“ iyaya aku turun “ suaraku aku keraskan dan langsung
berlarian pelan menyusuri tangga ke dapur, ku lihat sosok lakilaki tua yang
rambutnya sudah berubun, jenggotnya pun hampir ada ubunnya tapi badannya sangat
kekar dan tinggi, kulitnya yang berwarna putih, hidungnya yang lumayan mancung,
matanya yang sudah di temani kacamata dan senyumannya yang sangat tak
terlupakan, dialah yang menimangku ketika aku nangis dan ibuku masih mandi dan
dia lah ayahku ~ayah yang sangat bijak dan bertanggung jawab.
Aku lihat nasi dan lauk pauk masih
belum terjamah sedikitpun haha benar kata kak andi
“ lama banget sih “ celotehnya
“ ini juga udah turun kak, makan tuh
nasi “ jawabku
“ nasi pake ayam “ jawab kak andi
lagi, sambil menjulurkan piringnya yang kosong ke hadapanku
“ yeah~ ambil sendiri “ timpalku dan
ngambil nasi untuk piringku
“ ehm, sudahsudah, kalian ini masih
kekanakkanakan deh “ sahut ibuku
“ kak andi bu “ aku menjawabnya
sambil menyambut nasi pertama
“ dinda bu “ piringnya kak andi
masih kosong lalu diambil alih oleh ibuku dan diambilkan makanan untuk kak andi
“segini kurang apa kak” Tanya ibuku pada kak andi
“ udah bu “
“ kak andi ngambek bu “ sahutku
“ hmm hmm sudah dimeja makan jangan
banyak bicara ya, dilanjutin nanti saja di ruang tengah “ suara yang tadi diam
sekarang ikut manimpali dan memberi nasihat
“ ayah, klo nanti dilanjutin bisa
jadi berantakan semua rumahnya “ ibuku menyahutinya
“ okeoke gini, andini dan andi
kalian harusnya sering2 ontropeksi diri dan daripada waktu kalian habis
digunakan untuk hal yg ngga penting seperti ini, mending belajar aja dan andi
kembalilah ke kampusmu kapan kau akan mulai membuat tesis jika disini terus “
sahut ayah dengan nada bijaksana
“ iya yah “ jawab kak andi
“ aku ke kamar dulu yah, udah
selesai “ aku memotong pembicaraan
“ ayah mau bicara sama andini dulu,
disini dulu “ pinta ayah
Apakah gerangan ini? Aku ada salah
kah ? em, nilai sekolahku ? ah tidak aku juara kelas, tentang extra yang mulai
padat jadwalnya n menguras waktu belajar ? tidak juga, aku tetap jadi juara
kelas, lalu tentang apa ? apa karena aku makin kurus ? ah ngapain ayah jd
ngususin penampilanku yang sering juga ibuku, lalu apa ???
Khawatir, gugup dan takut karena
ngga biasanya ayah mgajakin bicara eh ngga berdua aja kan ? ah habis ini yaeah
setelah makanan ayah habis, aku mulai duduk ngga tenang, aku melihat kak andi
yang sepertinya juga perihatin dan khawatir, aku pijak kakiknya dari bawah meja
kak andi langsung menolehku dan tersenyun puas, ah ternyata kak andi tega ya
“ ada apa yah ? tumben ngajakin bicara “tanyaku dan meminimalisir
kegugupanku
“ nanti saja “ jawab ayah singkat
Ya allah…
“em iya yah “
“ langsung aja yah dimulai sekarang
“ jawab kak andi meledek
“ andini, kau seberapa jauh kenal
sama putranya pak adi sahabat ayah di SMA itu ? “ Tanya ayah tibatiba wajahku
ingin aku tenggelamkan tapi gimana caranya? Ah kak andi juga berubah expresinya
sepertinya kak andi juga khawatir kerana ngga ada senyuman di wajahnya lagi
“ andini ? “ panggil ayah seperti
memperjelas
“ sejauh kak andi mengenal firman yah “ jawabku dan gugup
“ oh masih sejauh itu, baiklah “
sahut ayah sambil termanggutmanggut
“ aku
ke kamar dulu yah “ sahutku
“ iya kau jangn malemmalem tidurnya
“ pinta ayah lagi
“ jangan lupa shalat isya dan
belajar “ sahut ibuku yabg sekarang udah menghadap pada piringpiring kotor
bekas makan malam
“ iya “ jawabku singkat
Aku menaiki tangga dengan langkah
penuh pikiran, apa artinya ayah menanyakan hal itu dan kenapa yang ditanya
hanya “seberapa jauh” lebih baik aku menghubungi firman dan menaynyakan hal
ini, aku baru tau kli pak adi sahabat ayahku ayahnya firman.
0 komentar:
Posting Komentar