(pict by Pinterest)
Waktu seperti berjalan di atas gurun pasir yang panas dan gersang, jika waktu itu berhenti kematian lah yang menggantikan waktu, waktu itu mati dan berhenti, mati tidak mengenal waktu, kesadaran diri bersandarkan kenormalan jiwa, dan hati yang baik akan mengenalkan insan kepada adanya Tuhan, Tuhan yang tidak genap, tuhan lah yang memberi, hidup, mati, dan rezeki, tapi semua itu adalah misteri hanya tuhan yang tahu, tetapi kasih sayang, tidak termasuk misteri, semua tahu kasih sayang dan merasakannya hanya saja belum saatnya aku mengerti rasa kasih sayang itu dari orangtuaku sendiri, mungkin suatu saat. Akankah Saga melakukan itu padaku, memberiku kasih sayang yang tulus, menurutku tidak mungkin, karena kesan pertama kemarin saja sudah buruk.
Aku tidak mungkin bisa bicara dengan dia lagi.
Hari minggu ketika semua berkumpul dengan keluarganya aku mungkin hanya akan bertemu dengan pak Parjo dan mbok Sri,
“ non, mau di masakin apa hari ini “ tuh kan, hanya mbok sri yang selalu peduli sama aku
“ sambal aja mbok “ jawabku asal
“ loh non, kok sambal“
“ terserah mbok Sri aja “
“ mbok masakin ayam kremes ya non “ jawab mbok Sri semangat
“ hmm “ aku ke kamar langsung pejamin mata, aku berharap tidak ada yang datang kerumah hari ini,
“ nonn “ suara mbok Sri dari luar kamar,
“ Nesa ngga mau diganggu “
“ tapi ada tamu non, “
“ hmm “ aku mendapati Saga, iya. Saga seorang yang paling menyebalkan berani-beraninya ia datang kerumahku.
“ kamu ngapain kesini ? tau alamat rumahku darimana ? “
“ aku kesini untuk minta maaf, Dita yang kasih tau alamat kamu, berikan aku kesempatan buat ngenalin diri ya “
“ hmm “
“ namaku Saga Rahardian, aku lahir di Surabaya tangal 24 bulan Agustus tahun 1996, aku dari kecil suka main gitar dan bernyanyi, mami orang asli Indonesia dan dady asli orang Aussie, aku pindah ke Indonesia karena aku milih ikut sama mami, orangtuaku udah cerai, aku mulai tertarik sama kamu waktu aku pertama kali melihatmu bersama orangtuamu pergi ke tempat swalayan terkenal di surabaya, sebenarnya kita dulu berada di restoran yang sama, aku mencoba mengingatmu dan memastikan bahwa kamu lah gadis pertama yang aku perhatikan waktu kita tes masuk sekolah yang pertama, setelah aku kesulitan mendekatimu karena sikapmu yang cuek aku mencoba mendekatkan diri melalui akun twitter, sejak itu aku sering menceritakan apa yang aku rasain terhadapmu di tweet, maaf, aku selama ini udah buat kamu merasa terganggu “ jelasnya
Aku hanya terpana mendengarkan penjelasannya,
“ hm “ nesa~ kamu hanya bilang ke dia gitu aja
“ yaudah aku pulang “
“iya” aku menatap matanya, sangat indah. Kali ini terlihat tulus tapi dia sudah berjalan keluar.
Aku capek, aku capek, aku capek
aku menggerutu sendiri dalam hatiku, aku berjalan sambil setengah merem ke kamar
Sampai di kamar, aku tulis pakai huruf besar-besar agar mbok Sri bisa membacanya
“jangan bangunin sebelum aku bangun sendiri “ aku taruh di samping bantal aku langsung tengkurap.
Saat ini yang aku rasakan hanya sepi sunyi tidak ada suara sama sekali, aku terlelap melebihi lelapnya Bernard yang lagi hibernate di kutup sana.
“Parjo, ini non kok selimutnya ditutupi rapet ? “
“ lho mbok, saya ndak tau apa2, telpon nyonya mbok ? “
“ kamu aja to jo, mbok yang urusi non “
Rame sekali, apa sih mbok ? aku hanya gerakkin kakiku ke atas
“non, sudah siang non “ terasa sekali mbok Sri bangunin membangunkanku dengan tangannya yang dingin, di elus-elus kakiku
“ aku lagi tidur mbok “ pelan aku bicara
“ mbok, nyinya bilang disuruh bangunin pakai disiram air “ suara pak Parjo seperti orang yang kemalingan,
“ apa ?? “ aku bicara keras semampuku
“ eh non, bangun “ dengan polosnya pak Parjo cengar-cengir
“ anu non mbok Sri sama pak Parjo khawatir non kenapa-kenapa, Alhamdulillah non hanya tidur “ mbok Sri ternyata beneran khawatirnya.
“ anu non mbok Sri sama pak Parjo khawatir non kenapa-kenapa, Alhamdulillah non hanya tidur “ mbok Sri ternyata beneran khawatirnya.
“ iya non begitu “ pak Parjo
“ ya Allahh mbokkk, aku tidurr “
“ tapi sudah jam set7 non “
” ha apa ? “
Aku langsung lari ke kamar mandi, setelah itu aku memakai seragam dan berangkat ke sekolah. Oh ya aku tadi tidak mandi, hanya sikat gigi dan cuci muka saja. Bodoh sekali ya aku, memang aku tidak memiliki orang tua yang peduli, tapi setidaknya. Aku punya tanggung jawab untuk tidak membuat orang tuaku malu.
Sampai di gerbang sekolah, aku menengok ke kiri dan ke kanan. Tidak ada murid satu pun yang datang hari ini. banyak sepasang mata yang melihatku aneh. Aku ingat-ingat. Apa karena aku kelihatan banget kalau tadi berangkat tidak mandi ya. “ satpamnya mana ya kok tidak jaga ya hari ini? “
Pikirku. Lama aku berpikir. Hingga aku putuskan untuk membeli es tebu.
“ buk 1 ya “
“ mbak, ada acara ya disekolah? “
“ enggak kok buk. Tapi iyaya, tapi kenapa sepi sekali ya buk? “
“ loh, mbak. Sekarang kan hari minggu. Saya kira mbak ada acara, jadi mbak menunggu teman-teman mbak yang lainnya “ sambil ibuk itu memberikan 1 plastik es tebu kepadaku.
Aku memberinya uang lima ribu ke ibuknya “ kembaliannya buat ibuk saja”
AKU BODOH.
Kenapa aku bodoh sekali. Aku berjalan menyusuri jalanan yang sepi. Untung sepi. Aku langsung mempercepat jalanku agar bisa segera sampai rumah. Aku ingat tadi, pakaian yang dipakai Saga kerumahku tadi, pakaian olahraga lengkap. Dengan sepatu adidas miliknya. Baik, sudah jelas sekali dia mengikuti car free day hari ini. tadi berangkat dari rumah juga tidak ada mobil yang lewat. Kenapa aku bisa sebodoh ini. lalu apa peran mbok Sri dan pak Parjo tadi? Kenapa tidak mengingatkanku?

0 komentar:
Posting Komentar