Chapter 4 - My Dream and My Love 2

 


 “ iyaya aku turun “ suaraku aku keraskan dan langsung berlarian pelan menyusuri tangga ke dapur, ku lihat sosok lakilaki tua yang rambutnya sudah berubun, jenggotnya pun hampir ada ubunnya tapi badannya sangat kekar dan tinggi, kulitnya yang berwarna putih, hidungnya yang lumayan mancung, matanya yang sudah di temani kacamata dan senyumannya yang sangat tak terlupakan, dialah yang menimangku ketika aku nangis dan ibuku masih mandi dan dia lah ayahku ~ayah yang sangat bijak dan bertanggung jawab.
Aku lihat nasi dan lauk pauk masih belum terjamah sedikitpun haha benar kata kak andi
“ lama banget sih “ celotehnya
“ ini juga udah turun kak, makan tuh nasi “ jawabku
“ nasi pake ayam “ jawab kak andi lagi, sambil menjulurkan piringnya yang kosong ke hadapanku
“ yeah~ ambil sendiri “ timpalku dan ngambil nasi untuk piringku
“ ehm, sudahsudah, kalian ini masih kekanakkanakan deh “ sahut ibuku
“ kak andi bu “ aku menjawabnya sambil menyambut nasi pertama
“ dinda bu “ piringnya kak andi masih kosong lalu diambil alih oleh ibuku dan diambilkan makanan untuk kak andi “segini kurang apa kak” Tanya ibuku pada kak andi
“ udah bu “
“ kak andi ngambek bu “ sahutku
“ hmm hmm sudah dimeja makan jangan banyak bicara ya, dilanjutin nanti saja di ruang tengah “ suara yang tadi diam sekarang ikut manimpali dan memberi  nasihat
“ ayah, klo nanti dilanjutin bisa jadi berantakan semua rumahnya “ ibuku menyahutinya
“ okeoke gini, andini dan andi kalian harusnya sering2 ontropeksi diri dan daripada waktu kalian habis digunakan untuk hal yg ngga penting seperti ini, mending belajar aja dan andi kembalilah ke kampusmu kapan kau akan mulai membuat tesis jika disini terus “ sahut ayah dengan nada bijaksana
“ iya yah “ jawab kak andi
“ aku ke kamar dulu yah, udah selesai “ aku memotong pembicaraan
“ ayah mau bicara sama andini dulu, disini dulu “ pinta ayah
Apakah gerangan ini? Aku ada salah kah ? em, nilai sekolahku ? ah tidak aku juara kelas, tentang extra yang mulai padat jadwalnya n menguras waktu belajar ? tidak juga, aku tetap jadi juara kelas, lalu tentang apa ? apa karena aku makin kurus ? ah ngapain ayah jd ngususin penampilanku yang sering juga ibuku, lalu apa ???
Khawatir, gugup dan takut karena ngga biasanya ayah mgajakin bicara eh ngga berdua aja kan ? ah habis ini yaeah setelah makanan ayah habis, aku mulai duduk ngga tenang, aku melihat kak andi yang sepertinya juga perihatin dan khawatir, aku pijak kakiknya dari bawah meja kak andi langsung menolehku dan tersenyun puas, ah ternyata kak andi tega ya
ada apa yah ? tumben ngajakin bicara “tanyaku dan meminimalisir kegugupanku
“ nanti saja “ jawab ayah singkat
Ya allah…
“em iya yah “
“ langsung aja yah dimulai sekarang “ jawab kak andi meledek
“ andini, kau seberapa jauh kenal sama putranya pak adi sahabat ayah di SMA itu ? “ Tanya ayah tibatiba wajahku ingin aku tenggelamkan tapi gimana caranya? Ah kak andi juga berubah expresinya sepertinya kak andi juga khawatir kerana ngga ada senyuman di wajahnya lagi
“ andini ? “ panggil ayah seperti memperjelas
sejauh kak andi mengenal firman yah “ jawabku dan gugup
“ oh masih sejauh itu, baiklah “ sahut ayah sambil termanggutmanggut
 aku ke kamar dulu yah “ sahutku
“ iya kau jangn malemmalem tidurnya “ pinta ayah lagi
“ jangan lupa shalat isya dan belajar “ sahut ibuku yabg sekarang udah menghadap pada piringpiring kotor bekas makan malam
“ iya “ jawabku singkat
Aku menaiki tangga dengan langkah penuh pikiran, apa artinya ayah menanyakan hal itu dan kenapa yang ditanya hanya “seberapa jauh” lebih baik aku menghubungi firman dan menaynyakan hal ini, aku baru tau kli pak adi sahabat ayahku ayahnya firman.
 


0 komentar:

Posting Komentar