Hari rabu, tepat pada tanggal 18, cerah~
Daun yang sudah berwarna kuning berserakan dijalan, mereka semua berterbangan seperti kupu-kupu, diterpa angin. Matahari memancarkan sinarnya seolah tersenyum, angin yang sejuk nan berawan cerah, kicauan burung menemani lagu yang dinyanyikan oleh dream thetre dari mp3 yang dipasang ditelinga seorang laki-laki berumur 17 tahun, laki-laki itu tinggi, berkulit putih berbadan sedikit gemuk, matanya sipit, hidungnya mancung dan bibirnya tipis, yeah~ bernama Bagas keturunan belanda dari eyangnya, Yangti biasanya Bagas memanggilnya.
Suasana begini membuat segerombolan neuron di otak Bagas menyusun ide bagus, makan di kafe dekat rumah Bilqis. Pacarnya.
“Han, kita ke kafe dekat rumahmu ya, sebelum berangkat nitip salam ke Bunda”
Sent, centang, read
Sambil menunggu balasan dari Bilqis, Bagas mengeluarkan motornya dari bagasi rumahnya,
“Mama aku makan dulu sama Bilqis “ pamit bagas dari luar rumah ke mamanya.
“jam 5 harus udah dirumah, dear !“ seru mama dari dalam rumah.
Bagas membuka lagi hapenya
“iya mama” (sent)
Bagas menjawab mamanya melalui WA karena bagas udah ada diatas motor dan siap membelah jalanan yang ramai di depan rumahnya.
5 menit kemudian Bagas sudah sampai di kafe bercat cokelat, berbentuk persegi tapi luas banget, karena di kafe itu ada 3 macam area yaitu area bigbread, makan keluarga yang besar, area lovelybread, makan camilan yang disediakan oleh pihak kafe dan nongkrong, yang terakhir itu area nicebread, makan yang biasanya di pakai oleh 2 atau 4 orang saja. Bagas pilih meja di area nicebread nomor 17. #plung. Suara dari hape bagas
“ lho haney, kamu ngajak keluar tapi ngga jemput aku. Apaan coba! “
Bagas langsung menarikan jarinya diatas path
“Yeah!! Aku udah disini lho han”
Sent. Centang,
Setelah membalas bbm dari Bilqis, Bagas memilih fresh milk tea untuk menghilangkan rasa dahaganya, Bagas mengecek lagi bbmnya. “ kok masih centang sih “ gerutu Bagas.
“ Han aku sendiri nih, hurry up!! “
Sent, centang, delay. Nah READ
“ Kok sendiri sih, awas ya sama cewek lain !! “
Bagas tersenyum membaca bbm dari bilqis,
“ Maunya cewek itu kamu han! J “
Balas bagas. Langsung READ
“ Okay aku dataaang. Tapi pesenin aku beef burger sama fresh milk ! “
Bagas memesankan pesenan Bilqis, dia sendiri memesan chicken cheese, 15 menit pesanan itu sudah datang, tapi Bilqis belum juga datang.
“ Lamanya han!! “
Langsung READ
“ aku datang haney! Kamu sabaran dikit dong han, tadi masih di parkiran tuh“
Bilqis memakai rok panjang dan kaos berwarna pink, ia memakai kerudung berwarna merah, menawan~
“ yaa Alhamdulillah, aku laper banget !! “ gerutu Bagas
“ kamu ngga sweetie ah ! yaudah makan sana, Basmallah dulu “
Bilqis juga menyantap burgernya, “ iya honeyku you too“ Bagas menjawab singkat
~~~
Rembulan ada ditengah atas ubun-ubun, gemricik hujan terdengar deras di telinga Bilqis,
“hujan turun secara menetes atau secara lurus mengalir ?“,
Tanya Bilqis untuk dirinya sendiri, dalam hati. Matanya masih terpejam.
Gelap dan dingin, tanahnya licin setelah hujan, di kanan- kiri jalan ada pohon besar-besar, di depan ada pondokan bambu yang mungkin bisa dijadikan tempat untuk istirahat sejenak, entah apa yang telah dilakukan Bilqis sehingga dia begitu lelah,
“ hallo, apakah ada orang? “ Tanya Bilqis namun tidak ada yang menyahuti. Hening~
Tibatiba..
“ hehehehehe, aaa aaa aaa aaa hehehe “ suara tawa anak kecil
“ ada orang disana ? “ Bilqis berdiri dan mencari asal suara itu
“hehehe hehehe “ suara itu semakin dekat.
“ ini bukan permainan, ada orang disana ? serius deh!!! “ Bilqis mulai menjauhi asaal suara itu.
“ sini kakak, sini “ tepat dibelakang Bilqis ada anak kecil berambut panjang hitam, memakai baju longdress warna kuning,
“ aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa “ Bilqis berteriak dan langsung lari
“ sini kakak “ anak kecil itu malah bertambah banyak dari 1 menjadi 2 menjadi 4 seakan membelah secara meiosis.
“ kalian semua siapa ? “ Tanya Bilqis ditengah-tengah nafasnya yang terengah-engah karena masih lari.
Di ujung sana ada seorang bapak-bapak dan seorang lelaki yang sangat dikenali oleh Bilqis tapi bukan bapak-bapak itu,
“ siapa bapak itu ? “ Tanya Bilqis sendiri
“ kau lambat sekali, cepat kau selesaikan galian itu, yang dalam !! “ seru bapak-bapak itu dengan membentak,
“ Bagas, kamu ngapain coba ? “ Tanya bilqis dengan nafasnya yang masih memburu.
Bagas tidak merespon pertanyaan Bilqis, seolah Bilqis tak ada, Bagas tetap menggali galian itu dengan lambat sanagat lambat.
“ aghhh. Dasar kamu memang kelamaan ! “ seru bapak itu lagi. Kali ini ia mengepakan tangannya kearah Bagas dan mendorong Bagas masuk ke dalam galian itu.
“tidakkk, jangan. Bagaaaasss !! “ refleks Bilqis menarik Bagas dari galian itu, tapi setiap langkah yang dipijak Bilqis itu seakan menjadi boomerang bagi Bagas, tanah yang dipijak Bilqis, malah membuat Bagas tertanam di galian itu. Ternyata galian itu sudah sangat dalam melebihi tinggi badan Bagas.
“ sini kakak, sini kak sini “ ah Bilqis lupa kalo sedang mainan kucing-kucingan sama gerombolan anak kecil itu, Bilqis tertangkap.
Gedubrakk~
“ aduh sakit, Bundaaaaa “ teriak Bilqis. Ah lagi-lagi aku mimpi.
Bilqis melihat jam di dinding kamarnya. Gawaaat~ sudah jam 5 lebih 30 menit. Bilqis belum sholat subuh. Bilqis bangun dan lari ke kamar mandi secepat mungkin, Bilqis mengambil air wudlu lalu sholat subuh dengan perasaan yang tidak tenang. Bilqis fokus dan merasapi setiap surah yang ia baca dalam sholatnya. Pada saat sujud terakhir ia pelankan bacaannya “ subhaanaka allahuma rabbana wabihamdika Allahummaghfirlii “. Ia berharap untuk diberi ketenangan dan ampunan.
Setelah salam Bilqis berdoa agar mimpi semalam adalah hanya mimpi, mimpi yang tidak memiliki arti. Tak lama kemudian handphone Bilqis bordering. Bagas menelepon.
“ aku ingin kita putus “
lalu hanya terdengar suara napas Bagas.
Tuttt.. tut…
Bilqis diam. Ia tidak bisa mencerna kalimat Bagas. Apa maksud dari kalimat itu. Dan rasa apa ini.
Bilqis cepat-cepat memakai jilbabnya. Ia lari keluar rumah. Di halaman rumah Bilqis bertemu Ayahnya. “ mau kemana nak, pagi-pagi sudah sarapan ta kok keluar? “ Tanya ayahnya dengan logat Jawanya.
“ Bilqis ingin ketemu Bagas sebentar yah, sebentar ya ayah “ Bilqis berpamitan dengan ayahnya, berusaha menutupi rasa kawatirnya.
Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di rumah Bagas, 20 menit dengan mengendarai mobil pun cukup. Bilqis menitipkan mobilnya ke pak Aming, beliau adalah penjaga rumah yang ada di rumah Bagas.
“ eh Mbak Bilqis, tumben pagi-pagi sudah datang kesini? “ Tanya pak Aming dengan ramah.
“ saya ingin ketemu Bagas pak, dia ada di dalam kan ya ? “ Tanya Bilqis sambil memberikan kunci mobilnya ke pak Aming. Agar dimasukkan ke halaman rumah Bagas.
“ eh anu mbak, mohon maaf. Mas Bagas ada di dalam rumah, tapi ibu sama bapak ada di Medan. Baru saja berangkat kemarin sore. Jadi mas Bagas didalam rumah sama teman-temannya, kemarin ramaii sekali hehehe” ujar pak Aming sambil tertawa dan menurut Bilqis pak Aming sedikit aneh. Tidak seperti biasanya.
“ oh begitu, saya masuk sekarang ya pak. Permisi “ pamit Bilqis karena sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Bagas.
“ emm sebentar mbak, nganu lo mbak “ kata pak Aming lagi
“ iya pak? “ tanya Bilqis dengan sedikit mengernyitkan alisnya.
“ hehe kayaknya ini mobilnya mbak Bilqis perlu dicuci ya, soalnya ini berdebu hehe “
Bilqis sudah tidak tahan lagi, ia menjelaskan ke pak Aming bahwa ia harus cepat-cepat bertemu dengan Bagas, Bilqis berjalan meninggalkan pak Aming, Bilqis tidak menyangka bahwa pak Aming tetap mengikuti Bilqis hingga ke dalam rumah Bagas. Seolah-olah pak Aming takut Bilqis mengetahui sesuatu.
Bilqis masuk ke rumah Bagas yang pintunya sudah terbuka. ada hal aneh yang terjadi disini, pikir Bilqis. Benar saja, terakhir kali Bilqis bertamu, rumah Bagas adalah rumah yang sangat rapi, ruang tamunya memiliki desain interior yang rapid an klasik. Kini ruang tamu Rumah ini bagaikan kapal pecah. Snack dan minum-minuman berkaleng berserakan. pada saat ini, Bilqis ingin sekali tetap huznudzan. Bilqis berjalan dengan kaki mungilnya yang gemeteran. Bilqis melangkahkan kakinya ke ruang tengah, ke ruangan, biasa ia dan Bagas menonton film. Bilqis menemukan Raja, teman Bagas, ia tergeletak di sofa. Ia tertidur lelap. Bilqis mulai menutup hidungnya karena ia mencium bau alcohol yang sangat mengganggu pernafasan Bilqis. Ia tidak membangunkan Raja, Bilqis tidak berani menyentuh apapun yang ada di dalam rumah Bagas, Bilqis melanjutkan langkah kaki mungilnya ke kamar Bagas, ia semakin gemetaran dan gugup, bilqis mendengar suara yang hanya bisa ia dengar ketika ia menonton drama Korea yang salah Genre. Kini Bilqis mendengarnya secara nyata, dengan telinganya sendiri. Pak Aming pun tak berani melanjutkan langkahnya, ia berhenti ketika mendengarkan suara desahan tuannya. Pintu kamar Bagas tidak dikunci. Belum ada 1 jam berlalu setelah Bilqis mendengarkan suara nafas Bagas setelah ia mengcapkan kata putus. Pintu dibuka dengan keras oleh Bilqis. Rena, sahabat Bilqis di kampus. Yang slalu menemani Bilqis ke perpustakaan kampus, sekelas bareng selama 7 semesteer. Kini ia melihat Rena tepat berada di bawah tubuh Bagas. Dengan mata Bilqis yang tiba-tiba terpejam, Bilqis berkata “ Jijik “
Bilqis lari keluar rumah Bagas dengan sangat kencang, Bilqis sengaja meninggalkan mobilnya, ia berlari dengan menahan apapun, rasa amarah, rasa kecewa, hati yang terluka, otak yang tiba-tiba berhenti berpikir jernih, kaki yang ingin melangkah secara cepat terus-terusan tidak ingin berhenti. Seolah-olah kaki Bilqis mewakili hati Bilqis yang tercabik-cabik oleh rasa cinta, rasa indah, rasa bahagia yang telah diberikan Bagas, itu semua berubah, berubah menjadi rasa sakit. Hingga kini Bilqis sudah sampai di depan Rumahnya sendiri. Ia tidak masuk kerumah, ia berdiri di depan pagar rumahnya sendiri. Ia diam, ia merasakan tubuhnya tidak bisa digerakkan lagi, ia mengatur nafas pelan-pelan.
Bilqis Aisyah Al-Farisy. Gadis 24 tahun yang pernah dikhianati oleh sahabatnya sendiri dan seseorang yang sangat ia cintai. ia berkata “ tidak ada gadis salihah yang menerima untuk diajak berpacaran, tidak ada lelaki salih yang mengajak teman perempuan seumurnya pergi kerumah sebelum orang-orang yang duduk disebelahnya mengucapkan Sah “.
Oleh : Riski Ganesa Putri.
0 komentar:
Posting Komentar