Hari
festival piano.
Pupu memakai gaun warna
putih, rambutnya diikat dan tidak lupa mahkota di atas kepalanya. Hari ini
penampilan Pupu bak bidadari yang turun dari langit. Kesepian adalah teman Pupu yang
paling setia, sejak dia pindah. Pupu memutuskan untuk Home schooling. Sekolah
dirumah treat Pupu menjadi anak yang kurang mahir bersosialisasi.
Rumus
matematika dikuasainya, tapi tidak dengan rumus makhluk sosial. Pupu memilih
gaun warna putih untuk memberi clue kepada penonton. Bahwa Pupu sudah berani
membuka diri. Bagi Pupu warna putih adalah warna yang paling apa adanya.
Warna
putih mampu mencampurkan diri ke dalam warna-warna lain tanpa takut merusak
warna itu sendiri. Bahkan warna putih mampu menerangi warna hitam sekalipun.
Untuk Papa, malam ini Pupu akan berusaha 100%.
Jari-jari Pupu sudah bersemayam
indah diatas keys piano, ia memulai lagunya dengan senang hati, dengan penuh
keyakinan menghibur penonton, ia maksimalkan penampilan malam ini. Untuk
Papanya tercinta.
Penampilan Pupu membawakan lagu River Flows in You milik
Yiruma menjadi penampilan paling memukau malam ini. Pupu mendapatkan 4 standing
applause sekaligus. Perasaan lega telah menyelimuti tubuh Pupu. Dalam hati Pupu
ia ingin sekali memeluk Papa. Tetapi kenapa papa belum datang juga. Astrid
turun dari panggung. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari Papa dan Mamanya.
“ apakah Papa sudah pulang? Terus mama kemana? “ tanya Pupu ke
salah satu crew yang tadi menemani Pupu.
“ tadi mama mbak Pupu buru-buru pergi. Saya tidak sempat bertanya
karena harus memantau penapilan mbak Pupu. Ditunggu sini saja mbak “ ucap crew
itu kepada Pupu.
Pupu segera berlari keluar dari hall center. Mungkin mama ada di
kamar mandi. Sampai sana Pupu memanggil Mamanya. Nihil. Pupu segera berlari
menuju pintu utama. Ia tidak menghiraukan jalan disekitarnya.
“ aw, sakit “ keluh Pupu. Ia terpental mepet ke dinding. Pupu
membuka matanya lalu mencari benda yang menabraknya. “ apakah ada benda yang
sangat besar sehingga membuatku terpental? “ tanya Pupu.
“ sorry “ ucap seorang lelaki. Ia memiliki mata yang sipit, alis
yang tebal, hidung yang mancung dan kulit yang berwarna sawo matang.
“ ah ternyata manusia. “ Pupu menjawabnya, ia menghiraukan uluran
tangan yang diberikan oleh sosok lelaki itu.
Pupu berlari sampai pada parkiran mobil mamanya. Nihil. Mobil mama
Pupu juga tidak ada. Semesta. Ada apa ini ?
Pengumuman lomba sudah diumumkan, Pupu mendapatkan juara pertama.
Ia ditelfon oleh crew lomba untuk segera mengambil hadiah diatas panggung.
Lighting panggung yang sangat terang memperlihatkan kecantikan Pupu yang tidak
banyak orang bisa melihatnya, sikap dia yang dingin dan tertutup membuat dia
menjadi manusia yang penuh misteri. Dalam pidato kemenangannya ia hanya
mengucapkan.
“ siapapun yang melihat mama dan papa saya. Tolong beritahu saya
ada di lobi, saya akan menunggu mereka menjemput saya disana “
Pupu langsung turun lagi berlarian menuju lobi sambil membawa
piala dan bunga kemenangannya. Buat apa Pupu menang kalau mama dan papa enggak
hadir? Buat siapa Pupu menang? Buat apa Pupu berada disini kalau mama ninggalin
Pupu, apakah sudah direncanakan sebelumnya? Bisa aja Papa merekayasa kemenangan
Pupu buat pesangon Pupu pergi dari hidup mama dan papa. Papa, please, Pupu
hanya butuh alasan kenapa mama dan papa tidak bisa ia temukan tepat setelah ia
menyelesaikan penampilannya.
Pupu sudah biasa menepis kesepian bahkan di tempat
yang ramai ini. Sepi tetap berada di samping Pupu. Pupu duduk di bawah dengan
menekuk kedua kakinya. Ia menopang dagunya dengan lengannya. Ia memainkan
ponsel pintarnya sambil menunggu balasan dari mama dan papanya. Mereka berdua
tidak bisa dihubungi. Semesta, sampai kapan Pupu harus menunggu disini?
Sorotan cahaya putih datang dari mobil sport membuat Pupu berdiri
dari duduknya. Ia menutup kedua matanya dengan tangan kananya. matanya tak
mampu menerima cahaya secepat itu dan sangat terang. Dari mobil itu ia melihat
lelali yang tadi yang menabraknya. Ia seperti berjalan mendekati Pupu. Pupu
kembali pada posisinya. Menuggu kabar dari mama dan papanya. “ tuhan, tolong
aku. Aku ingin pulang” pinta Pupu dalam hati.
“ hai, sorry “ sapa lelaki berhidung mancung itu.
Pupu tidak menjawab, sebenarnya dalam hati Pupu ia ingin sekali
menjawab dan ingin meminta pertolongannya. Tapi Pupu adalah gadis yang enggak
jago berinteraksi. Apalagi dengan sesama jenis. Pupu tetaplah Pupu yang dulu,
belum berubah. “ tuhan, apa yang harus Pupu lakukan? “

0 komentar:
Posting Komentar