dan celana training hitam. Sneaker ayah terlihat kotor terkena tanah liat. “ ayah tadi jogging di makam cina ? “ Tanya mas Alan lagi.
“ ya, tapi hanya 10 putaran, jalannya kotor dan sepi “ ayah menjawab pertanyaan mas Alan pelan lalu mengatur pernafasannya.
“ ayah minta tehnya mas “ pinta ayah kemudian.
Mas alan menuangkan teh ke cangkir, lalu memberikannya ke ayah.
“ ahh, pagi ini badan ayah segar sekali, mas kamu tau ga? Kenapa teh ini mampu membuat ayah makin merasa fresh dan tenang begini ? “ mas alan mendengar pertanyaan ayah lalu mengernyitkan kedua alisnya.
“ kenapa mas coba ? “ Tanya ayah lagi.
“ emm karena ini buatan bunda ? “ jawab mas Alan asal.
“ ya. Tepat sekali. Seberat apapun bebannya ayah, ayah selalu tenang kalau meminum teh ini “
“ ayah lagi banyak beban ya yah ? “ mas alan tiba-tiba saja bertanya seperti itu.
“ ya, ayah punya beban yang sangat berat. Hamper saja ayah menyerah “ jawab ayah dengan tegar.
“ apa yah ? “
“ emmmm, beban menunggu kedatangan cucu darimu. Hahahahaha “ jawab ayah sembari mengakak.
“ sarcasm yah. hentikan wkwkkw “ pinta mas Alan.
“ mas, kamu itu sudah waktunya menikah, tapi sampai saat ini. Kamu masih saja jomblo. Istikharah nak, minta petunjuk Allah. Agar didekatkan jodohnya. Ayah berharap banyak sama kamu mas “
Tiba-tiba saja perbincangan ini menjadi serius. Mas Alan hanya mengiyakan setiap ucapan ayah. Tetap. Setiap mereka mengobrol pasti penutupannya soal jodoh. Benar memang, mas Alan sudah waktunya untuk bertemu jodohnya. Sudah lulus s2 dari ITB. Cum laude pula.


(Pict by Pinterest)


Ziana, gadis yang dari lahir tinggal di lingkungan pesantren. Ia menoleh ke luar jendela ternyata matahari sudah menenggelamkan wajahnya, menandakan ia harus segera mengambil air wudlu dan pergi ke masjid. Masjid yang dituju Ziana tidak pernah ditinggal keramaian. Ia segera mempercepat langkahnya. Ya, shaf pertama di pojok kanan depan lah yang diincar Ziana. Ziana mengikuti kebiasaan ayahnya, “ ayah kenapa sih yah? kok suka di depan kalo sholat? “ Tanya Ziana.
“ karena ayah suka. Hehe, Ziana tau ga? Allah dan para malaikatnya bershalawat kepada orang-orang yang berada di shaf depan? “ jawaban ayah begitu.
“ziana baru dengar kali ini yah, eh tapi kok berasa De Javu ya yah?” Ziana heran,
“ hmm, pelajaran Aqidah Akhlaq ketika di Madrasah Ibtidaiyah sayang” jawab ayah sambil mengingatkan.
Ia senyum-senyum sendiri ketika mengingat kenangan yang sangat asyik bersama ayahnya. tidak lama kemudian ia sudah sampai di masjid. Ziana tidak dapat shaf di depan Karena hari ini hari Ziana dan teman-temannya berkumpul semua di masjid. Masjid Jami’. Teman-teman Ziana berasal dari berbagai kota. Adinda dari Solo, ia adalah teman terdekat Ziana. Pernah, saat liburan tiba. Adinda memutuskan untuk menginap di rumah Ziana. Rumah Ziana berdekatan dengan pesantren mereka. Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif. Lokasinya berada di Desa Denanyar, Jombang. Adinda dan Ziana berada di 1 asrama, Asrama putri NK 3.
“ Zi aku tidur bawah lo gpp “ Adinda berkata sambil memegang pundak Ziana yang sedang membersihkan kamarnya.
“ heeeei, jangan gitu. Aku sudah memimpikan jauh-jauh hari kamu akan menginap dirumahku suatu hari nanti, sekarang terjadi hari ini “ hehehe Ziana tertawa sembari melepaskan tangan Adinda.
“ terimakasih lo ya Zi, maaf juga sebelumnya. aku takut merepotkanmu dan keluargamu “
“ kamu pasti akan merepotkanku Adinda “ Ziana tertawa lalu memeluknya.
“ maaf Zi, heheehehe ”
            Pertemanan mereka berdua sangat hangat, disaat Ziana kesulitan di Asrama, Adinda membantuunya, disaat Ziana melakukan kesalahan Adinda mengingatkannya, begitu sebaliknya. Mereka seperti dua bunga mawar yang sedang tumbuh untuk mekar disuatu saat nanti. mawar itu memiliki duri untuk melindungi dirinya, Adinda dan Ziana memiliki Al-quran untuk melindungi diri mereka dari berbuat kesalahan. Setiap selesai jamah subuh mereka membaca surat yasin bersama. Suatu malam Ziana mendapat pesan dari ndalem. Yang isinya :
Neng Ziana, besok pagi mbah, umi dan abah berangkat ke Solo. Katanya Bunda, ada teman neng yang gabisa pulang. Barangkali bisa bareng kesana. Jam 9.
            Ziana terkejut menerima SMS diatas, ia tidak ingin Adinda kembali pulang ke Solo dengan cepat. Tapi tidak, tidak boleh. Ziana tidak seegois itu. Ziana menyampaikannya ke Adinda.
“ ya Allah, Alhamdulillah Zi, jadi aku tidak merepotkan kamu terus-terusan hehehehe “
“ yaaaah. Kamu sangat merepotkan “ ucap Ziana ketus. Ia sedih melihat temannya akan balik, padahal baru 3 hari ia menginap dirumahnya. Selama 3 hari mereka hanya bepergian ke wisata sejarah Mojokerto, pada saat di Budha Tidur mereka menyadari 1 hal. Meskipun berbeda keyakinan dan budaya, tapi sejauh ini masyarakat di sekitar kita damai. Tidak terjadi hal-hal yang buruk. Itu artinya: tempat ini sangat mengesankan.
            Di jalan ketika pulang, Ziana melihat kembali hasil foto-foto dari jepretan kameranya Adinda. Semua foto yang diambil Adinda selalu bagus, katanya ia ingin menjadi seorang fotografi handal. Ziana masih ingin mengajak Adinda ke Wonosalam, tapi besok Adinda berangkat ke Solo. Ziana harus berbesar hati untuk menerimanya. Lihatlah.. Adinda sangat bersemangat mengemasi barang-barangnya.
             Malam ini, malam yang sangat panjang menurut Ziana, ia tidak bisa tidur. Ia memikirkan hal-hal yang akan terjadi besok. Seakan-akan besok akan ada hal besar yang terjadi. Ziana memejamkan matanya. Ia berdoa pelan sebelum tidur, Ø¨ِسْÙ…ِÙƒَ اللّÙ‡ُÙ…َّ اَØ­ْÙŠَا Ùˆَ بِسْÙ…ِÙƒَ اَÙ…ُÙˆْتُ
Hanya Allah yang memberi kehidupan, hanya Allah yang mengijinkan untuk bangun kembali, lalu ia melihat kearah Adinda, Adinda sudah pulas sekali. Ziana yakin, Ziana pasti bisa melewati libur panjangnya dirumah. Tidak apa-apa. Adinda pulang ke Solo. Mas Alan juga masih di rumah, Ziana berharap mas Alan sebagai kakak kandungnya bersedia menemani Ziana kemana pun Ziana ingin pergi.
            Pagi pun datang dengan segenggam kepercayaan kepada diri. Matahari akan muncul dengan segenggam kehangatan kebesaranNya. Allah, Engkau maha adil. Ziana bangun dari tidurnya dengan tepat waktu, sholat shubuh. Ziana keluar dari kamarnya.. langkah Ziana sudah berhenti di depan Masjid. Setelah subuhan, Ziana mengambil Al-quran. Ayat demi ayat telah ia lantunkan, hingga tiba waktu Dhuha, ia menyelesaikan muroja’ahnya. Ziana mengambil wudlu lagi untuk sholat Dhuha’.
            Tiba waktunya jam setengah 8 pagi, langkah Ziana tidak lurus menuju rumah. Ia langsung ke rumah paman, yang anaknya kemarin kirim sms ke Ziana. Disana sudah ada Rahman. Nama anaknya yang terakhir. Pamannya Ziana adalah pengasuh Pondok tempat ia belajar dan menyantri. Sedangkan ayah Ziana seorang pengusaha muslim yang menjalankan bisnisnya. Ia menjadi CEO di S&G group. Perusahaan terbesar yang ada di Jombang. Sedangkan bunda Ziana mengelola mall yang baru di bangun di Jombang juga.
“ Mas Rahman “ panggil Ziana kepada Rahman.
“ eh Zia kenapa disini? Habis darimana? Loh mana temannya? Kok sendirian? “
“ Zia dari Masjid. Teman Zia subuhan dirumah karena packingnya belum selesai dan semalem sudah kelelahan, mas sebenernya Zia ga ingin temannya Zia pulang. “ Ziana bicara ke Mas Rahman, seolah-olah ia memohon untuk mencabut kembali tawarannya semalem.
“ yahhh, Zii Zii, sifat manja Zia itu belum bisa hilang ya, udah kelas 11 Madrasah Aliyah loh ini. gini aja, Zia ibaratkan yang tidak bisa pulang kerumah itu Zia. Zia rindu kan? Katanya Dilan, Rindu itu berat loh Zi, terus ada tumpangan gratis bisa pulang ke rumah. Zia senang ga? “ mas Rahman emang kakak sepupu yang paling bijak.
“ iya mas, Zia paham. Yauda Zia pamit deh. Laper mas “ dan Ziana adalah adek sepupu yang paling kekanak-kanakan. Padahal umurnya sudah menginjak 18 tahun.
            Di sepanjang perjalanan, Ziana berpikir. Ia intropeksi diri. Akhirnya ia sadar. Zia kembali ke keyakinannya semalam. “ adik, masyaallah kok baru balik, itu Adinda sudah menunggu kamu dik, masyaallah “ suara bunda terdengar dari jendela ruang tamu hingga menyusul Ziana di halaman rumah.
“ tadi bertemu sebentar sama mas rahman bun “ ujar Ziana singkat.
“ makan dulu habis ini, lalu mengantar Adinda ke rumah mas Rahman lagi ya, “ perintah bunda yang diakhiri dengan anggukan Ziana.
            Di meja makan, Ziana menghampiri Adinda. “ makan yang banyak kamu Din, biar sehat sampai dirumah. Biar umi dan abah kamu tidak menyesal mengijinkan anaknya liburan disini sembari menunggu umi dan abahmu balik dari Mesir. Haha”
“ hahaha, iya nih Zi, btw, Zia makasih yaaa. Aku ga tau kalau misal aku kemarin di Asrama sendirian hehe, umi tadi sms katanya sih udah landed di Bandara Adisumarno, tadi sih mau jemput aku kesini, tapi aku menolak karena aku sungkan jika menolak tawaran dari Gus. Hehehe “ ujar Adinda.
“ ah kamu Din. Udah habisin hehehe, nanti aku ga akan kangen kamu kok” ujar Ziana sembari menyendok sarapannya.
            Setelah itu mereka berdua jalan kaki menuju rumah paman Ziana.
“ Ziana, kamu baik-baik ya disini, 2 minggu lagi kan kita bertemu lagi “ ujar Adinda.
“ kamu tuh Din, yang baik-baik dijalan. Hati-hati. Selama 2 minggu kedepan. Jangan rindu, kata mas Rahman. Rindu itu berat “ jawab Ziana sambil tertawa.
“ yang ada Dilan kali Ziiii, yg bilang gitu. Hehehe”
Duuk. “ awwwwwwwwww… “ teriak Ziana tiba-tiba lalu ia terjatuh.
“ eh Zia kamu kenapa? “ Tanya Adinda kuatir.
“ ini ada sesuatu yang menyakiti kakiku, emh seperti ketusuk sesuatu, tapi bergerak-gerak “jelas Ziana sambil menahan rasa sakit.
“ coba lepas kaos kakimu Zi “ pinta Adinda.
Zia melepas sepatu dan kaos kakinya. Astaghfirullah. Seekor kalajengking melengkung horror di jahitan kaos kaki Ziana “ ya ampun Ziiiii. Kalajengking Zii “ pekik Adinda




(pict by Pinterest)

Waktu seperti berjalan di atas gurun pasir yang panas dan gersang, jika waktu itu berhenti kematian lah yang menggantikan waktu, waktu itu mati dan berhenti, mati tidak mengenal waktu, kesadaran diri bersandarkan kenormalan jiwa, dan hati yang baik akan mengenalkan insan kepada adanya Tuhan, Tuhan yang tidak genap, tuhan lah yang memberi, hidup, mati, dan rezeki, tapi semua itu adalah misteri hanya tuhan yang tahu, tetapi kasih sayang, tidak termasuk misteri, semua tahu kasih sayang dan merasakannya hanya saja belum saatnya aku mengerti rasa kasih sayang itu dari orangtuaku sendiri, mungkin suatu saat. Akankah Saga melakukan itu padaku, memberiku kasih sayang yang tulus, menurutku tidak mungkin, karena kesan pertama kemarin saja sudah buruk.
Aku tidak mungkin bisa bicara dengan dia lagi.
Hari minggu ketika semua berkumpul dengan keluarganya aku mungkin hanya akan bertemu dengan pak Parjo dan mbok Sri,
“ non, mau di masakin apa hari ini “ tuh kan, hanya mbok sri yang selalu peduli sama aku
“ sambal aja mbok “ jawabku asal
“ loh non, kok sambal“
“ terserah mbok Sri aja “
“ mbok masakin ayam kremes ya non “ jawab mbok Sri semangat
“ hmm “ aku ke kamar langsung pejamin mata, aku berharap tidak ada yang datang kerumah hari ini,
“ nonn “ suara mbok Sri dari luar kamar,
“ Nesa ngga mau diganggu “
“ tapi ada tamu non, “
“ hmm “ aku mendapati Saga, iya. Saga seorang yang paling menyebalkan berani-beraninya ia datang kerumahku.
“ kamu ngapain kesini ? tau alamat rumahku darimana ? “
“ aku kesini untuk minta maaf, Dita yang kasih tau alamat kamu, berikan aku kesempatan buat ngenalin diri ya “
“ hmm “
“ namaku Saga Rahardian, aku lahir di Surabaya tangal 24 bulan Agustus tahun 1996, aku dari kecil suka main gitar dan bernyanyi, mami orang asli Indonesia dan dady asli orang Aussie, aku pindah ke Indonesia karena aku milih ikut sama mami, orangtuaku udah cerai, aku mulai tertarik sama kamu waktu aku pertama kali melihatmu bersama orangtuamu pergi ke tempat swalayan terkenal di surabaya, sebenarnya kita dulu berada di restoran yang sama, aku mencoba mengingatmu dan memastikan bahwa kamu lah gadis pertama yang aku perhatikan waktu kita tes masuk sekolah yang pertama, setelah aku kesulitan mendekatimu karena sikapmu yang cuek aku mencoba mendekatkan diri melalui akun twitter, sejak itu aku sering menceritakan apa yang aku rasain terhadapmu di tweet, maaf, aku selama ini udah buat kamu merasa terganggu “ jelasnya
 Aku hanya terpana mendengarkan penjelasannya,
“ hm “ nesa~ kamu hanya bilang ke dia gitu aja
“ yaudah aku pulang “
“iya” aku menatap matanya, sangat indah. Kali ini terlihat tulus tapi  dia sudah berjalan keluar.
Aku capek, aku capek, aku capek
aku menggerutu sendiri dalam hatiku, aku berjalan sambil setengah merem ke kamar
Sampai di kamar, aku tulis pakai huruf besar-besar agar mbok Sri bisa membacanya
 “jangan bangunin sebelum aku bangun sendiri “ aku taruh di samping bantal aku langsung tengkurap.
Saat ini yang aku rasakan hanya sepi sunyi tidak ada suara sama sekali, aku terlelap melebihi lelapnya Bernard yang lagi hibernate di kutup sana.
“Parjo, ini non kok selimutnya ditutupi rapet ? “
“ lho mbok, saya ndak tau apa2, telpon nyonya mbok ? “
“ kamu aja to jo, mbok yang urusi non “
Rame sekali, apa sih mbok ? aku hanya gerakkin kakiku ke atas
          “non, sudah siang non “ terasa sekali mbok Sri bangunin membangunkanku dengan tangannya yang dingin, di elus-elus kakiku
          “ aku lagi tidur mbok “ pelan aku bicara
          “ mbok, nyinya bilang disuruh bangunin pakai disiram air “ suara pak Parjo seperti orang yang kemalingan,
          “ apa ?? “ aku bicara keras semampuku
          “ eh non, bangun “ dengan polosnya pak Parjo cengar-cengir
          “ anu non mbok Sri sama pak Parjo khawatir non kenapa-kenapa, Alhamdulillah non hanya tidur “ mbok Sri ternyata beneran khawatirnya.
          “ iya non begitu “ pak Parjo
          “ ya Allahh mbokkk, aku tidurr “
          “ tapi sudah jam set7 non “
          ” ha  apa ? “
          Aku langsung lari ke kamar mandi, setelah itu aku memakai seragam  dan berangkat ke sekolah. Oh ya aku tadi tidak mandi, hanya sikat gigi dan cuci muka saja. Bodoh sekali ya aku, memang aku tidak memiliki orang tua yang peduli, tapi setidaknya. Aku punya tanggung jawab untuk tidak membuat orang tuaku malu.
Sampai di gerbang sekolah, aku menengok ke kiri dan ke kanan. Tidak ada murid satu pun yang datang hari ini. banyak sepasang mata yang melihatku aneh. Aku ingat-ingat. Apa karena aku kelihatan banget kalau tadi berangkat tidak mandi ya. “ satpamnya mana ya kok tidak jaga ya hari ini? “
Pikirku. Lama aku berpikir. Hingga aku putuskan untuk membeli es tebu.
“ buk 1 ya “
“ mbak, ada acara ya disekolah? “
“ enggak kok buk. Tapi iyaya, tapi kenapa sepi sekali ya buk? “
“ loh, mbak. Sekarang kan hari minggu. Saya kira mbak ada acara, jadi mbak menunggu teman-teman mbak yang lainnya “ sambil ibuk itu memberikan 1 plastik es tebu kepadaku.
Aku memberinya uang lima ribu ke ibuknya “ kembaliannya buat ibuk saja”
AKU BODOH.
Kenapa aku bodoh sekali. Aku berjalan menyusuri jalanan yang sepi. Untung sepi. Aku langsung mempercepat jalanku agar bisa segera sampai rumah. Aku ingat tadi, pakaian yang dipakai Saga kerumahku tadi, pakaian olahraga lengkap. Dengan sepatu adidas miliknya. Baik, sudah jelas sekali dia mengikuti car free day hari ini. tadi berangkat dari rumah juga tidak ada mobil yang lewat. Kenapa aku bisa sebodoh ini. lalu apa peran mbok Sri dan pak Parjo tadi? Kenapa tidak mengingatkanku?

(Pic by Pinterest)




“lalu.. kalian meninggalkanku di uks sendiri ?“

“ya bukan maksud gitu , tapi Saga yang meminta kita ke kelas“

“ini adalah hari yang buruk, di UKS aku ditakuti sama dia, aku mengira ada  siluman, lalu aku memeluknya, sepanjang koridor aku memikirkan siapa namanya, aku sangat salah tingkah karena matanya indah, ah ternyata Basilisk itu si dia, Saga” entah apa yang membuatku bisa bicara seperti ini. Sekarang Lala dan Dita tidak kepo lagi dan tidak seheboh tadi.

apa aku terlalu se-dramatis ini??

“tapi Nes.. “ Lala mulai bicara.

“meskipun tweetnya indah sepuitis Sapardi Djoko Damono, aku tidak kagum sama sekali, dia telah membuatku berhadapan dengan bu Rania“ aku marah

“itu Nes. dibela.. bla .. “ gerangan apa yang membuat Dita gugup.

“apaan sih, kalian kenapa? ada hantu ? tidak ada kan, biasa ajalah“ tapi jujur aku jadi ikut gemetaran sekarang.


Ada tangan dibayangan aku melihat bayangan dari sinar matahari yang ada di belakangku tangan yang besar tapi berwarna hitam abu-abu, tuhan… tolong aku, ini hantu kah? Dita kenapa kalian diamm, tangan  itu meraih pundakku. 

Aku sudah merangkul Lala sekarang.


“Nesa kamu kenapa, aku bukan hantu Nesa“ yeah~ suara cowok.

“ hahaha Nesa itu Saga, kamu takut banget sama hantu “ Dita ngakak sekali


Oh thank you god, 


“  kamu? Kamu yang namanya Saga ? “

nesa kenapa kamu tanya? Sumpah ini salah tingkah tingkat dewa, saga benar-benar cakep, keren, tinggi, dan putih.

Lala yang sedaritadi terdiam heran tiba-tiba berbicara “ Nes, kamu have fun ya, aku sama dita balik yaaa “

“ Lala, aku pulang sama kamu “


tuhan ini menjatuhkan banget


“ sorry Nes, Saga sudah menunggumu “ Dita senyumnya puas banget  

Raja sinar yang berada di puncak, pohon yang tegak menyambut jalannya 2 insan di karpet putih, seperti menggunakan gaun putih dan jas hitam ditemani bunga mawar merah yang indah,dan Jalanan yang ramai ditemani angin bersepoi-sepoi, dunia ini memang sempit,


“ Nesa, kamu kenapa? ” Saga manyadari lamunanku

“  kenapa tweet kamu begitu dan puisi di madding, terus apalagi? Foto aku. Kamu harusnya ijin sama aku dulu bukan langsung seenaknya kamu aja gitu, aku ingin pulang, anterin “


Kenapa aku jadi sok kenal ?? minta anter segala~


“ iya.. iya tapi sebelumnya, maafin aku ya , maaf banget. Aku kira semua cewek suka “ Saga gugup

          “ah tidak, tidak. Kamu salah, gara-gara kamu aku dimarahi bu Rania dan awas aja kamu belum isi absenku di uks tadi “

“ udah kok “ jawabnya gampang

“ aku mau turun, minggir sekarang “

“ Nesa apalagi! kamu marah sama aku ? “


Iya  lah, anak ini hanya depannya saja yang cakep !


“ minggir sekarang “ pintaku

“ maafin aku lah Nes, aku pakai cara itu untuk bisa mengenal kamu, setelah ini aku akan mencoba untuk menjadi yang terbaik. Aku sudah sering cari perhatianmu dikelas, di kantin, tapi sekalipun kamu tidak melirikku “ jelas saga

“ bukankah untuk menjadi yang terbaik harus selalu melakukan yg terbaik? Tidak perlu mencoba untuk melakukan yang terbaik. Tapi selaluuu melakukannya. Lalu, aku belum kenal kamu, seharusnya kamu perkenalan dulu diri kamu, tidak seperti teroris gini “ aku cemberut sekarang.

“ please Nes, aku salah, aku minta maaf, alasanku seperti ini karna aku mencintaimu sejak tes masuk di sekolah ini, tiap hari aku selalu memperhatikanmu “ ucapnya lagi.


“ cukup, penjelasanmu sangat cukup, tapi aku baru saja mengenalmu jadi tidak mungkin aku bisa lagsung jatuh cinta padamu, minggir sekarang “

Saga akhirnya minggir ke tepi jalan dan membukakan pintu mobil untukku,

“ yakin berhenti disini ? “

“ yakin “

Lihatlah, Saga menurunkan aku di pinggir jalan. Gilaa. Dasar modal tampan doing. Sama perempuan dia tidak sopan. Kalau memang ia ingin menjadi yang terbaik. Dia tidak akan menurunkan perempuan di pinggir jalan seperti ini.

Tidak lama kemudian mobilku datang. Memang pak Parjo yang terbaik.

****

          Rumah sederhana dengan cat tembok warna  putih berlantai 2 ditengah-tengah keramaian kota menjadikan letak rumah itu termasuk lokasi yang strategis, di samping taman kota dan di depan terdapat sebuah swalayan modern, perlahan mobil Jazz merah mendekati rumah tersebut. Gerbang kuning keemasan yang dari tadi didiamkan sekarang telah dibuka oleh satpam hingga mobil Jazz merah tersebut memasuki halaman rumah. Ia melewati taman bunga mawar dan kolam ikan emas yang di atasnya dibangun jembatan di pinggir-pinggir jembatan ditanami bunga-bunga mawar merah yang berumpun, sekilas rumah itu mirip seperti kebun bunga mawar merah, mobil yang telah ditelan garasi lalu keluar sosok yang tinggi dan ramping, seorang wanita dari mobil tersebut dengan rambutnya yang terguntai, terlihat manis dengan baju berwarna abu-abu dipasangkan bersama rok sepanjang mata kaki berwarna putih dan sepatu vans yang terlihat anggun berwarna biru dan menggendong tas berwarna biru dan ia bersama pasangannya, sepasang suami istri yang super sibuk sampai anaknya dilupakan hanya di beri fasilitas rumah dan uang tanpa kasih sayang sepenuhnya,
Lama aku melamun, kepaalaku aku sandarkan ke jendela mobil, aku bilang ke supir agar tidak masuk rumah itu sebelum orang tuaku pulang, supir yang sudah lama aku suruh masuk duluan ke rumah sekarang beliau sudah kembali dan berkata
“ nyonya sudah pulang non “

“ baik, biar aku saja yang bawa mobil kerumah pak “

“ tapi, nyonya tidak mengijinkan menyetir sendiri “

“ aku hanya ingin tahu apa ibu masih peduli sama aku atau tidak “


Sebelum pak Parjo berkata untuk protes lagi aku sudah memasukkan gigi 2 sebelumnya lalu aku menancap gas dan masuk rumah, sepi yang aku dapati, aku langsung ke kamar ternyata di ruang tamu ibuku melototiku dengan pandangan curiga
“ kenapa ibu menatapku seperti itu ? “ ibuku hanya melirikku

“ yaudah nesa pulang “ aku langsung nyelonong

“ hei aturan darimana seperti itu, anda tidak sadar berurusan dengan siapa? pulang bawa mobil sendiri, masuk rumah tidak salam, tidak cium tangan ibu ? mana pak Parjo ?“
tuh kan pertanyaan mana yang aku jawab duluan

“ maaf, Nesa capek “

“ capek, setelah melakukan apa ? kerja cari uang ?“

“ Nesa sekolah juga mikir, butuh semangat dan motivasi, Nesa tidak butuh uang yang menghilangkan kasih dan sayang “

“ tanpa uang kamu tidak bisa sekolah “

“ bisa saja dapat beasiswa “

“ kamu tidak sejenius yang kamu kira, matematika dapat C.”
“ karena ibu tidak peduli padaku “ ucapku sesak.
“ cukup, sekarang kamu masuk kamar dan siap-siap makan siang“

“ makan siang saja sendiri “ aku langsung ke kamar

“ Nesa “ ibuku bernafas besar

“ Nesa ingin sendiri“

“ nanti malam ikut ibu dan ayah makan malam, ada yang mau ibu kenalin ke kamu “

“ Nesa mau istirahat bu “ ucapku pelan
“ kalau begitu lusa “

“ hm “

 Ibu memang selalu egois sejak aku lahir. Mungkin sejak sebelum aku lahir.