Ketika Tanganmu Berlambai


Aku mencintai seseorang
Seseorang insan muda yang jenius nan cerdas
Ia mengikat hatiku yang lemah bak daun yang layu
Ia yang selalu tak lepas oleh pandanganku
Suatu hari..
Ia bernada ana uhibu fillah
Lalu istikharah yang berwarna hijau
Datang dimimpi malamku yang gelap
Cinta itu bersatu karena tuan yang berkehendak
Indah aku menyairkan isi hatiku
Karena ia yang semangat menjalani kehidupan
Aku tak mau kalah dengannya
Seperti orang yang bersaing dalam perlombaan
Mutlaknya..
Dua insan adalah sepasang burung merpati
Berlaga hingga membumbung dilangit tertinggi
Hatiku kini sudah sekuat baja
Namun …
Waktu berjalan tanpa lampu merah
Memeluk prestasi atau cinta ?
cinta itu seakan memudar
Tuan pemilik segala nama
apa yang harus dilakukan?
Dua insan melepaskan tangan sampai diujung jari
Berarti usai sudah sebuah kisah
Aku tersenyum melihat ia melambaikan tangan
Hingga bayangnya tak terjangkau
Pandanganku memudar bagaikan hanya debu yang terlihat
Aku merasakan air yang mengalir deras di pipiku
Semboyanku cinta..
Apakah pantas untuk menangis?
Ketika ia berlambai aku tersenyum
Seperti orang yang benar-benar kuat nan qana’ah
Dan menangis ketika ia telah pergi
Sakitnya itu disini
Di dada yang tidak berdarah merah kehitam-hitaman

0 komentar:

Posting Komentar