Di Ufuk Barat part 1


(Pict by Pinterest)


Ziana, gadis yang dari lahir tinggal di lingkungan pesantren. Ia menoleh ke luar jendela ternyata matahari sudah menenggelamkan wajahnya, menandakan ia harus segera mengambil air wudlu dan pergi ke masjid. Masjid yang dituju Ziana tidak pernah ditinggal keramaian. Ia segera mempercepat langkahnya. Ya, shaf pertama di pojok kanan depan lah yang diincar Ziana. Ziana mengikuti kebiasaan ayahnya, “ ayah kenapa sih yah? kok suka di depan kalo sholat? “ Tanya Ziana.
“ karena ayah suka. Hehe, Ziana tau ga? Allah dan para malaikatnya bershalawat kepada orang-orang yang berada di shaf depan? “ jawaban ayah begitu.
“ziana baru dengar kali ini yah, eh tapi kok berasa De Javu ya yah?” Ziana heran,
“ hmm, pelajaran Aqidah Akhlaq ketika di Madrasah Ibtidaiyah sayang” jawab ayah sambil mengingatkan.
Ia senyum-senyum sendiri ketika mengingat kenangan yang sangat asyik bersama ayahnya. tidak lama kemudian ia sudah sampai di masjid. Ziana tidak dapat shaf di depan Karena hari ini hari Ziana dan teman-temannya berkumpul semua di masjid. Masjid Jami’. Teman-teman Ziana berasal dari berbagai kota. Adinda dari Solo, ia adalah teman terdekat Ziana. Pernah, saat liburan tiba. Adinda memutuskan untuk menginap di rumah Ziana. Rumah Ziana berdekatan dengan pesantren mereka. Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif. Lokasinya berada di Desa Denanyar, Jombang. Adinda dan Ziana berada di 1 asrama, Asrama putri NK 3.
“ Zi aku tidur bawah lo gpp “ Adinda berkata sambil memegang pundak Ziana yang sedang membersihkan kamarnya.
“ heeeei, jangan gitu. Aku sudah memimpikan jauh-jauh hari kamu akan menginap dirumahku suatu hari nanti, sekarang terjadi hari ini “ hehehe Ziana tertawa sembari melepaskan tangan Adinda.
“ terimakasih lo ya Zi, maaf juga sebelumnya. aku takut merepotkanmu dan keluargamu “
“ kamu pasti akan merepotkanku Adinda “ Ziana tertawa lalu memeluknya.
“ maaf Zi, heheehehe ”
            Pertemanan mereka berdua sangat hangat, disaat Ziana kesulitan di Asrama, Adinda membantuunya, disaat Ziana melakukan kesalahan Adinda mengingatkannya, begitu sebaliknya. Mereka seperti dua bunga mawar yang sedang tumbuh untuk mekar disuatu saat nanti. mawar itu memiliki duri untuk melindungi dirinya, Adinda dan Ziana memiliki Al-quran untuk melindungi diri mereka dari berbuat kesalahan. Setiap selesai jamah subuh mereka membaca surat yasin bersama. Suatu malam Ziana mendapat pesan dari ndalem. Yang isinya :
Neng Ziana, besok pagi mbah, umi dan abah berangkat ke Solo. Katanya Bunda, ada teman neng yang gabisa pulang. Barangkali bisa bareng kesana. Jam 9.
            Ziana terkejut menerima SMS diatas, ia tidak ingin Adinda kembali pulang ke Solo dengan cepat. Tapi tidak, tidak boleh. Ziana tidak seegois itu. Ziana menyampaikannya ke Adinda.
“ ya Allah, Alhamdulillah Zi, jadi aku tidak merepotkan kamu terus-terusan hehehehe “
“ yaaaah. Kamu sangat merepotkan “ ucap Ziana ketus. Ia sedih melihat temannya akan balik, padahal baru 3 hari ia menginap dirumahnya. Selama 3 hari mereka hanya bepergian ke wisata sejarah Mojokerto, pada saat di Budha Tidur mereka menyadari 1 hal. Meskipun berbeda keyakinan dan budaya, tapi sejauh ini masyarakat di sekitar kita damai. Tidak terjadi hal-hal yang buruk. Itu artinya: tempat ini sangat mengesankan.
            Di jalan ketika pulang, Ziana melihat kembali hasil foto-foto dari jepretan kameranya Adinda. Semua foto yang diambil Adinda selalu bagus, katanya ia ingin menjadi seorang fotografi handal. Ziana masih ingin mengajak Adinda ke Wonosalam, tapi besok Adinda berangkat ke Solo. Ziana harus berbesar hati untuk menerimanya. Lihatlah.. Adinda sangat bersemangat mengemasi barang-barangnya.
             Malam ini, malam yang sangat panjang menurut Ziana, ia tidak bisa tidur. Ia memikirkan hal-hal yang akan terjadi besok. Seakan-akan besok akan ada hal besar yang terjadi. Ziana memejamkan matanya. Ia berdoa pelan sebelum tidur, بِسْمِكَ اللّهُمَّ اَحْيَا وَ بِسْمِكَ اَمُوْتُ
Hanya Allah yang memberi kehidupan, hanya Allah yang mengijinkan untuk bangun kembali, lalu ia melihat kearah Adinda, Adinda sudah pulas sekali. Ziana yakin, Ziana pasti bisa melewati libur panjangnya dirumah. Tidak apa-apa. Adinda pulang ke Solo. Mas Alan juga masih di rumah, Ziana berharap mas Alan sebagai kakak kandungnya bersedia menemani Ziana kemana pun Ziana ingin pergi.
            Pagi pun datang dengan segenggam kepercayaan kepada diri. Matahari akan muncul dengan segenggam kehangatan kebesaranNya. Allah, Engkau maha adil. Ziana bangun dari tidurnya dengan tepat waktu, sholat shubuh. Ziana keluar dari kamarnya.. langkah Ziana sudah berhenti di depan Masjid. Setelah subuhan, Ziana mengambil Al-quran. Ayat demi ayat telah ia lantunkan, hingga tiba waktu Dhuha, ia menyelesaikan muroja’ahnya. Ziana mengambil wudlu lagi untuk sholat Dhuha’.
            Tiba waktunya jam setengah 8 pagi, langkah Ziana tidak lurus menuju rumah. Ia langsung ke rumah paman, yang anaknya kemarin kirim sms ke Ziana. Disana sudah ada Rahman. Nama anaknya yang terakhir. Pamannya Ziana adalah pengasuh Pondok tempat ia belajar dan menyantri. Sedangkan ayah Ziana seorang pengusaha muslim yang menjalankan bisnisnya. Ia menjadi CEO di S&G group. Perusahaan terbesar yang ada di Jombang. Sedangkan bunda Ziana mengelola mall yang baru di bangun di Jombang juga.
“ Mas Rahman “ panggil Ziana kepada Rahman.
“ eh Zia kenapa disini? Habis darimana? Loh mana temannya? Kok sendirian? “
“ Zia dari Masjid. Teman Zia subuhan dirumah karena packingnya belum selesai dan semalem sudah kelelahan, mas sebenernya Zia ga ingin temannya Zia pulang. “ Ziana bicara ke Mas Rahman, seolah-olah ia memohon untuk mencabut kembali tawarannya semalem.
“ yahhh, Zii Zii, sifat manja Zia itu belum bisa hilang ya, udah kelas 11 Madrasah Aliyah loh ini. gini aja, Zia ibaratkan yang tidak bisa pulang kerumah itu Zia. Zia rindu kan? Katanya Dilan, Rindu itu berat loh Zi, terus ada tumpangan gratis bisa pulang ke rumah. Zia senang ga? “ mas Rahman emang kakak sepupu yang paling bijak.
“ iya mas, Zia paham. Yauda Zia pamit deh. Laper mas “ dan Ziana adalah adek sepupu yang paling kekanak-kanakan. Padahal umurnya sudah menginjak 18 tahun.
            Di sepanjang perjalanan, Ziana berpikir. Ia intropeksi diri. Akhirnya ia sadar. Zia kembali ke keyakinannya semalam. “ adik, masyaallah kok baru balik, itu Adinda sudah menunggu kamu dik, masyaallah “ suara bunda terdengar dari jendela ruang tamu hingga menyusul Ziana di halaman rumah.
“ tadi bertemu sebentar sama mas rahman bun “ ujar Ziana singkat.
“ makan dulu habis ini, lalu mengantar Adinda ke rumah mas Rahman lagi ya, “ perintah bunda yang diakhiri dengan anggukan Ziana.
            Di meja makan, Ziana menghampiri Adinda. “ makan yang banyak kamu Din, biar sehat sampai dirumah. Biar umi dan abah kamu tidak menyesal mengijinkan anaknya liburan disini sembari menunggu umi dan abahmu balik dari Mesir. Haha”
“ hahaha, iya nih Zi, btw, Zia makasih yaaa. Aku ga tau kalau misal aku kemarin di Asrama sendirian hehe, umi tadi sms katanya sih udah landed di Bandara Adisumarno, tadi sih mau jemput aku kesini, tapi aku menolak karena aku sungkan jika menolak tawaran dari Gus. Hehehe “ ujar Adinda.
“ ah kamu Din. Udah habisin hehehe, nanti aku ga akan kangen kamu kok” ujar Ziana sembari menyendok sarapannya.
            Setelah itu mereka berdua jalan kaki menuju rumah paman Ziana.
“ Ziana, kamu baik-baik ya disini, 2 minggu lagi kan kita bertemu lagi “ ujar Adinda.
“ kamu tuh Din, yang baik-baik dijalan. Hati-hati. Selama 2 minggu kedepan. Jangan rindu, kata mas Rahman. Rindu itu berat “ jawab Ziana sambil tertawa.
“ yang ada Dilan kali Ziiii, yg bilang gitu. Hehehe”
Duuk. “ awwwwwwwwww… “ teriak Ziana tiba-tiba lalu ia terjatuh.
“ eh Zia kamu kenapa? “ Tanya Adinda kuatir.
“ ini ada sesuatu yang menyakiti kakiku, emh seperti ketusuk sesuatu, tapi bergerak-gerak “jelas Ziana sambil menahan rasa sakit.
“ coba lepas kaos kakimu Zi “ pinta Adinda.
Zia melepas sepatu dan kaos kakinya. Astaghfirullah. Seekor kalajengking melengkung horror di jahitan kaos kaki Ziana “ ya ampun Ziiiii. Kalajengking Zii “ pekik Adinda



0 komentar:

Posting Komentar