Perjalanan kali ini aku fokuskan kepada matahari yang baru saja terbit. Aku memutuskan mengunjungi sebuah tempat dimana aku bisa melihat matahari terbit secara utuh.
Tempat itu berada di lautan pasir gunung bromo. Jam 3 pagi aku berangkat dari rumah singgahku. Aku terbiasa berangkat sendiri, tapi kali ini kebiasaanku terpatahkan oleh keberadaan sepupuku.
Lily, dia sedang mengalami masa transisinya dari siswa SMA tersongong menjadi calon mahasiswi cupu di Univ pilihannya. Dia sendiri yang bilang padaku.
“ kak kayaknya aku bakal jadi mahasiswa cupu deh “ dia bilangnya sambil menopang dagunya yang sebenernya tidak berat.
Langsung aku menjawabnya gini “ kenapa? Kenapa cupu? “ ya kepo dong, kepo banget aku sama alasannya.
“ emm alasannya nanti aja ya kalo udah di puncak “ jawab dia gitu sambil membuka jendela pintu mobil.
“ kita gak akan ke puncak, kakak cuma mampu nyetir ini mobil sampai pertigaan Nongkojejer aja kayaknya “ aku menjawabnya dengan sedikit kurang yakin, bismillah insyaallah.
Deg..
Angin ini..
Meskipun AC mobil sudah menyala, aku masih merasa sesak. Tetapi, ketika Lily membuka jendela itu, angin pagi ini menyeruak masuk hingga ke pori-pori kulitku.
Dalam pikiranku, batinku bahkan fisikku. Aku merasa sangat sangat lega.
Disinilah aku berhenti untuk menunggu jemputan backpacker. Di pertigaan menuju ke Nongkojajar. Jalur ke Bromo yang paling aman untuk dilintasi oleh pemula.
Sudah kuduga, Bromo sudah didekat pandangan mataku. Aku yakin itu.
Aku lihat Lily tertidur lagi. Aku biarkan ia tidur agar ia bisa pulang sehat wal afiat dari Bromo.
Sebelum kita berangkat ibu Lily berpesan kepadaku untuk menjaga Lily dan membawanya pulang dengan aman.
Nah inilah alasanku aku lebih suka berpergian sendirian. Tujuanku pergi adalah untuk membuang semua beban yang ada di hidupku lalu membiarkannya pergi dibawa angin.
Disaat saat itulah hal yang paling membahagiakan dalam drama hidupku.
“ Ly, Bangun “ Panggilku
“ Lily, bangun cuy. Kita harus naik mobil sewaan “ panggilku lebih keras.
“ apaan mobil sewaan “ gerutu dia.
“ What is it!!! It is so dark. Kak kita dimana? “ tanya dia lagi.
Kini aku sudah ada diluar mobil, siap-siap masuk ke mobil yang aku sewa.
“ buka mata! Astaga “ Ucapku dengan sedikit loudly.
Si Lily ini bercanda atau gimana sih
Aku melihat seorang bapak-bapak tergesa-gesa menghampiriku, beliau segera memindahkan mobilku ke tempat parkir yang terpercaya. Sedangkan aku dan Lily menunggunya sambil beristirahat sejenak di depan Indomaret.
“ kak kakak tidak beli apa gitu? “ tanya Lily kepadaku
“ aaah adek aku ngode ya? “ jawabku menggodanya
“ mbak Karina ya? “
Lalu muncullah seorang bapak-bapak yang tadi, kali ini beliau mempersilahkan kita untuk membawa mobil gunungnya.
“ mohon maaf sebelumnya, apakah bapak bisa mengendarainya untuk kami? “ pintaku
“ dengan senang hati “ jawab bapak itu sambil membukakan pintu mobil.
Bersambung..
0 komentar:
Posting Komentar