Terimakasih, Pupu. Part III





Hari festival piano.

Pupu memakai gaun warna putih, rambutnya diikat dan tidak lupa mahkota di atas kepalanya. Hari ini penampilan Pupu bak bidadari yang turun dari langit. data-p-id=7a4fdb5d29d846abbe71c84bea9ca47c,Kesepian adalah teman Pupu yang paling setia, sejak dia pindah. Pupu memutuskan untuk Home schooling. Sekolah dirumah treat Pupu menjadi anak yang kurang mahir bersosialisasi. 
Rumus matematika dikuasainya, tapi tidak dengan rumus makhluk sosial. Pupu memilih gaun warna putih untuk memberi clue kepada penonton. Bahwa Pupu sudah berani membuka diri. Bagi Pupu warna putih adalah warna yang paling apa adanya. 
Warna putih mampu mencampurkan diri ke dalam warna-warna lain tanpa takut merusak warna itu sendiri. Bahkan warna putih mampu menerangi warna hitam sekalipun. Untuk Papa, malam ini Pupu akan berusaha 100%.
data-p-id=d868843a355bbae69259b5777ce91956,Jari-jari Pupu sudah bersemayam indah diatas keys piano, ia memulai lagunya dengan senang hati, dengan penuh keyakinan menghibur penonton, ia maksimalkan penampilan malam ini. Untuk Papanya tercinta. 
Penampilan Pupu membawakan lagu River Flows in You milik Yiruma menjadi penampilan paling memukau malam ini. Pupu mendapatkan 4 standing applause sekaligus. Perasaan lega telah menyelimuti tubuh Pupu. Dalam hati Pupu ia ingin sekali memeluk Papa. Tetapi kenapa papa belum datang juga. Astrid turun dari panggung. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari Papa dan Mamanya.

“ apakah Papa sudah pulang? Terus mama kemana? “ tanya Pupu ke salah satu crew yang tadi menemani Pupu.
“ tadi mama mbak Pupu buru-buru pergi. Saya tidak sempat bertanya karena harus memantau penapilan mbak Pupu. Ditunggu sini saja mbak “ ucap crew itu kepada Pupu.
Pupu segera berlari keluar dari hall center. Mungkin mama ada di kamar mandi. Sampai sana Pupu memanggil Mamanya. Nihil. Pupu segera berlari menuju pintu utama. Ia tidak menghiraukan jalan disekitarnya.
“ aw, sakit “ keluh Pupu. Ia terpental mepet ke dinding. Pupu membuka matanya lalu mencari benda yang menabraknya. “ apakah ada benda yang sangat besar sehingga membuatku terpental? “ tanya Pupu.
“ sorry “ ucap seorang lelaki. Ia memiliki mata yang sipit, alis yang tebal, hidung yang mancung dan kulit yang berwarna sawo matang.
“ ah ternyata manusia. “ Pupu menjawabnya, ia menghiraukan uluran tangan yang diberikan oleh sosok lelaki itu.
Pupu berlari sampai pada parkiran mobil mamanya. Nihil. Mobil mama Pupu juga tidak ada. Semesta. Ada apa ini ?
Pengumuman lomba sudah diumumkan, Pupu mendapatkan juara pertama. Ia ditelfon oleh crew lomba untuk segera mengambil hadiah diatas panggung. Lighting panggung yang sangat terang memperlihatkan kecantikan Pupu yang tidak banyak orang bisa melihatnya, sikap dia yang dingin dan tertutup membuat dia menjadi manusia yang penuh misteri. Dalam pidato kemenangannya ia hanya mengucapkan.
“ siapapun yang melihat mama dan papa saya. Tolong beritahu saya ada di lobi, saya akan menunggu mereka menjemput saya disana “
Pupu langsung turun lagi berlarian menuju lobi sambil membawa piala dan bunga kemenangannya. Buat apa Pupu menang kalau mama dan papa enggak hadir? Buat siapa Pupu menang? Buat apa Pupu berada disini kalau mama ninggalin Pupu, apakah sudah direncanakan sebelumnya? Bisa aja Papa merekayasa kemenangan Pupu buat pesangon Pupu pergi dari hidup mama dan papa. Papa, please, Pupu hanya butuh alasan kenapa mama dan papa tidak bisa ia temukan tepat setelah ia menyelesaikan penampilannya.

Pupu sudah biasa menepis kesepian bahkan di tempat yang ramai ini. Sepi tetap berada di samping Pupu. Pupu duduk di bawah dengan menekuk kedua kakinya. Ia menopang dagunya dengan lengannya. Ia memainkan ponsel pintarnya sambil menunggu balasan dari mama dan papanya. Mereka berdua tidak bisa dihubungi. Semesta, sampai kapan Pupu harus menunggu disini?
Sorotan cahaya putih datang dari mobil sport membuat Pupu berdiri dari duduknya. Ia menutup kedua matanya dengan tangan kananya. matanya tak mampu menerima cahaya secepat itu dan sangat terang. Dari mobil itu ia melihat lelali yang tadi yang menabraknya. Ia seperti berjalan mendekati Pupu. Pupu kembali pada posisinya. Menuggu kabar dari mama dan papanya. “ tuhan, tolong aku. Aku ingin pulang” pinta Pupu dalam hati.
“ hai, sorry “ sapa lelaki berhidung mancung itu.
Pupu tidak menjawab, sebenarnya dalam hati Pupu ia ingin sekali menjawab dan ingin meminta pertolongannya. Tapi Pupu adalah gadis yang enggak jago berinteraksi. Apalagi dengan sesama jenis. Pupu tetaplah Pupu yang dulu, belum berubah. “ tuhan, apa yang harus Pupu lakukan? “

0 komentar:

Posting Komentar