Ketika suatu pagi menyapa waktu itu dingin sedang menusuk tulangku hingga menembus sukma, beda dengan hangatnya matahari yang menyenyakan tapi ia sedang bersembunyi di balik kegelapan, matahari sangatlah manis dengan warna putihnya, aku menyukai hangatnya itu, hangat yang nyaman dan sehat, dan sepertinya dingin mulai lenyap ketika hangat itu merangkak ke atas seperti api lilin yang masih di kepalanya, lalu perlahan hangat itu sampai pada ufuknya yang indah.
Ketika matahari itu seperti api lilin yang masih dikepalanyaa, ayahku membangunkan aku dari tidur pulasku yang didalamnya ada dimensi indah atau seperti sebuah film yang diputar seperti klise, tapi terselesaikan dengan bangunnya sepasang mata berkelip... langsung aku menuju ke kamar mandi dengan gontainya kaki melangkah. Aku masih ingin menikmati film di mimpi itu.
Ketika itu aku langsung menanggalkan pakaianku dan putar lagunya Adele “ Don’t You Remember ”. Lagu ini pas dengan kisah asmaraku yang sungguh indah dan aku tak akan melupakannya, meskipun sepahit buah Mojo, aku pernah berpikir “ suatu saat ia akan memanggilku dengan mawar merah dan setelan malam yang gagah” yeah~ saatnya nanti, perkenalkan namaku adalah Ganesa Andini, aku asli orang jawa Indonesia, tetapi kakek adalah orang asli Belanda, pada jaman evolusi kakekku adalah seorang pelaut, beliau bertemu dengan nenek disalah satu tempat keajaiban dunia di Borobudur, kapal kakek termasuk kapal perang jepang yang digunakan untuk mengangkut senjata-senjata perang antara belanda dan Indonesia, kakek melarikan diri dari pekerjaannya demi menyelamatkan nenek dan keluarga nenek, meskipun begitu cinta nenek dan kakek tetap tidak direstui oleh keluarga nenek karena status kakek yang asli orang belanda, keadaan inilah yang membuat kakek tetap memperjuangkan cintanya, meskipun banyak rintangan kakek tetap setia untuk menunggu nenek hingga akhirnya nenek bersedia untuk menikah bersama kakek dan kakekku menjadi seorang mualaf demi cintanya, hingga sampai akhir hayatnya cinta mereka tetaplah ada.
andaikan nanti aku dicintai oleh seorang pria yang mempunyai cinta sebesar cinta kakek kepada nenek.
Beda dengan cinta orangtuaku, ibuku bernama Putri Andini dan ayahku bernama Ilham Andrakusuma, ibu bertemu dengan ayah ketika ibu sedang berbelanja di pasar kota dan ayah sedang melakukan observasi untuk bisnisnya yang sedang dilakukan di pasar, kata ibuku sih waktu belanjaannya ibu jatuh karena kebanyakan, ayah lah yang menolong ibu, sejak itu ibu dan ayah sering bertemu karena ibu juga seorang wanita karir, mereka sering sharing dan ketemuan akhirnya mereka semakin dekat dan menikah, cinta mereka seperti air yang mengalir tidak seperti cinta kakek nenek yang penuh perjuangan, aku jadi ingat bahwa hidup itu suatu perjuangan yang harus dilalui dengan berbagai masing-masing takdir yang telah ditentukan, sedih dan senang itulah kehidupan yang terjadi, andaikan dahulu Adam dan Hawa tidak tergoda oleh Syetan, apakah aku tetap ada ? apakah cinta kakek dan nenek masih ada? apakah aku sudah menetap di surga bersama keluargaku? Tidak, inilah kehidupan yang nyata.
ketika meraih sebuah permata, aku temukan teman yang sejati, semua orang berharap seperti itu kan?
Meskipun aku dilahirkan dari seorang wanita karir di hidupku sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk seperti ibuku, aku dari kecil suka mempelajari alam dan organ tubuh manusia, aku ingin menjadi Dokter, aku sekarang sedang belajar di sekolah bidang biologi.
Masa masaku merasakan beratnya tugas sekolah dan kerapatan sahabat dengan keseruan dan kekonyolannya, sahabatku Dita yang imut dan gadis lugu yang super subhanallah cerdasnya, dan Lala yang manis dan cerdas. Hobi yang sama membuat kita merapat dan sering jalan bareng. kita berprinsip
" buat apa mengungkit perbedaan kalau sama-sama mempunyai tujuan yang sama "
0 komentar:
Posting Komentar