Terimakasih, Pupu. Part II





PAPA POV


" ma, kita harus pindah dari rumah ini " papa bilang ke Mama sambil memandangi Putri tunggalnya.
" praktik mama, gimana pa? mama tidak mungkin bisa meninggalkan Pupu sendirian lagi. tapi mama juga tidak bisa meninggalkan rumah sakit ini pa " jelas mama.

" ma, kita cuma punya 1 anak. Pupu, Papa gamau kehilangan Pupu. apapun akan Papa bayar buat keberlangsungan hidup Pupu. lingkungan disini tidak bagus untuk
mendukung keberlangsungan hidup Pupu " pinta Papa.

" karena kejadian ini, Pupu mempunyai trauma yang sangat parah pa. hasil tes menyatakan bahwa kemungkinan paling buruk ia bisa amnesia jangka pendek karena shock tapi jika ia masih ingat, hal ini akan mempengaruhi psikologisnya." jelas Mama.


" papa urus kepindahan mama ke Jawa timur. disana papa akan beli rumah yang mendukung kepulihan Pupu,"

" Papa, Papa mamaaaa " mama dan papa bergegas ke dalam ruangan Pupu.
" papa disini sayang. tidak apa-apa " papa menenangkan Pupu.


Ada perasaan tidak rela ia melihat putrinya menjadi lemah seperti ini. Papa merasa bersalah karena ia telat menjemput Pupu pulang dari bimbel. Papa memang menekankan Pupu untuk menjadi gadis yang pintar, jenius dan cerdas. maka dari itu papa memaksa Pupu ikut les di sebuah bimbel yang terpercaya. setiap 4 hari sekali dalam seminggu. sisanya Pupu gunakan untuk les piano dirumah. hari Minggu Pupu gunakan untuk quality time bersama keluarga.


" Pupu kenapa ada disini, pa? ma? " tanya dia. papa menghela napas lega. Sepulang Pupu dari rumah sakit. Papa juga memberi tau pada Pupu untuk siap-siap pindah dari sini. Papa memberi saran kepada mama untuk melakukan apapun kesukaannya asal tidak membiarkan Pupu sendirian. Sejak Pupu sudah sibuk dengan home schoolingnya. Mama Pupu mulai menulis beberapa novel fiksi dan non-fiksi. semua novel fiksi mama tentang Romance.

Sebelum ia merilis ke penerbit. mama selalu memberi kesempatan Pupu untuk membacanya. Pupu tumbuh menjadi gadis yang kritis dalam beropini. karena itu mama mempercayainya untuk mengkritik habis-habisan novel mamanya. Keadaan ini membuat papa berani meninggalkan keluarga kecilnya di rumah, sedang ia mengajar di Bandung tiap weekdays,

Kembali pada Pupu 21 tahun.

Jari-jari Pupu menari-nari indah diatas tuts piano. Tiap kali Pupu memainkan pianonya. Ia mendapatkan inspirasi yang baru. Kali ini dia memahami satu hal bahwa the piano keys are black and white but the sound like a million colors in our mind even we are lonely, we can sound the keys and make our world crowded.


“pupu, Papa pulang “ teriak papa dari luar rumah.
Pupu menghentikan permainan pianonya, dia berlari menyambut kepulangan papanya. Ia melihat mamanya memeluk papa. Pupu ikut memeluknya. Tidak ada hari yang bahagia selain hari dimana papa dan mama ada disisi Pupu. Papa Paru-paru Pupu, Mama oksigen Pupu. Papa dan mama adalah dunia Pupu.

Setiap sore menjelang maghrib, Pupu dan Papa selalu berjalan-jalan disekitar desa. Lokasi desa yang berada di lereng gunung penanggungan membuat senja disana lebih indah. 

Terkadang senja yang diselimuti kabut itu lebih indah daripada senja yang cerah tanpa kabut. Tuhan tidak pernah bercanda menciptakan semestanya. Selalu indah dan bermakna.

“ Pupu, Bagaimana dengan kompetisi Piano minggu depan? Sudah berapa persen? “ tanya papa kepada Pupu.

“ 90% Pupu siap pa “ jawab Pupu

“ kok hanya 90% sayang? Tanya papa lagi.

“ karena 10%nya kan ada di Papa. Pupu selalu siap kalau papa hadir di acara nanti “ jawab Pupu yakin.

“ Pupu, sayang.. Pupu harus yakin sama diri Pupu sendiri. Walaupun Papa ga hadir kan masih ada mama. Mulai sekarang dibiasakan ya. Siap enggak siap Pupu harus mempersiapkannya dengan 100% ya. Pinta papa

“ siap pa “ jawab pupu yakin.

“ Pupu semangat ya sayang, belajarnya. Papa berharap Pupu selalu menjadi yang terbaik “ harap Papa.


0 komentar:

Posting Komentar