Refleksi Part 3 - Rindu Itu Berat


(pict by Pinterest)

Pada suatu pagi, aku membuka ponselku berharap kamu mengirimiku pesan ucapan selamat pagi. Tetapi, tidak ada pesan. Sama seperti pagi sebelum-sebelumnya. Dia yang selalu aku sebut di masa lalu telah datang menemuiku di mimpi tadi malam. Dia berdiri tegap dihadapanku dengan tersenyum bahagia. Entah bahagia kenapa. Dia adalah dia yang aku panggil dengan sebutan kamu atau Fachri di masa lalu. Setelah aku sadar 100% dari mimpiku. Aku langsung bangun dari tempat tidur, lalu pergi ke kamar mandi. Ya, seperti biasa. Kebiasaan di pagi hari. Setiap habis dari bangun tidur, aku masih saja memikirkan dan tidak percaya. Kenapa perpisahan ini bisa terjadi? Kenapa rindu ini berat? Tuhan, kenapa engkau pertemukan aku dengannya jika pada akhirnya mustahil untuk bersamanya.
“ baby, I am dancing in the dark with you between my arms”. Daripada sepi dan galau yaa, aku menyanyi lah. Aku penuhi kamar mandi pagi ini dengan suara falseku. Aku menyanyikan lagu dari Ed Sheran. Kamu tahu? Lyricnya itu indah banget. Seindah kenanganku bersama kamu kemarin-kemarin. Aku merasakan ada sesak yang sangat amat dalam dari paru-paru kecilku. Aku merasakanmya hingga sekarang. Apa kamu tahu ? darimana awalnya aku mendapatkan rasa itu? Mari aku beri tahu. Kamu adalah penyebabnya. Setelah kamu mengolah kata-kata yang berujung perpisahan. Kamu mengajakku untuk berpisah dengan baik-baik. Sebagai gantinya, kamu menjanjikanku perhatianmu tidak akan berkurang meskipun sudah berpisah, bahkan kamu menjadikan aku sebagai adik-adik an nya kamu. Jadi ceritanya kamu mengubah status kita ini dari pacaran menjadi kakak-adik. So what? Tidak ada perpisahan yang baik-baik. Tidak akan pernah ada. Hal itu tidak mungkin.
Bayangkan saja, suatu saat nanti kamu mendapatkan cewek baru yang bisa menggantikan posisiku dihatimu. Kamu kenalkan ke aku dan kamu bilang kepadanya. “ hei, ini adik pura-puranya aku, dia manis bukan?.“  membayangkannya saja aku sudah ingin menampar wajahmu. Kamu tahu bukan? Bagaimana tenangnya hatiku saat aku melihatmu dari jauh, kamu sedang bermain kartu bersama teman-temanmu, lalu, sesekali kamu melirikku dan mengucap bisikkan “ I love you “. Bagaimana tenangnya hatiku dan bahkan seluruh tubuhku kau buat menari setelah mencerna bisikkanmu? Sekarang. Aku merasakan seperti balon yang telah di terbangkan tinggi lalu tiba-tiba diletuskan. Meletus dan jatuh kebawah dengan tidak beraturan. Itulah deskripsi yang bisa aku jelaskan untuk sekarang.
Waktu sebelum aku menerima kamu menjadi pacarku. Kamu adalah orang yang ter-perhatian melebihi umiku, hingga menjadikanku terbiasa bersamamu. Berangkat ke sekolah selalu bersama-sama. Karena kebetulan kita ada di perumahan yang sama. Setiap ke kantin selalu bersama-sama. Sudah biasa di ciye-ciye in sama anak-anak yang lain. Sampai-sampai aku di sekolah hanya mempunyai 2 orang teman saja. Andin dan Denita. Aku dan 2 anak itu squad. Hingga suatu ketika kamu merencanakan surprise di ulang tahunku yang ke-18. Di saat itu, kamu sangat romantic menurutku. Disaat jam kosong, kamu datang ke tempat dudukku. Kamu bilang bahwa kamu bisa memainkan magic.
“ mana liat, coba liaaatin magicnya!! “ aku sangat excited. Tidak sabar untuk melihat kemampuan kamu
“ siniin tangan kamu” kamu mengucapkan itu sambil menarik tanganku yang kanan. Kamu meletakkan pensil di atas telapak tanganku. Lalu kamu bilang kepadaku “ pensil ini akan hilang “
“ ohya? Ga mungkin banget. “ ucapku kemudian.
Kamu meletakkan tangan kanan kamu diatas telapak tangan aku yang ada pensilnya, lalu kamu balik tanganku, jadi tanganku yang ada diatas. Lalu tangan kirimu mengambil pensil itu secara perlahan. “lihat pensilnya hilang, kini hanya tinggal tanganku dan tangamu. Pensilnya sudah tidak ada, yang ada hanyalah cintaku dihatiku buat kamu. Happy Birthday “ haruskah aku berterimakaasih kepada pensil? Tuhan. Lelaki ini sungguh manis sekali. Dia menggenggam tanganku bak pangeran dan putri yang akan berdansa. Romantic. Aku mengangguk. Aku mengiyakan untuk jadi pacarnya. Kemudian sahabatku Andin dan Denita datang membawa kue ulang tahun. Seluruh kelas ramai, ada yang memberiku salam ucapan saja dan ada yang memberiku kado. Hingga banyak yang mainan kue wkwk. Kuenya dipake main ToD. Jadi siapa yang milih Dare ia bisa kena coletan kue di wajahnya bahkan di tangannya. Pada waktu itu hidung kamu aku colek, meski aku tahu kamu tidak kena Dare. Heheheehehehe semua yang ada di dalam kelas sangat ricuh dan ramai. Seru.
Lalu dengan tiba-tiba bel berbunyi menandakan pergantian jam pelajaran. Ya, jam kosong telah usai. Tapi keributan dikelas. Masih berlangsung. Hingga datanglah Bu Inez. Guru mata pelajaran Sejarah yang killer. Beliau akan memasuki ruangan kelasku. Begiitu baru ¼ langkahnya memasuki ruangan. Mata beliau sudah terbelalak dengan kondisi kelas yang berantakan. Meja di tata seperti kafe agar bisa gampang main ToD dan jelas diatas meja sudah terdapat banyak sampah-sampah bungkus cemilan yang sudah dibeli oleh Reno. Ketua kelasku. “ sekalian syukuran sih “ katanya setelah membeli cemilan yang banyak untuk teman-teman sekelas.
“ INI APA-APAAN? KALIAN KESINI BUKANNYA MALAH BELAJAR MALAH BIKIN ONAR SEPERTI INI “ jelas saja, mata beliau sudah langsung tertuju kepada Reno. Berharap mendapat jawaban yang detail dari sang ketua kelas. Tapi apa yang kamu perbuat? Kamu meminta maaf kepada bu Inez, kamu mengakui bahwa kamu lah yang membawa makanan dan kue. Semua anak-anak dikelas sudah pasti diam tak berkutik satu kata pun. Lalu kamu membereskan kelas dan dibantu dengan yang lain. Bu Inez hanya geleng-geleng dan tak habis pikir. tapi sebelum keluar kelas beliau berkata. “ saya tidak mau kejadian ini akan terulang lagi di masa depan, tapi saya salut dengan Fachri. Fachri kamu benar. Kamu harus tanggung jawab dengan apa yang sudah kamu perbuat. Sudah cukup. Hari ini saya hanya akan memberi tugas. Kerjakan soal yang ada di kitab, halaman 145 hingga 150. Kumpulkan nanti sebelum pulang sekolah. “
Aku tidak menyangka kamu mau bertanggung jawab atas semua yang dilakukan oleh anak-anak sekelas. Harusmya ini tanggung jawab bersama. Tapi kamu berani Fachri, aku kagum kepadamu fachri. Tapi itu dulu. Sebelum kamu mengajakku untuk berpisah, kenapa kamu tidak bertanggung jawab atas perasaanku fachri? Kamu yang membuatku begitu mencintaimu. Bantu aku membencimu Karena aku sudah mengenal rindu, rindu kepadamu. Setelah perpisahan itu. Aku merasakan rindu yang membelenggu. Hingga aku rasa semua ini berat. Kenanganku bersama kamu tidak hanya pada waktu surprise di ulang tahunku yang ke-18 saja. Tapi banyaaak, aku tidak sanggup untuk menghitungnya dengan jari-jariku. Akankah kamu biarkan aku seperti ini terus Fachri? Jujur, aku bisa saja menyerah. Tapi aku masih yakin. Kamu tidak berharap aku menyerah bukan?


0 komentar:

Posting Komentar