“ Aduh pusing, “
“ Judulku nanti gimana ya? “
“ Wah, teman-temanku sudah mengajukan judul “
“ Emang bisaku cuma segini doang “
“ Yah aku mah bisa apa “

Batinku bicara pada jiwaku yang sepertinya sudah menjadi sahabat sejak dilahirkan.
Lemah, satu kata yang berisi lima huruf tapi mematikan jiwaku.

“ Aku harus bagaimana ? “

Masih dengan pertanyaan yang sama. Sambil rebahan otakku sedang on fire. Tapi fisikku rebahan. Gimana dong?

Jam 7 malam, aku memutuskan undur diri dari rebahan. Aku mengendarai sepedaku yang usang tapi masih bisa berfungsi dong. Aku mengikuti arah naluriku, tiba-tiba jiwa hedonku memaksaku untuk belok ke sebuah swalayan, yang berada di Jl. Residen Sudirman No.2A, Tambaksari Surabaya.

“ Beli apa ya? “

“ Ah sumpek di Surabaya terus, aku ingin pergi ke suatu tempat “

Aku membeli perlengkapan untuk perjalananku selanjutnya, karena di kampus sudah tidak ada mata kuliah, hanya urusan skripsi yang belum kelar. Membuatku pusing dan sepertinya aku akan depresi kalau tidak liburan.

Aku membeli perlengkapan toiletries seperti sabun mandi, pasta gigi, sikat gini, cuci muka dan tissue. Enggak lupa aku membeli botol tumbler baru. Ya aku harus ikut berpartisipasi melindungi Bumi dari plastik.

Kemudian aku membeli powerbank baru, ah ini sih beneran hedon namanya. Tapi tidak apa-apa. Demi aku, batinku dan jiwaku yang tidak ingin depresi karena skripsi.

Setelah sampai di rumah. Aku packing semua barang-barangku. Aku tidak membawa banyak barang. Hanya 1 ransel berisikan 4 outfit baju, perlengkapan toiletries dan 1 tas sedang berisikan kamera, PB dan buku-buku yang sudah aku siapkan untuk dibaca selama perjalanan.  

Kini aku sudah ada di kereta api, sebuah notifikasi dari smartphoneku membuat lamunanku ambyar.
“ Ah ternyata bateraiku low bat “

Aku menggunakan kabel charger smartphoneku, aku pakai fasilitas colokan listrik yang ada di kereta, lalu aku lanjutkan dengan membaca buku. Kali ini buku yang aku baca berjudul “ Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat “ yang ditulis oleh Mark Manson.

Selama di perjalanan, aku membaca buku ini. Aku, yang awalnya on fire menjadi sedikit calm down karena buku ini. Bagaimana tidak ya ? di buku ini aku menemukan sebuah pernyataan yang menohok diriku. Tentang bersaing? Ya semua orang memang harus bersaing. Tapi bagaimana kalau bersaing dengan gaya yang sehat dan classy? Tidak menjatuhkan orang lain dan berhasil naik ke tangga teratas tanpa meminjam sepatu orang lain.

Kenapa harus memikirkan pencapaian orang lain kalau sebenarnya aku sendiri bisa mencapai hal yang lebih besar, tidak perlu takut menjadi salah. Siapa tau kesalahan itu tadi menjadi pintu perubahan yang baru dalam hidupku dan tugasku adalah fokus membuka pintu itu.

Sekarang aku berterimakasih pada kesulitan dan kegagalan yang sangat berguna untuk menjadi bekalku kedepannya. Boleh merasa on fire asalkan tubuh tidak menolaknya. Masa otak lagi on fire sedang tubuh ingin rebahan ?

Make it balance and santuy !

Baterai smartphoneku sudah penuh, aku memutuskan untuk memutar lagu, santuy. Ah betapa indahnya bumi ini.

Aku melihat pemandangan yang kereta ini lewati. Indah dan tenang. Melewati 1 stasiun lagi aku tiba di stasiun Tugu Yogyakarta.

Aku menulis beberapa tujuan yang akan aku datangi, di Yogyakarta nanti aku hanya ingin ke Candi Prambanan dan ke Tempoe Gelato.

Hari ke 2. Aku lanjutkan perjalananku dengan menggunakan bus Transjogja. Dari hotel aku berjalan ke halte taman pintar. Setelah menunggu beberapa menit tibalah bus yang akan membawaku ke Candi Prambanan. Sekitar 45 menit dalam Bus. Aku akhirnya tiba di Candi Prambanan.

Di Candi Prambanan. Aku berkenalan dengan banyak orang baru. Aku mengulik-ngulik kisah mereka yang menarik. Hehe

Candi Prambanan sangat besar dan menakjubkan. Aku memutuskan untuk melihat sunset di Candi ini.

“ Semesta, maafkan aku yang selalu mengeluh. “ aku ucapkan pada diriku sendiri dengan normal. Tidak lagi batinku yang berbicara pada jiwaku.

Senja begitu kuat di Candi Prambanan. Seolah-olah memberi tahu bahwa sebagai perempuan aku harus berani memutuskan untuk diriku sendiri, tidak plin-plan dan harus kuat pendirian. Seperti Roro Jonggrang yang dibangunkan candi oleh Bandung Bondowoso. Senja kali ini bukan membuktikan akhir dari kisah mereka, tapi pelajaran yang bisa diambil. Tidak memaksakan kehendak, apalagi memaksakan kehendak pada diri sendiri. Kita harus mencintai diri kita sendiri, agar kita bisa mencintai hal lain dengan rasa cinta itu sendiri. Mencintai cinta.

Sekitar pukul 8 malam, aku masih ada di Bus Transjogja untuk kembali pulang ke hotel. Aku dapati notifikasi dari smartphoneku, yaah baterainya habis lagi. Aku sambungkan kabel chargerku dengan powerbank yang sudah aku beli.

Di perjalanan aku menikmati suasana malam Yogyakarta. Tenang dan penuh cinta. Bus sudah berhenti kembali di halte taman pintar, aku memutuskan untuk jalan-jalan ke titik nol Yogyakarta. Disana aku membeli sate untuk makan malam. Duduk di pinggir jalan sambil menikmati suasana hiruk-pikuk orang-orang yang juga liburan.

“ ke Yogyakarta enak hari ngene iki yo nak “ ucap seorang ibu-ibu yang jual sate. Ia mengaku bernama bu Fatimah.

Enggeh bu, kalau minggu rame, hehe “ jawabku

“ Asli ngendi nak? “ tanyanya lagi.

“ Surabaya bu “ jawabku lagi

“ Oooo Suroboyo. Iyo perlu memang represing nang kene. Suroboyo ra tau sepi “

Sejenak aku terdiam, iya~ yang aku fikirkan bukan kota Surabaya yang ramai. Tapi ambisi yang mengundang orang-orang untuk meramaikan kota metropolitan itu.


 
Jam tangan di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul 10 malam. Aku percepat langkahku agar sampai di Tempoe Gelato Prawirotaman.


Sekitar pukul 12 malam kurang 15 menit, aku tiba di hotel. Hari ini sangat panjang, banyak hal yang terjadi dan bertemu dengan orang-orang baru membuat pikiranku terbuka dan fresh. Benar memang kata ibu Fatimah, Refreshing itu perlu agar tetap santuy.


#SIAPDIJALAN Supaya Tetap Santuy.

Do Follow :
Ayoomall.com


Instagram :


Tidak disangka oleh Pupu, lelaki itu malah ikut duduk menemani Pupu. Ia memutar-mutarkan ponsel pintarnya. Lalu berkata “ bagi cewek seumuran kamu, tidak bagus jam segini masih diluar “ dia bilang sambil memperlihatkan jam yang menempel ditangannya. Tepat pukul set2 malam. Kaki Pupu terasa mati rasa karena terlalu lama duduk di posisi yang tidak biasa. Ia berusaha berdiri tapi malah terjatuh. Dengan sigap lelaki tadi menangkapnya. Pupu langsung menghindar darinya.
“ Hagyu. Panggil aku Hagyu” lelaki itu mengulurkan tangannya lagi. Kali ini Pupu mencoba untuk menerima uluran tangan itu. Pupu sempat lupa bahwa gaun yang dipakai sekarang ia menandakan bahwa Pupu siap menerima orang baru dalam hidupnya. Tapi masa iya diposisi yang seperti ini? Disaat pupu ditinggal mama dan papa ! kenapa enggak seromantis di novel-novel. Semesta. Ini tidak lucu.
Belum sempat Pupu mengucapkan namanya. Ponsel pintar Pupu berdering, disana ada terlihat kontak Mama memanggil.
“ sayang, pulang sekarang ya. Naik taxi online aja “
Belum sempat Pupu menjawabnya. Telfon sudah dimatikan. Ekspresi saat Pupu mengangkat telfon tadi sangat girang dan berusaha menceritakan kemenangan Pupu. Tapi yang ia dapat malah ketidakpedulian. Pupu membanting ponsel pintarnya. 

Ia berlari dari orang-orang yang bisa melihatnya berlari. Ia ingin dirinya tidak terlihat daripada terlihat tapi tak dipedulikan. Belum sampai keluar dari gerbang gedung. Hagyu berhasil menarik tangan Pupu. Hagyu merasa marah melihat Pupu tidak mematuhi perintah mamanya. Hagyu memaksa Pupu untuk pulang. Hagyu berhasil membawa Pupu ke dalam mobilnya.

“ hei, maaf anda siapa. Tolong jelaskan pada saya kenapa anda membawa saya ke mobil anda ? “ dengan kekuatan yang ada, Pupu memukul Hagyu dengan Pialanya.
“ sakit, astaga. Bisa tidak, anda diam saja dan tunjukkan saya alamat rumah anda ? ” paksa Hagyu.
“ aku tidak ingin pulang “ Pupu dan Hagyu saling menatap.
“ jika anda tidak nyaman, jangan pakai kata aku untuk membuatku nyaman dengan anda, itu akan menjadi tidak adil “  pinta Hagyu.
“ Aku enggak mau pulang “ jawab Pupu lagi.
“ Anda harus pulang “ Hagyu mengambil ponsel pintar Pupu yang sedikit retak karena dibanting. Ia membuka melalui face lock. Tanpa pikir panjang. Ia mengirim nomor mama pupu ke ponsel pintar milik Hagyu.
“ hei anda jangan kurang ajar. Ini privasi saya “ jika menjadi gadis yang kalem tidak membuat Hagyu luluh. Pupu kembail ke private mode hidupnya. Yang sudah bertahun-tahun ia lakukan.
Hagyu tidak menghiraukan semua tingkah Pupu. Ia menelepon mama Pupu. Lama tidak diangkat. Setelah 4x berdering. Barulah ia mendapat balasan suara dari sana.
“ apakah ini dengan keluarga Handini. Mohon maaf atas kesalahan yang telah dilakukan suami saya. Mohon doanya. Semoga suami saya tenang disana “
Hagyu sangat bersyukur Pupu belum mendengar telepon mamanya. Ia belum mengaktifkan tombol speaker di teleponnya. Telepon masih terhubung.
“ nyalain ga speakernya! “ pinta Pupu. Setelah selesai mencakar-cakar Hagyu dengan kukunya yang indah menawan.
“ Pupu sayang, apa disana ada Pupu ? “ tanya mama Pupu.
“ tante, ini teman baru Pupu ingin mengantar Pupu pulang tapi Pupunya tidak memberi ijin. Bolehkah tante memberi saya location rumah Pupu agar saya bisa mengantarkan dia pulang dengan cepat. “
Lokasi kompetisi dengan rumah Pupu lumayan jauh. Membutuhkan sekitar 1 jam lebih untuk menempuh jalan ke rumah Pupu. Pupu sudah terlelap tidur di kursi penumpang. Pupu tidak ingin di kursi depan dengan orang asing. Meskipun Pupu sudah kenalan. Tetap saja Pupu adalah seorang gadis yang tidak bisa berinteraksi baik dengan orang lain.
Hagyu Indre Pagando
Demi tuhan. Tidak pernah terlintas dalam pikiran Hagyu akan bertemu dengan gadis yang hatinya dingin, Pupu. Pemenang lomba piano dan parahnya ini bertepatan dengan waktu dimana papanya harus meninggalkan bumi ini. Pupu yang malang tapi penuh kesan menawan dalam dirinya.
Di perjalanan menuju rumah Pupu, Hagyu mengumpulkan energi untuk menenangkan Pupu nantinya. Kalau bisa Hagyu akan selalu ada menemaninya. Dering telfon memecahkan keheningan perjalanan yang menyelimuti mobil Hagyu.
“ Halo mama. Ma, Hagyu malam ini pergi ke rumah teman. Hagyu harus menenangkan teman Hagyu yang baru saja di tinggal papanya, ma “
Setelah menerima wejangan dari mama hagyu. Hagyu menutup telfon mamanya.
“ Papa? Yang kamu maksud papa aku udah ga ada ? itu papa aku ? “ tanya Pupu pada Hagyu.
“ Pupu, maaf “ jawab Hagyu singkat.
Setelah bertanya. Pupu tidak lagi bergeming. Mungkin Pupu sedang menahan tangis di belakang.
“ Pupu, kita sudah sampai “ Hagyu sangat berhati-hati memapah Pupu ke rumah. Rumah Pupu yang sudah penuh dengan orang-orang berbaju hitam. Bendera hijau sudah dikibarkan di depan gerbang rumah Pupu. Hagyu melihat wajah Pupu dengan hati yang ikut rapuh. Seperti ada lampu yang selalu terang. Namun, dengan tiba-tiba lampu itu padam, diikuti jiwa Pupu yang dingin, kini perlahan-lahan menjadi hangat.
“ tidak, ini tidak mungkin, aku pasti sedang mimpi. “
Tiba-tiba Pupu mencari ranting pohon yang ada di halaman rumahnya. Ia mematahkan ranting itu lalu menggoreskannya ke lengan sebelah kiri.
“ ah sakit “ lirih Pupu. Sambil menutup darahnya yang otomatis mengalir. Pupu langsung berlari menuju dalam rumah, mencari mama namun yang ia temukan malah tubuh papa yang sudah tidak bernyawa.
“ tidak, ini tidak mungkin terjadi “ Pupu mundur. Ia kembali ke halaman rumah. Disana ia menemukan Hagyu yang juga sedang memandangnya.
“ hagyu, papa aku tidak mungkin meninggal “ sambil memegangi lukanya. Ia terduduk lemas. Dari belakang mamanya memeluk Pupu,
“ sayang “ panggil mamanya. Pupu memeluk mama lebih erat.
“ mama. Papa, maaa. Maaa Papa enggak mungkin pergi. Pupu sudah pulang bawakan piala untuknya ma. Ah piala. Pialanya di mobil. “ Pupu histeris lalu lari menuju mobil Hagyu. Ia baru ingat Pialanya tadi pecah untuk pertahanan dirinya karena Hagyu yang mendekati Pupu. Pupu berhenti tepat di depan Hagyu. Ia berkata :
“ apakah kamu datang untuk mengacaukan hidupku? Kenapa kamu harus ada disini sekarang? Kenapa papa pergi meninggalkan aku sekarang? Tidak berhak kah aku untuk membuat papa bangga padaku? Semesta kenapa engkau tega sekali, semesta, Papa bilang kau diciptakan untuk memperindah alam. Tapi aku baru sadar 1 hal. Seindah apapun kamu diciptakan, disana ada senja yang berusaha mengukir akhir dari kebahagiaan. “
Badan Pupu ambruk tepat setelah ia menyelesaikan kata terakhirnya yang sebenarnya sudah tersendat-tersendat. Hagyu membawa Pupu ke kamarnya. Mama Pupu lebih sedih dari anak semata wayangnya yang egois dan manja.

“ hagyu, saya minta maaf atas perlakuan Pupu ya “ pinta Mama pupu.
“ Iya tante, saya mengerti “ jawab Hagyu.
“ Kamu adalah teman pertama Pupu setelah 11 tahun terakhir ini, terimakasih Hagyu “ kata mama Pupu.

Hagyu hanya memangguk. Ia tidak mengerti maksud mama Pupu bagaimana, semakin Hagyu mencoba masuk ke dalam hidup Pupu. Hagyu semakin penasaran dan penasaran.