“ Oke, acara ini adalah salah satu
program kerja kita yang terpenting, jadi saya harap semuanya bisa mengerti satu
sama lain dan bekerja sama dengan baik, demikian dari rapat kali ini
terimakasih wassalamualaikum wr.wb”
Alhamdulillah
rapat kali ini lancar, gumamku dalam
hati.
“ Andini, kamu harus absensi dulu “
ucap Pinka sambil menyodorkan lembaran didalam map biru.
“ thanks ya Pinka aku hampir lupa “
Aku menerima lembaran itu dan
bertanya kembali
“ Rapat nanti dilaksanakan tanggal
berapa ya ? “
“ Kamu tunggu saja pengumuman dari
kak Firdha, btw kamu kelihatan letih lho “
Tanya Pinka kembali padaku,
“ Ah tidak, aku hanya lapar dan kak Andi
belum jemput “
“ Aduh sabar ya Andini, rapat tadi
memang selesai lebih cepat dari biasanya. “ ujar Pinka.
“ Iya karena hanya membahas
pembentukan panitia kan ? “ ujarku
“ iya, tetapi posisi kamu penting
lho Andini “ ujar pinka lagi bersemangat
“ Apa pentingnya dari seorang
dokumentasi “ ujarku lebih singkat.
“ Andini, kak Firdha selalu
memilih bukan sembarang orang untuk dijadikan anggota di devisi dokumentasi, karena selain
memotret kejadian yang berlangsung lalu di dokumentasikan itu bisa dijadikan bukti bagi
orang yang menyelewang dan tentunya tergantung kamulah nanti bagaimana orang-orang
di masa depan mengenang kegiatan kita saat ini “
Dengan semangat Pinka berbicara, aku rasa ini adalah sebuah wawasan baru.
“ Bener sih tapi juga melelahkan,
karena selalu stay ditempat jadwal kan, “ tambahku,
“ Iya itulah dimana kita harus tau
diri membedakan mana yang harus dikerjakan dengan serius dan yang tidak “Sahut Pinka menambahi,
Aku mulai mendengar
suara mobil kak Andi.
Benar kak Andi sudah datang...
“ Sepertinya itu kak Andi deh, aku
pulang duluan ya Pinka makasih atas wawasannya, aku akan laksanakan tugasku
dengan baik “
Ucapku sambil menaruh map biru di meja dan menyalaminya pamit
pulang.
Aku berjalan menuju parkiran dimana
kak Andi memarkir mobilnya disana, di bawah pohon beringin yang selimuti angin
sepoi-sepoi,
Ya ampun tali sepatuku lepas lagi, biarlah~
Aku langsung masuk ke dalam mobil, jendela
mobil sengaja aku buka hingga batas minimal agar angin bisa leluasa masuk.
Hari
ini begitu melelahkan dan banyak mengeluarkan keringat.
Aku sandaran di
kursi mobil dan memejamkan mata, kak Andi hanya diam saja dan tersenyum seolah
mengerti akan lelahku.
Dalam gelap aku berpikir bagaimana aku nanti ketika
bangun dari tidur ini, ketika keluar dari mobil, dan bagaimana detik-detik
berikutnya yang membuat aku menjadi peran utama di dalam setiap detik yang aku
punya,
Lalu tiba-tiba ada cahaya disana, jauh diujung sana, cahaya yang semakin mengecil dan aku menunggu cahaya
itu pasti akan menghilang beberapa saat lagi, aku menunggu dan menunggu tetapi
cahaya itu malah dikawani oleh rumput-rumput dan awan-awan yang cerah ditambah
angsa yang sedang berjalan-jalan mencari makan disana,
Pemandangan itu sangat
indah ketika aliran air dari arah barat tiba-tiba muncul dan membuat angsa itu
berlarian untuk menyantap air yang mengalir itu,
Semakin banyak angsa itu
semakin banyak juga air yang mengalir, disana ada tanah yang tiba-tiba lengser
lalu terbentuk pegunungan yang rapi dan sebuah air terjun yang elok.
Bunga-bunga teratai terapung rapi disana, aku ingin kesana mandi bersama
angsa-angsa putih itu,
Tapi bagaimana caranya ? dengan lari ? dengan
jalan ? mengendarai sepeda ? dengan loncat ?
Semakin dalam aku berpikir perlahan-lahan
semua pemandangan itu hilang one by one tapi tidak untuk cahaya itu,
Cahaya itu
semakin meredup tapi sukar untuk hilang, ada apa dengan cahaya tersebut ?
Aku
menghembuskan nafasku dan menghirupnya kembali dalam-dalam dan menstabilkan
posisi tidurku,
Aku masih bisa merasakan sejuknya angin pada sore itu tetapi
dengan perlahan angin itu mengilang dan suasana menjadi panas lagi,
Ah aku
ingat pemandangan tadi yang membuatku merasa kedinginan tapi tenang, Namun sekarang sudah ngga sejuk
apalagi tenang, hanya gelap yang terlihat dan semakin gelap.

0 komentar:
Posting Komentar