Chapter 6 - My Dream and My Love 2




Andini masih terpaku dengan pertanyaan ayahnya, ia mengambil hapenya dan sms firman,
Send : firman
 firman, apakah kau tau ayahmu itu sahabat ayahku ?
Andini memandang layar ponselnya tanpa arah seeprti melamun belum juga ada balesan dr firman
Send : firman
firman ?
layar itu tetap sama daritadi berwarna pink dengan tema boneka panda dan wallpaper andini sedang berpose manis dan anggun di bali kemarin ketika liburan bersama temantemannya
send : firman
semoga sibukmu bermakna murni dan semoga sehat selalu
andini sekarang sudah meletakkan ponselnya di samping bantal kasurnya ia sekarang menatap buku kimia yang akan dipelajari besok,
hening.. hanya ada suara goresan pensil dari tangan andini lampu kamar andini mulai remangremang hanya ada lampu didepan kepalanya dan cahaya monitor laptop yang hanya menyala berwarna biru, suara pensil itu perlahan menurun dan benarbenar hening dan sayup hanya sepoisepoi angin yang memburu, tapi lampu itu masih bersinar terang dikepalanya andini, andini meletakkan kepalanya di atas meja dan menelungkupkan tangannya untuk dijadikan bantal, ngantuk, hampir larut memang tapi kepala andini masih banyak berproses namun matanya sudah hampir menutup, andini bertasbih berharap dirinya tenang dan nyaman, ia berjalan melewati lemari berwarna cokelat muda yang ada tempelan foto di pintu lemari andini pelanpelan meletakkkan badannya diranjang dan tetap bertasbih, lampu meja belajar andini masih menyala mungkin pikirannya masih menyala andini teringat mimpinya tentang angsa dan teringat doanya untuk memberikan kekuatan pada kaum yang kurang, andini terlonjak dari ranjangnya bukan karena ingat akan mimpi dan doanya tapi kehadiran sosok yang dikenali oleh andini dengan remangremang andini melihatnya bukan takut kerana seperti hantu tapi takut akan kelakuannya yang diamdiam masuk tanpa ketuk pintu dan bersuara, andini menatap tajam bayangbanyag itu
“belum tidur kan dinda ? “ bisikbisik kak andi bernada
“ apa yang kak andi lakuin ? “
“ aku yakin kau belum tidur kan, aku khaawatir dinda atas pertanyaannya ayah tadi?” kak andi sambil menyalakan lampu kamar
“ em, iya kak, aku kepeikiran tentang itu “ adinda hanya menunduk
“ ehm,  dinda purapura aja ngga tau ya, sebenarnya kau harusnya bahagia adinda “ kak andi sekarang memunculkan senyumnya yang tadi disembunyikan
“ maksut kakak ? “ Tanya adinda dengan mengernyitkan dahi
“ sebenaranya “ kak andi dengan bikin penasaran
“ apa kak “ adinda sekarang menatap kak andi
“ kau dijodohkan dengan firman “
“ hehehe, udah malem mungkin kakak tadi kesini ngelindur kali ya, udah ah kak aku mau tidur “
“ eh bentar dong adinda, aku serius “ sembil menarik tangan adinda yang siap meluncurkan tubuhnya ke rangjang
“ serius kak ? “ sekarang adinda serius bertanya dan mekin tajam menatap kak andi, tapi posisinya andini yang ngga jadi meluncur ke ranjang itu lucu banget :D
“ yaelah, anak ini ngga percaya, beneran lah “
“ coba jelaskan agar aku bisa percaya “ tukas andini yang makin ngga percaya
“ aduh dinda, gini ya sekarang kita hubungkan antara logic dan penalaran, ayah kita dan ayhnya firman sahabat di SMA, firman dan kamu kebetulan juga dekat, dan tadi ayh tibatiba menanyakan hal seperti itu kan din “ jelas kak andi
“ kakak, benaran deh kakak ngelindur, itu ma berdasarkan yang difikiran kakak aja kan, belum fakta kak “ jawab andini
“ klo kakak ngelindur kamu cubit deh kakak pasti sakit, aku yakin gitu dinda “ jelas kakak secara paksa
 udah deh kak “ andini memasukkan dirinya didalam selimut
“ adinda “ pinta kak andi
“ nicedream kakak “ suara andini dari dalam selimut

0 komentar:

Posting Komentar