Chapter 1 - My Dream and My Love 2

“ Oke, acara ini adalah salah satu program kerja kita yang terpenting, jadi saya harap semuanya bisa mengerti satu sama lain dan bekerja sama dengan baik, demikian dari rapat kali ini terimakasih wassalamualaikum wr.wb”

Alhamdulillah rapat kali ini lancar, gumamku dalam hati.

“ Andini, kamu harus absensi dulu “ ucap Pinka sambil menyodorkan lembaran didalam map biru.

“ thanks ya Pinka aku hampir lupa “

Aku menerima lembaran itu dan bertanya kembali

“ Rapat nanti dilaksanakan tanggal berapa ya ? “

“ Kamu tunggu saja pengumuman dari kak Firdha, btw kamu kelihatan letih lho “ 

Tanya Pinka kembali padaku,

“ Ah tidak, aku hanya lapar dan kak Andi belum jemput “

“ Aduh sabar ya Andini, rapat tadi memang selesai lebih cepat dari biasanya. “ ujar Pinka.

“ Iya karena hanya membahas pembentukan panitia kan ? “ ujarku

“ iya, tetapi posisi kamu penting lho Andini “ ujar pinka lagi bersemangat

“ Apa pentingnya dari seorang dokumentasi “ ujarku lebih singkat.
“ Andini, kak Firdha selalu memilih bukan sembarang orang untuk dijadikan anggota di devisi dokumentasi, karena selain memotret kejadian yang berlangsung lalu di dokumentasikan itu bisa dijadikan bukti bagi orang yang menyelewang dan tentunya tergantung kamulah nanti bagaimana orang-orang di masa depan mengenang kegiatan kita saat ini “ 

Dengan semangat Pinka berbicara, aku rasa ini adalah sebuah wawasan baru.

“ Bener sih tapi juga melelahkan, karena selalu stay ditempat jadwal kan, “ tambahku,

“ Iya itulah dimana kita harus tau diri membedakan mana yang harus dikerjakan dengan serius dan yang tidak “Sahut Pinka menambahi, 

Aku mulai mendengar suara mobil kak Andi.
Benar kak Andi sudah datang...

“ Sepertinya itu kak Andi deh, aku pulang duluan ya Pinka makasih atas wawasannya, aku akan laksanakan tugasku dengan baik “ 

Ucapku sambil menaruh map biru di meja dan menyalaminya pamit pulang.

Aku berjalan menuju parkiran dimana kak Andi memarkir mobilnya disana, di bawah pohon beringin yang selimuti angin sepoi-sepoi,  

Ya ampun tali sepatuku lepas lagi, biarlah~

Aku langsung masuk ke dalam mobil, jendela mobil sengaja aku buka hingga batas minimal agar angin bisa leluasa masuk.

Hari ini begitu melelahkan dan banyak mengeluarkan keringat.

Aku sandaran di kursi mobil dan memejamkan mata, kak Andi hanya diam saja dan tersenyum seolah mengerti akan lelahku.

Dalam gelap aku berpikir bagaimana aku nanti ketika bangun dari tidur ini, ketika keluar dari mobil, dan bagaimana detik-detik berikutnya yang membuat aku menjadi peran utama di dalam setiap detik yang aku punya, 

Lalu tiba-tiba ada cahaya disana, jauh diujung sana, cahaya yang semakin mengecil dan aku menunggu cahaya itu pasti akan menghilang beberapa saat lagi, aku menunggu dan menunggu tetapi cahaya itu malah dikawani oleh rumput-rumput dan awan-awan yang cerah ditambah angsa yang sedang berjalan-jalan mencari makan disana, 

Pemandangan itu sangat indah ketika aliran air dari arah barat tiba-tiba muncul dan membuat angsa itu berlarian untuk menyantap air yang mengalir itu, 

Semakin banyak angsa itu semakin banyak juga air yang mengalir, disana ada tanah yang tiba-tiba lengser lalu terbentuk pegunungan yang rapi dan sebuah air terjun yang elok. 

Bunga-bunga teratai terapung rapi disana, aku ingin kesana mandi bersama angsa-angsa putih itu, 

Tapi bagaimana caranya ? dengan lari ? dengan jalan ? mengendarai sepeda ? dengan loncat ? 

Semakin dalam aku berpikir perlahan-lahan semua pemandangan itu hilang one by one tapi tidak untuk cahaya itu, 

Cahaya itu semakin meredup tapi sukar untuk hilang, ada apa dengan cahaya tersebut ? 

Aku menghembuskan nafasku dan menghirupnya kembali dalam-dalam dan menstabilkan posisi tidurku,

Aku masih bisa merasakan sejuknya angin pada sore itu tetapi dengan perlahan angin itu mengilang dan suasana menjadi panas lagi,

Ah aku ingat pemandangan tadi yang membuatku merasa kedinginan tapi tenang, Namun sekarang sudah ngga sejuk apalagi tenang, hanya gelap yang terlihat dan semakin gelap.


0 komentar:

Posting Komentar