Secangkir Teh Part 4

(Pic by Pinterest)




“lalu.. kalian meninggalkanku di uks sendiri ?“

“ya bukan maksud gitu , tapi Saga yang meminta kita ke kelas“

“ini adalah hari yang buruk, di UKS aku ditakuti sama dia, aku mengira ada  siluman, lalu aku memeluknya, sepanjang koridor aku memikirkan siapa namanya, aku sangat salah tingkah karena matanya indah, ah ternyata Basilisk itu si dia, Saga” entah apa yang membuatku bisa bicara seperti ini. Sekarang Lala dan Dita tidak kepo lagi dan tidak seheboh tadi.

apa aku terlalu se-dramatis ini??

“tapi Nes.. “ Lala mulai bicara.

“meskipun tweetnya indah sepuitis Sapardi Djoko Damono, aku tidak kagum sama sekali, dia telah membuatku berhadapan dengan bu Rania“ aku marah

“itu Nes. dibela.. bla .. “ gerangan apa yang membuat Dita gugup.

“apaan sih, kalian kenapa? ada hantu ? tidak ada kan, biasa ajalah“ tapi jujur aku jadi ikut gemetaran sekarang.


Ada tangan dibayangan aku melihat bayangan dari sinar matahari yang ada di belakangku tangan yang besar tapi berwarna hitam abu-abu, tuhan… tolong aku, ini hantu kah? Dita kenapa kalian diamm, tangan  itu meraih pundakku. 

Aku sudah merangkul Lala sekarang.


“Nesa kamu kenapa, aku bukan hantu Nesa“ yeah~ suara cowok.

“ hahaha Nesa itu Saga, kamu takut banget sama hantu “ Dita ngakak sekali


Oh thank you god, 


“  kamu? Kamu yang namanya Saga ? “

nesa kenapa kamu tanya? Sumpah ini salah tingkah tingkat dewa, saga benar-benar cakep, keren, tinggi, dan putih.

Lala yang sedaritadi terdiam heran tiba-tiba berbicara “ Nes, kamu have fun ya, aku sama dita balik yaaa “

“ Lala, aku pulang sama kamu “


tuhan ini menjatuhkan banget


“ sorry Nes, Saga sudah menunggumu “ Dita senyumnya puas banget  

Raja sinar yang berada di puncak, pohon yang tegak menyambut jalannya 2 insan di karpet putih, seperti menggunakan gaun putih dan jas hitam ditemani bunga mawar merah yang indah,dan Jalanan yang ramai ditemani angin bersepoi-sepoi, dunia ini memang sempit,


“ Nesa, kamu kenapa? ” Saga manyadari lamunanku

“  kenapa tweet kamu begitu dan puisi di madding, terus apalagi? Foto aku. Kamu harusnya ijin sama aku dulu bukan langsung seenaknya kamu aja gitu, aku ingin pulang, anterin “


Kenapa aku jadi sok kenal ?? minta anter segala~


“ iya.. iya tapi sebelumnya, maafin aku ya , maaf banget. Aku kira semua cewek suka “ Saga gugup

          “ah tidak, tidak. Kamu salah, gara-gara kamu aku dimarahi bu Rania dan awas aja kamu belum isi absenku di uks tadi “

“ udah kok “ jawabnya gampang

“ aku mau turun, minggir sekarang “

“ Nesa apalagi! kamu marah sama aku ? “


Iya  lah, anak ini hanya depannya saja yang cakep !


“ minggir sekarang “ pintaku

“ maafin aku lah Nes, aku pakai cara itu untuk bisa mengenal kamu, setelah ini aku akan mencoba untuk menjadi yang terbaik. Aku sudah sering cari perhatianmu dikelas, di kantin, tapi sekalipun kamu tidak melirikku “ jelas saga

“ bukankah untuk menjadi yang terbaik harus selalu melakukan yg terbaik? Tidak perlu mencoba untuk melakukan yang terbaik. Tapi selaluuu melakukannya. Lalu, aku belum kenal kamu, seharusnya kamu perkenalan dulu diri kamu, tidak seperti teroris gini “ aku cemberut sekarang.

“ please Nes, aku salah, aku minta maaf, alasanku seperti ini karna aku mencintaimu sejak tes masuk di sekolah ini, tiap hari aku selalu memperhatikanmu “ ucapnya lagi.


“ cukup, penjelasanmu sangat cukup, tapi aku baru saja mengenalmu jadi tidak mungkin aku bisa lagsung jatuh cinta padamu, minggir sekarang “

Saga akhirnya minggir ke tepi jalan dan membukakan pintu mobil untukku,

“ yakin berhenti disini ? “

“ yakin “

Lihatlah, Saga menurunkan aku di pinggir jalan. Gilaa. Dasar modal tampan doing. Sama perempuan dia tidak sopan. Kalau memang ia ingin menjadi yang terbaik. Dia tidak akan menurunkan perempuan di pinggir jalan seperti ini.

Tidak lama kemudian mobilku datang. Memang pak Parjo yang terbaik.

****

          Rumah sederhana dengan cat tembok warna  putih berlantai 2 ditengah-tengah keramaian kota menjadikan letak rumah itu termasuk lokasi yang strategis, di samping taman kota dan di depan terdapat sebuah swalayan modern, perlahan mobil Jazz merah mendekati rumah tersebut. Gerbang kuning keemasan yang dari tadi didiamkan sekarang telah dibuka oleh satpam hingga mobil Jazz merah tersebut memasuki halaman rumah. Ia melewati taman bunga mawar dan kolam ikan emas yang di atasnya dibangun jembatan di pinggir-pinggir jembatan ditanami bunga-bunga mawar merah yang berumpun, sekilas rumah itu mirip seperti kebun bunga mawar merah, mobil yang telah ditelan garasi lalu keluar sosok yang tinggi dan ramping, seorang wanita dari mobil tersebut dengan rambutnya yang terguntai, terlihat manis dengan baju berwarna abu-abu dipasangkan bersama rok sepanjang mata kaki berwarna putih dan sepatu vans yang terlihat anggun berwarna biru dan menggendong tas berwarna biru dan ia bersama pasangannya, sepasang suami istri yang super sibuk sampai anaknya dilupakan hanya di beri fasilitas rumah dan uang tanpa kasih sayang sepenuhnya,
Lama aku melamun, kepaalaku aku sandarkan ke jendela mobil, aku bilang ke supir agar tidak masuk rumah itu sebelum orang tuaku pulang, supir yang sudah lama aku suruh masuk duluan ke rumah sekarang beliau sudah kembali dan berkata
“ nyonya sudah pulang non “

“ baik, biar aku saja yang bawa mobil kerumah pak “

“ tapi, nyonya tidak mengijinkan menyetir sendiri “

“ aku hanya ingin tahu apa ibu masih peduli sama aku atau tidak “


Sebelum pak Parjo berkata untuk protes lagi aku sudah memasukkan gigi 2 sebelumnya lalu aku menancap gas dan masuk rumah, sepi yang aku dapati, aku langsung ke kamar ternyata di ruang tamu ibuku melototiku dengan pandangan curiga
“ kenapa ibu menatapku seperti itu ? “ ibuku hanya melirikku

“ yaudah nesa pulang “ aku langsung nyelonong

“ hei aturan darimana seperti itu, anda tidak sadar berurusan dengan siapa? pulang bawa mobil sendiri, masuk rumah tidak salam, tidak cium tangan ibu ? mana pak Parjo ?“
tuh kan pertanyaan mana yang aku jawab duluan

“ maaf, Nesa capek “

“ capek, setelah melakukan apa ? kerja cari uang ?“

“ Nesa sekolah juga mikir, butuh semangat dan motivasi, Nesa tidak butuh uang yang menghilangkan kasih dan sayang “

“ tanpa uang kamu tidak bisa sekolah “

“ bisa saja dapat beasiswa “

“ kamu tidak sejenius yang kamu kira, matematika dapat C.”
“ karena ibu tidak peduli padaku “ ucapku sesak.
“ cukup, sekarang kamu masuk kamar dan siap-siap makan siang“

“ makan siang saja sendiri “ aku langsung ke kamar

“ Nesa “ ibuku bernafas besar

“ Nesa ingin sendiri“

“ nanti malam ikut ibu dan ayah makan malam, ada yang mau ibu kenalin ke kamu “

“ Nesa mau istirahat bu “ ucapku pelan
“ kalau begitu lusa “

“ hm “

 Ibu memang selalu egois sejak aku lahir. Mungkin sejak sebelum aku lahir.

0 komentar:

Posting Komentar