Tidak disangka oleh Pupu, lelaki itu malah ikut duduk menemani
Pupu. Ia memutar-mutarkan ponsel pintarnya. Lalu berkata “ bagi cewek seumuran
kamu, tidak bagus jam segini masih diluar “ dia bilang sambil memperlihatkan
jam yang menempel ditangannya. Tepat pukul set2 malam. Kaki Pupu terasa mati
rasa karena terlalu lama duduk di posisi yang tidak biasa. Ia berusaha berdiri
tapi malah terjatuh. Dengan sigap lelaki tadi menangkapnya. Pupu langsung
menghindar darinya.
“ Hagyu. Panggil aku Hagyu” lelaki itu mengulurkan tangannya lagi.
Kali ini Pupu mencoba untuk menerima uluran tangan itu. Pupu sempat lupa bahwa
gaun yang dipakai sekarang ia menandakan bahwa Pupu siap menerima orang baru
dalam hidupnya. Tapi masa iya diposisi yang seperti ini? Disaat pupu ditinggal
mama dan papa ! kenapa enggak seromantis di novel-novel. Semesta. Ini tidak
lucu.
Belum sempat Pupu mengucapkan namanya. Ponsel pintar Pupu
berdering, disana ada terlihat kontak Mama memanggil.
“ sayang, pulang sekarang ya. Naik taxi online aja “
Belum sempat Pupu menjawabnya. Telfon sudah dimatikan. Ekspresi
saat Pupu mengangkat telfon tadi sangat girang dan berusaha menceritakan
kemenangan Pupu. Tapi yang ia dapat malah ketidakpedulian. Pupu membanting
ponsel pintarnya.
Ia berlari dari orang-orang yang bisa melihatnya berlari. Ia
ingin dirinya tidak terlihat daripada terlihat tapi tak dipedulikan. Belum
sampai keluar dari gerbang gedung. Hagyu berhasil menarik tangan Pupu. Hagyu
merasa marah melihat Pupu tidak mematuhi perintah mamanya. Hagyu memaksa Pupu
untuk pulang. Hagyu berhasil membawa Pupu ke dalam mobilnya.
“ hei, maaf anda siapa. Tolong jelaskan pada saya kenapa anda
membawa saya ke mobil anda ? “ dengan kekuatan yang ada, Pupu memukul Hagyu dengan
Pialanya.
“ sakit, astaga. Bisa tidak, anda diam saja dan tunjukkan saya
alamat rumah anda ? ” paksa Hagyu.
“ aku tidak ingin pulang “ Pupu dan Hagyu saling menatap.
“ jika anda tidak nyaman, jangan pakai kata aku untuk membuatku
nyaman dengan anda, itu akan menjadi tidak adil “ pinta Hagyu.
“ Aku enggak mau pulang “ jawab Pupu lagi.
“ Anda harus pulang “ Hagyu mengambil ponsel pintar Pupu yang
sedikit retak karena dibanting. Ia membuka melalui face lock. Tanpa pikir
panjang. Ia mengirim nomor mama pupu ke ponsel pintar milik Hagyu.
“ hei anda jangan kurang ajar. Ini privasi saya “ jika menjadi
gadis yang kalem tidak membuat Hagyu luluh. Pupu kembail ke private mode
hidupnya. Yang sudah bertahun-tahun ia lakukan.
Hagyu tidak menghiraukan semua tingkah Pupu. Ia menelepon mama
Pupu. Lama tidak diangkat. Setelah 4x berdering. Barulah ia mendapat balasan
suara dari sana.
“ apakah ini dengan keluarga Handini. Mohon maaf atas kesalahan
yang telah dilakukan suami saya. Mohon doanya. Semoga suami saya tenang disana
“
Hagyu sangat bersyukur Pupu belum mendengar telepon mamanya. Ia
belum mengaktifkan tombol speaker di teleponnya. Telepon masih terhubung.
“ nyalain ga speakernya! “ pinta Pupu. Setelah selesai
mencakar-cakar Hagyu dengan kukunya yang indah menawan.
“ Pupu sayang, apa disana ada Pupu ? “ tanya mama Pupu.
“ tante, ini teman baru Pupu ingin mengantar Pupu pulang tapi
Pupunya tidak memberi ijin. Bolehkah tante memberi saya location rumah Pupu
agar saya bisa mengantarkan dia pulang dengan cepat. “
Lokasi kompetisi dengan rumah Pupu lumayan jauh. Membutuhkan
sekitar 1 jam lebih untuk menempuh jalan ke rumah Pupu. Pupu sudah terlelap
tidur di kursi penumpang. Pupu tidak ingin di kursi depan dengan orang asing.
Meskipun Pupu sudah kenalan. Tetap saja Pupu adalah seorang gadis yang tidak
bisa berinteraksi baik dengan orang lain.
Hagyu Indre Pagando
Demi tuhan. Tidak pernah terlintas dalam pikiran Hagyu akan
bertemu dengan gadis yang hatinya dingin, Pupu. Pemenang lomba piano dan
parahnya ini bertepatan dengan waktu dimana papanya harus meninggalkan bumi
ini. Pupu yang malang tapi penuh kesan menawan dalam dirinya.
Di perjalanan menuju rumah Pupu, Hagyu mengumpulkan energi untuk
menenangkan Pupu nantinya. Kalau bisa Hagyu akan selalu ada menemaninya. Dering
telfon memecahkan keheningan perjalanan yang menyelimuti mobil Hagyu.
“ Halo mama. Ma, Hagyu malam ini pergi ke rumah teman. Hagyu harus
menenangkan teman Hagyu yang baru saja di tinggal papanya, ma “
Setelah menerima wejangan dari mama hagyu. Hagyu menutup telfon
mamanya.
“ Papa? Yang kamu maksud papa aku udah ga ada ? itu papa aku ? “
tanya Pupu pada Hagyu.
“ Pupu, maaf “ jawab Hagyu singkat.
Setelah bertanya. Pupu tidak lagi bergeming. Mungkin Pupu sedang
menahan tangis di belakang.
“ Pupu, kita sudah sampai “ Hagyu sangat berhati-hati memapah Pupu
ke rumah. Rumah Pupu yang sudah penuh dengan orang-orang berbaju hitam. Bendera
hijau sudah dikibarkan di depan gerbang rumah Pupu. Hagyu melihat wajah Pupu
dengan hati yang ikut rapuh. Seperti ada lampu yang selalu terang. Namun,
dengan tiba-tiba lampu itu padam, diikuti jiwa Pupu yang dingin, kini
perlahan-lahan menjadi hangat.
“ tidak, ini tidak mungkin, aku pasti sedang mimpi. “
Tiba-tiba Pupu mencari ranting pohon yang ada di halaman rumahnya.
Ia mematahkan ranting itu lalu menggoreskannya ke lengan sebelah kiri.
“ ah sakit “ lirih Pupu. Sambil menutup darahnya yang otomatis
mengalir. Pupu langsung berlari menuju dalam rumah, mencari mama namun yang ia
temukan malah tubuh papa yang sudah tidak bernyawa.
“ tidak, ini tidak mungkin terjadi “ Pupu mundur. Ia kembali ke
halaman rumah. Disana ia menemukan Hagyu yang juga sedang memandangnya.
“ hagyu, papa aku tidak mungkin meninggal “ sambil memegangi
lukanya. Ia terduduk lemas. Dari belakang mamanya memeluk Pupu,
“ sayang “ panggil mamanya. Pupu memeluk mama lebih erat.
“ mama. Papa, maaa. Maaa Papa enggak mungkin pergi. Pupu sudah
pulang bawakan piala untuknya ma. Ah piala. Pialanya di mobil. “ Pupu histeris
lalu lari menuju mobil Hagyu. Ia baru ingat Pialanya tadi pecah untuk
pertahanan dirinya karena Hagyu yang mendekati Pupu. Pupu berhenti tepat di
depan Hagyu. Ia berkata :
“ apakah kamu datang untuk mengacaukan hidupku? Kenapa kamu harus
ada disini sekarang? Kenapa papa pergi meninggalkan aku sekarang? Tidak berhak
kah aku untuk membuat papa bangga padaku? Semesta kenapa engkau tega sekali,
semesta, Papa bilang kau diciptakan untuk memperindah alam. Tapi aku baru sadar
1 hal. Seindah apapun kamu diciptakan, disana ada senja yang berusaha mengukir
akhir dari kebahagiaan. “
Badan Pupu ambruk tepat setelah ia menyelesaikan kata terakhirnya
yang sebenarnya sudah tersendat-tersendat. Hagyu membawa Pupu ke kamarnya. Mama
Pupu lebih sedih dari anak semata wayangnya yang egois dan manja.
“ hagyu, saya minta maaf atas perlakuan Pupu ya “ pinta Mama pupu.
“ Iya tante, saya mengerti “ jawab Hagyu.
“ Kamu adalah teman pertama Pupu setelah 11 tahun terakhir ini,
terimakasih Hagyu “ kata mama Pupu.
Hagyu hanya memangguk. Ia tidak mengerti maksud mama Pupu
bagaimana, semakin Hagyu mencoba masuk ke dalam hidup Pupu. Hagyu semakin
penasaran dan penasaran.

0 komentar:
Posting Komentar