Terimakasih, Pupu. Part I


Photo by Zun Zun from Pexels

PUTRI HANDINI POV


Aku memandangi langit-langit melalui rezeki Tuhan, sepasang mata yang Tuhan berikan untuk membuat hidupku sempurna. Dengan mata ini aku bisa menikmati keindahan pemandangan di depan rumahku, rumahku terletak di lereng Gunung Penanggungan. Rumahku sangat tenang, karena tidak ada kendaraan yang melewati jalan di depan rumahku kecuali hanya kendaraan tetangga, itu membuat rumahku semakin nyaman dan suasananya menenangkan. 


Aku mengundurkan diri dari halaman. Tubuhku aku ambrukkan ke kasur empukku. Disana aku kembali bermain-main di dunia imajinasiku. Andaikan aku punya kakak, mungkin aku tidak akan se-kesepian ini, andaikan aku punya adik. Mungkin aku akan bermain petak umpat sampai gelapnya malam tiba. Tapi, itu hanya imajinasi lembutku..


" Pupu. makan malam dulu sayang " ternyata mamaku sudah ada di samping tubuhku ini yang lemah. 

" Ah, sejak kapan mama masuk kamar Pupu ?" Tanyaku.
" Sejak kamu memejamkan mata, sayang. " jawab mama.


Ia memapahku berjalan menuju dapur. Aku tidak sakit. Tapi, mama dan papa selalu memanjakan aku. Dapur di rumahku sangat minimalis, mama tidak suka barang-barang yang tidak berguna diperlihatkan jadi mama belikan lemari khusus untuk barang-barang itu. Tetapi, ada hal unik yang ada di rumahku. 

Di setiap sudut ruangan selalu tersedia buku-buku, di dapur ada buku memasak milik mama, ada beberapa novel romance, dan bacaan non fiksi milik papa. Sedangkan di ruang tamu, ada banyak majalah fashion dan katalog brand langganan mama, ada juga novel romance dan kotak besar yang isinya DVD koleksi mama dan papa. 

Di kamar mereka juga menyimpan ruangan rahasia yang isinya koleksi buku milik mereka. Papa seorang dosen ilmu astronomi universitas terkenal yang ada di Bandung. sedangkan mama seorang penulis terkenal yang bukunya selalu ada di rak top teen yang ada di Gramedia. 

" Ma, mama kalo kesepian ngapain ? " tanyaku ke mama
" Mama ya, menulis kalo enggak gitu kan biasanya kita main ke Bandung. " jawab Mama gampang.
" Oh gituu, Anyway Ma, aku ingin deh selalu ada di keramaian " pintaku
" Mau ke mall abis makan ini ? " tawar mama

Bukan keramaian itu yang aku maksud, di usiaku yang menginjak 21 tahun. Itu membuat aku penasaran bagaimana rasanya mencintai dan dicintai. Aku sudah dapatkan cinta pertamaku dari papa. Menurutku papa adalah cowok terkeren yang ada di bumi ini. Tapi, aku inginkan yang lain. 

Seperti di novel yang berjudul Kata. Aku iri dengan karakter utamanya, Binta. Dia gadis unsosial yang bisa-bisanya menolah cowok seganteng Anug, anak Arsitek. Demi cintanya pada Biru. Jadi apakah kesepianku ini parah? Bagaimana bisa aku iri pada karakter utama dalam cerita fiksi?

Semesta, bolehkah aku menyampaikan 1 pertanyaan dalam doaku ? kenapa aku diberi kehidupan yang tenang dan sepi ini? apakah aku akan menjadi tamak kalau aku inginkan keramaian? aku sadar kesepian ini sudah sangat sempurna. 


Aku tidak mengiyakan tawaran mama, aku memutuskan untuk telepon papa setelah makan, sedangkan mama masih membuat kue untuk merayakan kedatangan papa dari Bandung besok. 
"Halo sayang Pupu" terdengar suara riang disana

" Iya pa, pa coba deh panggil Putri aja. hehe" pintaku
" Kenapa sayang? Pupu adalah nama panggilan favorit papa dan mama loh " jawab papa
" Uhm, but. aku rasa aku sudah dewasa sekarang pa " aku ngeyel.
" Waah, enggak akan. Pupu tetap gadis kecil papa yang imut  " tak kalah juga papa ngeyel
" Ih papa. aku ingin jatuh cinta paa " rengekku.
" Hahahahaha " aku letakkan handphone di dekat mama. 
" Ah papa enggak seru ma. Akunya malu di-ketawa-in " bilangku ke mama.

" Hahahaha kamu sih ada-ada aja. Mending ikut saran Papa. Kamu pindah ke universitas aja.
 Mama coba tebak ya, Pupu sekarang pasti jenuh ya? " jawab mama 
" Hehe, Enggak juga sih, kan ada mama dan papa. Pupu enggak jenuh kok ma " jawabku.
" Tapi, ma. kenapa aku takut dengan cowok-cowok yang memakai seragam sekolah SMA ? " tanyaku lagi.


1 DEKADE YANG LALU

Lampu-lampu dijalanan mulai menyala, hiruk pikuk keramaian jalan mulai menyepi. Di sebuah gang yang sempit, ada seorang gadis yang cantik sedang berjalan. Angin sepoi-sepoi menghembus rambutnya. Ia menelusuri gang untuk kembali ke rumah. Sambil menatap awan yang mulai menghitam. Dia bertanya kepada dirinya sendiri,
" Setiap hari harus pulang jam 6 petang kah?" 

Belum dapat jawaban atas pertanyaannya sendiri. Ia mendengar suara " meong" ternyata di pojok tempat pembuangan sampah. Ia melihat seekor kucing mencari makan. Pupu menunggu kucing itu sampai selesai makan. 

" Kucing kenapa kamu sama sekali tidak takut dengan gelapnya malam?" tanya dia pada kucing itu. 
Lalu, Pupu mendengar suara gaduh di belakang gedung yang ada di samping pembuangan sampah. Karena ia bocah yang masih 11 tahun tapi memiliki rasa penasaran yang sangat besar. Ia mendekat ke arah sumber suara. Disana ia melihat seorang gadis dan ketiga teman lelakinya. 

" Tapi kenapa mereka berantem? " tanya Pupu dalam hati.

" Jangan lakukan ini padaku. tTolong " gadis itu meminta pertolongan.

Ia mendekat ke suara perempuan itu. Semakin dekat semakin jelas ia melihat gadis itu sedang dilepas paksa seragamnya. Gadis itu memakai seragam SMP. Ia berkali-kali mencoba melawan tapi yang ia dapat malah tamparan keras dari seorang laki-laki yang melepas seragam dia secara paksa. Seorang laki-laki itu terlihat memberi kode kepada kedua temannya yang berjaga-jaga. 

Mendung semakin mendukung aksi bejat mereka. Semakin gelap dan semakin sepi. Tanpa sadar Pupu sudah menangis melihat kejadian itu. 

" Mama papa. Pupu takut " Pupu menangis sejadi-jadinya.

" Mamaaaa " teriakan Pupu yang pada akhirnya didengar oleh salah satu dari 3 lelaki itu.
Lelaki itu semakin mendekat ke arah Pupu. Pupu melepaskan kucing yang sedari tadi ia gendong. "PAPA" dia menjerit sambil memanggil papanya.

" Papa ada kakak jahat yang mendekati Pupu " semakin dekat kakak lelaki itu ke arah Pupu. Tubuh Pupu bergetar hebat pada saat itu, yang ia lakukan hanya berteriak dan menyebut mama dan papanya. Pandangan mata Pupu semakin buram dan kepala Pupu semakin berat, dengan sisa kekuatan yang ada ia berteriak sekali lagi. 

" PAPAAAAAA " 

Samar-samar ia melihat papa berjalan kearahnya. "papa" panggilan terakhir Pupu sebelum Pupu benar-benar tidak sadarkan diri.

0 komentar:

Posting Komentar