Secangkir Teh Part 2




“ Ibuk.. mbok Sri hari ini masak apa?” tanyaku sambil gontai bangun tidur,
“ nasi goreng wortel sama ayam goreng, kamu baru bangun langsung cari makan, masih berantakan banget lho “ ibuku juga termasuk manusia paling cerewet di dunia.

“ ditanya malah melamun?? “ nah kan belum aku jawab pertanyaannya udah Tanya lagi.
“ngga ngelamun buk, cuman mikir” aku duduk di kursi dan makan.
“ kamu ini, masih kecil suka mikir, nanti sekolahnya jangan telat, ibu berangkat “
“iya bu” aku mencium  pipi ibu dan tangan ibu dan ibuku sudah menjauh dari meja makan setelah mengambil tasnya, sebenernya aku masih ingin merasakan kasih dan perhatian dari ibuku dan ayah tapi mereka selalu dan selalu sibuk. Sambil malas dan malas sekali setelah makan langsung ke kamar mandi, setelah bermenit2 di depan cermin aku jalan gontai menuju halaman rumah, supir sudah menungguku.
Jalanan mulus dan berembun adalah suatu keindahan pagi yang membugah niatku, rasanya aku lama sekali tidak ke sekolah padahal baru 1 hari tidak masuk karena ijin ke Surabaya.
“pagi Nesa.. pagi yang indah sama pujaan baru” ternyata Lala udah ada di belakangku dan tersenyum lebar dan teramat lebar, ketika aku turun dari mobil ia menyapaku.
 “ haha pagi-pagi udah puitis banget La? “ tanyaku
“  iya dong khusus puitisnya buat pasangan baru”
“ wah kerenn siapa yang punya pasangan “ alisku sekarang berpindah garis
“ jangan sok gatau deh, Saga kan kemarin minta nomer hp kamu dan Tanya-tanya mengenaimu, dan parahnya dia buat tweet yang isinya buat kamu “ Lala bicara dengan hati-hati
“ pagi semuanya” datanglah si jenius ini dengan keceriannya yang polos tapi wajahku masih tetep dengan posisinya yang terpana
 “ ehya kenapa kamu Nes, harusnya kamu happy dong hari ini, si Saga tuh kamu kenapain sampe tweetnya puitis banget plus bingit tau gak ?? “ tanyanya si jenius ini lagi.
“ apaan sih, aku ga ngarti saga siapa juga?” jawabku dengan polos dan merubah posisi wajahku jadi biasa aja, yeah~ seperti polos
“ ah udahlah, kita kekelas yok, mungkin Nesa masih tidur kale “ Lala bicara dengan ketawa puas.
“ kamu kira aku tidurnya sama jalan, dan bisa bicara normal gitu?? “ protesku sambil ikutin jalan Lala dan Dita dan pastinya ketawa juga.
Ada apa sebenarnya sepertinya banyak yang tanya padaku tentang hal yang wajar terjadi pada remaja yeah~ about love, sebentar! Saga yang mana ya ?
pikirku jelas karena aku baru mendengar namanya dari Lala dan itu pun hanya didengar saja,
“udah Nes akui aja kamu jadian kan, harusnya kamu seneng Nes dapatin cowok  seganteng dia  ? “ Lala nyambar lagi dan matanya Dita melotot seperti mau jatuh ke lantai tuh mata
“ yasalam ada apaan sih aku aja belum kenal Saga seperti apa “aku yakin banget ini ada skenario tertukar.
Lagu kebangsaan, tentunya kebangsaan Indonesia dong, menandakan bahwa dimulainya pelajaran pertama. Teman-temanku sepertinya  sudah lupakan  pembicaraan tentang Saga tapi tidak untuk aku sepanjang koridor aku terbengong sampe ku temui namaku besar sekali di pojok  kiri atas di suatu kertas merah muda di madding, hingga akhirnya teman-temanku mendahuluiku.
Ganesa Andini
Ketika dinginnya  embun berganti kehangatan
Ketika pertama kali melihat dalam cerminan
Ketika berjalan berdua
dan
Daun belum mengenal pohonnya
tetapi terjadi  suatu saat
 cepat-cepat aku cabut puisi tersebut dari madding dan memasukkanya dalam tasku, aku mempercepat jalanku karena ini adalah jam pertama dan gurunya sangat tidak baik untuk di ajak maen game late, karena hukumannya itu berdiri di depan kelas sambil angkat kaki ah ini sih mending lari dilapangan. Semakin cepat aku berlari, sepertiny aku ini mimpi ya?  Ah kepalaku pusing sekali,
“ kamu sudah siuman ? “
Kenapa buram sekali ? kenapa orang itu bicara tentang siluman? Hah? Siluman ?
“ apa? Siapa yang jadi siluman ? tolong aku! aku takut hantu siluman ! “ aku menjerit  dan aku rasakan dada yang begitu nyaman dan hangat
“ kamu sudah sadar? “
Seorang laki-laki putih, keren dengan matanya yang berbinar dan sabar sekali, oh astaga dia memelukku ha? Memeluk ?
“astaghfirullah apa yang kamu lakukan ? “ aku langsung melepaskannya dan menjauh darinya.
“ kamu yang memelukku, kamu sedang takut. Percayalah padaku “ dia berkata seolah-olah aku akan memeluknya lagi.
“ hei jangan anggap aku akan melakukannya lagi ! “ suaraku sedikit pelan tapi pasti
“ em, maafin aku, aku tidak sengaja menabrakmu di koridor, kamu jalannya cepat banget” pintanya.
“ jadi aku pingsan? “
“ iya kamu pingsan Nes “
Bahkan dia tau namaku
“ aku kira mimpi, tak apa aku harus kembali  ke kelas, terimakasih “ dengan cepat aku meninggalkannya.
 oh tuhan kepalaku pusing sekali, aku juga belum tanya namanya pria itu siapa~ ah lupakan.

0 komentar:

Posting Komentar