Sudah pagi. Bunda memberikan secangkir teh untuk mas Alan. Mas Alan sedang membaca Koran di depan rumah. Dia sedang membaca rubrik yang berisi sarcasm. Bupati yang sudah berkecukupan tapi masih saja celaka. Ia akhirnya dibawa ke Jakarta. Lalu di rubric itu tertulis highlight “ sederhana saja, asal lurus dijalannya Allah”.
“ mas Alan. Baca berita apa? Kok ndak merhatiin bunda duduk disini dari tadi loh “ ujar bunda selagi minta perhatian ke anak sulungnya.
“ aku tau bunda ada disitu kok. Hehehehe, dasar bunda caper “
Mereka berdua tersenyum bersama, seorang ibu yang menemani anaknya membaca Koran di pagi hari. Jika bisa digambarkan dengan lukisan, mungkin orang-orang akan melihatnya terkesan sederhana dan bahagia. Dengan secangkir teh di tangan kanan anaknya, sesekali anaknya meneguk dan merasakan hangatnya. Seorang gadis manis muncul dari balik pintu, ia mengenakan rok panjang berwarna putih dan kemeja hitam bermotif bunga mawar yang menutupi lengannya. Ditambah kerudung Saudi berwarna merah. Paket lengkap syar’i. Ziana, ia duduk di mas Alan. Wajah Zia terlihat lesu dan pucat. Cara berjalannya pun pincang.
“ aku bisa jalan normal lagi kapan ya Bun?” Zia bertanya kepada Bundanya.
“ sini-sini Bunda tiupin dengan ucapan Basmallah “
Bunda menarik kaki kiri Zia, lalu Bunda
“ Bismillahirrahmannirahim, Bunda berharap kaki Zia cepat sembuh karena bunda rindu cerianya Ziana, anak bunda yang paling cantik ini “
“ iyaaa lah Bun. Anak bunda yang perempuan kan hanya Zia “ sahut mas Alan.
“ hehehehehe, mas Alan loh ya cantik aslinya, kalau pakai kerudung. Xixi. Mas, Zia ingin bialng sesuatu ke Bunda, eh Zia bilang langsung aja deh, gini bun anak perempuannya Bunda yang baru saja kena sengatan kalajengking ini lapar bun, “ ujar Zia panjang dan tidak efektif.
“ dek, kamu ini yang tersengat kakinya kan? Bukan kepalanya kan? Kalimatmu loh dek. Hemat kata dek, hemaaaat “ sahut mas Alan menyeringai.
“ hehehe, Zia hanya ingin pagi Zia rame mas, Zia tidak suka kesunyian “ Zia memang seperti itu anaknya.
“ mau bakar sampah sama mas gak ? “ tantang mas Alan.
“ dengan kaki Zia yang seperti ini “ ujar Zia dengan sedikir kesal
“ sudah-sudah, intinya Ziana lapar gitu kan? “ ujar Bunda kemudian menengahi. Bunda menurunkan kaki ke Ziana. Bunda dan Ziana ke dapur untuk sarapan bersama.
“ ayah, udah selesai joggingnya? “ Tanya mas Alan. Ia menyambut kedatangannya di depan rumah. Ia meletakkan korannya. Ia mengalihkan pandangannya ke ayah, menatapnya.
Ayah memakai sweater nike putih dan celana training hitam. Sneaker ayah terlihat kotor terkena tanah liat. “ ayah tadi jogging di makam cina ? “ Tanya mas Alan lagi.
“ ya, tapi hanya 10 putaran, jalannya kotor dan sepi “ ayah menjawab pertanyaan mas Alan pelan lalu mengatur pernafasannya.
“ ayah minta tehnya mas “ pinta ayah kemudian.
Mas alan menuangkan teh ke cangkir, lalu memberikannya ke ayah.
“ ahh, pagi ini badan ayah segar sekali, mas kamu tau ga? Kenapa teh ini mampu membuat ayah makin merasa fresh dan tenang begini ? “ mas alan mendengar pertanyaan ayah lalu mengernyitkan kedua alisnya.
“ kenapa mas coba ? “ Tanya ayah lagi.
“ emm karena ini buatan bunda ? “ jawab mas Alan asal.
“ ya. Tepat sekali. Seberat apapun bebannya ayah, ayah selalu tenang kalau meminum teh ini “
“ ayah lagi banyak beban ya yah ? “ mas alan tiba-tiba saja bertanya seperti itu.
“ ya, ayah punya beban yang sangat berat. Hamper saja ayah menyerah “ jawab ayah dengan tegar.
“ apa yah ? “
“ emmmm, beban menunggu kedatangan cucu darimu. Hahahahaha “ jawab ayah sembari mengakak.
“ sarcasm yah. hentikan wkwkkw “ pinta mas Alan.
“ mas, kamu itu sudah waktunya menikah, tapi sampai saat ini. Kamu masih saja jomblo. Istikharah nak, minta petunjuk Allah. Agar didekatkan jodohnya. Ayah berharap banyak sama kamu mas “
Tiba-tiba saja perbincangan ini menjadi serius. Mas Alan hanya mengiyakan setiap ucapan ayah. Tetap. Setiap mereka mengobrol pasti penutupannya soal jodoh. Benar memang, mas Alan sudah waktunya untuk bertemu jodohnya. Sudah lulus s2 dari ITB. Cum laude pula.
0 komentar:
Posting Komentar