Buchnera americana (pict from Google)
Ada kisah indah dibalik kelulusan sekolah menengah atas, sekolahku, bolehkah aku memanggilnya masa lalu ? Jika boleh aku akan menceritakannya kepada anak-anakku nanti di masa depan mendatang. Kisah, sebuah cerita yang aku anggap penting karena dari kisah itu aku bisa belajar bagaimana aku menembak hatiku sendiri dengan pelurunya. Iya, pasti sakit dan hampir ingin mati saja. Apakah kamu bisa jadi aku? Aku yang dipanggil Naury, yang katanya hanya gadis premature yang kekurangan kasih sayang dari seorang abah karena perceraian orangtua. Kini, sudah melewati masa-masa sulit yang diberi judul masa lalu di buku diarynya. Bukan masalah hanya masa lalu belaka. Tapi masalah hati, hati yang masih utuh tapi sudah pernah terluka karena masa lalu.
Apakah aku lupakan saja masa lalu ini? Tidak Naury. Masa lalu itu tidak akan sanggup kamu lupakan begitu saja. Apakah iya? Iya Naury,
Maaf bukannya aku memiliki pribadi yang ganda, tapi anggap saja yang bertanya itu hati nuraniku yang lemah dan yang menjawab itu otakku yang masih kuat berpikir. Masalalu memang bukan sesuatu hal yang mudah. Itu rumit. Aku sering mulai melangkah semakin ke depan dan langkahku semakin bertambah di depan. Tapi hatiku, rasanya hatiku masih stop di bagian lembaran masa laluku.
Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, kenapa ini tidak mudah. Kadang aku menjawabnya sendiri, karena kamu masih mencintainya. Kamu tidak bisa melupakan semua hal yang telah kamu lalui bersamanya. Setiap detik yang telah kamu lalui bersamanya itu bagimu adalah sesuatu hal yang berharga. Ingat Naury, kamu pernah menangis 4 hari 4 malam karena dia tidak memberi kabar padamu. Dia istimewa bagimu. Dia yang pernah mengisi hari-hari kosongmu dengan kebahagiaan dan kegembiraan. Tetapi, dia hanya sebatas pernah. Itu masa lalumu Naury.
Tidak, dia bukan hanya sebatas pernah bagiku, dia memang terindah dan teristimewa bagiku. Dia adalah kesempatan yang diberi oleh Tuhan hanya untukku. Pada waktu itu. Waktu ketika aku yang jadi satu-satunya bagi dia.
Menurutku, mencintai seseorang adalah hal terindah dalam hidup. Karena apa? Ya, karena kamu sudah tahu resiko dari mencintai adalah luka. Tapi kamu masih saja melanjutkannya. Mencintainya, seperti tidak ada lagi kebahagiaan selain mencintainya dan dicintainya. Itulah mengapa aku tidak akan melupakan masa lalu. Masa dimana aku masih mencintaimu dan dicintaimu. Hingga hatiku yang terluka di masalalu membuatku menjadi berpengalaman dalam hal dilukai. Ya, emmmm aku bangga.
Terimakasih untuk masa lalu, masa lalu telah mengajarkan bagaimana caranya bangun dari mimpi yang paling horror dalam hidupku. Dia tahu hal yang paling menakutiku. Dia, dia adalah orang paling berpengaruh dalam masa laluku. Dia yang meninggalkanku karena urusan yang beda dan jauh sekali dengan urusan hati. Sebentar, akan aku luruskan.. “aku mencintainya seperti aku mencintai diriku sendiri,” oh bukan, quote tersebut belum pas. “aku mencintainya melebihi aku mencintai diriku sendiri.” Iya, benar, itu sudah pas. Kamu tau kenapa bisa pas, quote terakhir daripada quote yang pertama? Biar aku saja yang menjawab. Aku lah orang yang memutuskan untuk pisah dengan dia. Akulah tersangka dari perkara semua ini. Perkara yang rumit yang tidak bisa aku pecahkan. Bagaimana tidak, aku mencintainya tapi aku juga melepaskannya. Aku memutuskan untuk melepaskan dia yang aku cintai bukan karena aku terluka atau dilukai. Tapi dia yang terluka, terluka karena aku yang mencintainya secara berlebihan. Tapi wajar bukan? Aku sudah tahu peluru itu akan ditembakkan dimana, pasti di hatiku. Setelah itu hatiku hancur berkeping-keping. Aku sudah tahu hal itu. Tapi bagi dia, peluru itu tidak akan dia tembakkan begitu saja, dia sudah tahu kapan waktunya melepas peluru. Intinya, dia sudah dewasa dan aku masih kekanak-kanakkan. But now. Aku sudah tahu kenapa dia tidak mempertahankanku di masa lalu. Dia berkata “ jika aku mengiyakan keputusanmu untuk berpisah denganku, aku tahu, kamu akan sangat lebih bahagia. Jika aku menolak, jika aku mempertahankan cinta ini. Kamu akan tersiksa, kamu akan selalu terbelenggu dengan luka “
Setelah aku mendengar ucapan dari dia, aku lari, aku lari sekencang mungkin. Hingga aku lelah. Hingga aku lupa, bahwa aku tidak bisa lari. Tetapi, entahlah saat itu hatiku benar-benar sakit, pikiranku benar-benar kacau. Keajaiban, nuary sekarang sudah bisa berlari.
Dulu aku masih SMA, aku setia dengan dia. Banyak kakak kelas yang menginginkan perhatian dari aku. Tapi, aku tetap memilih setia kepada dia. Dia yang berpegang teguh dengan prinsipnya. “aku sudah memilikimu, aku pacar kamu. Tidak perlu untuk melakukan hal seperti anak SMP yang alay”. Naïf bukan? Hai. Apakah kamu tidak berpikir dengan kamu tidak pedulikan hal-hal kecil seperti merayakan ulang tahun misalnya. Oh tidak itu hal besar. Sekedar memberi coklat pun kamu tidak pernah. Jangan karena aku sudah mencintaimu kamu berhak untuk mengaduk-ngaduk hatiku. Tolong, itu bukan hal yang bijak. Naïf, aku pun juga naïf di masa itu. Sekarang aku tahu. Lalu aku menyesal. Dia yang aku sebut “kamu” barusan. Sekarang sudah memberi kabar bahwa dia akan sukses dengan studinya di luar negeri. Di Boston University. Melalui surat yang dia tulis dengan huruf latin dia memberi tahu betapa bahagianya dia bisa berada disana. Tetapi dia menuliskan juga kesedihannya yang masih sendiri tanpa seorang kekasih. Dia berharap ada aku disana dan melupakan masa lalu kita yang sedih. Aku tahu. Aku bisa saja mengiyakan permintaannya untuk kembali. Tapi aku adalah aku, dia adalah kesempatanku untuk merasakan kesedihan di masa lalu, hingga aku berpengalaman. Bukankah kita harus belajar dari pengalaman? aku tidak ingin mengulanginya lagi. Pengecut? Bukan. Aku bukan seorang pengecut ataupun pecundang. Berbohong kepada diri sendiri? Tidak juga, aku jujur mencintainya dan dia ingin kembali lagi. Tapi menurutku benar kata dia, aku lebih bahagia setelah putus dengan dia. Aku bahagia atas pencapaianku sendiri. Aku bisa melewati ini sendiri tanpa dia yang sekarang kusebut luka. Hingga aku mengenal rindu. Rindu yang selalu mendorongku untuk terus maju. Hingga aku bisa sejajar dengan dia dan disebut pantas untuk duduk disamping dia. Jika memang berjodoh. Pasti nanti akan bersatu kembali.
Sekarang aku sedang duduk di samping kolam renang. Aku berangan-angan bersama dia. Jalan-jalan bersama dia di kampus dia. Dia memperkenalkanku dengan teman-temannya. Betapa bahagianya. Iya, aku merindukan dirinya. Tapi kini. Aku hanya bisa menatap bunga Buchnera. bunga hati biru dari Amerika. Bunga yang hanya bisa tumbuh di kawasan Amerika. Setahun yang lalu dia mengirimiku bunga itu. Bunga itu sudah mati tapi dia memberinya pengawet dan diberi hiasan seperti tumbler berbentuk hati. Bukankah dia masih memiliki perasaan yang sama? Hingga sekarang? Apakah masih? Aku tidak bisa menjawabnya. Aku sudah nyaman dengan suasana sekarang. Aku merindukannya dan berteman dengan luka.
0 komentar:
Posting Komentar