Chapter 3 - My Dreams & My Love


Malam begitu cepat berlalu mungkin karena aku terlalu menikmati suasana malam pada hari itu dan hari itu adalah tanggal 16 bulan Februari, tersirat indah dalam kalimat kakak yang isinya begini.

” Andaikan hari-hari bisa di pending ataupun di pause, akan aku lakukan hal konyol seperti itu demi Adinda yang semakin jauh di seberang jalan”

itulah yang diucapkan kakak ketika ditengah-tengah kecapan makan malamnya, sebenarnya kakak memang lebih berbakat dalam hal bahasa hanya saja karena waktu SMA kakak ambil jurusan Sains jadi minim hasilnya jika kakak ikut SBMPTN dijurusan bahasa so, kakak ambil kedokteran dikuliahnya, 
Setelah itu, selesai makan aku langsung menuju kamar

 Andaikan aku bisa jadi kakak yang akan menjadi dokter,

 Haish~ sudahlah aku harus punya jalan sendiri yang harus beda dan multitalent
Ngelamunin soal masa depan aku teringat akan sosok yang hangat, Firman,

Dia sekarang lagi ngapain ?

Biarlah, aku belum punya 100% hak untuk mengetahui apapun yang Firman lakuin dan Firman fikirkan, tanganku reflex ambil buku berwarna pink, aku akan belajar dan akan benar-benar study hard untuk masa depanku yang cerah, 

Aku buka halaman 45 yang diatasnya tertulis “tenses” 

Aku pahami begitu mendetaail tentang materi yang disediakan tetapi terlihat benang-benang yang rumit di dalam fikiranku sehingga sulit untuk masuk ke memori dalam otakku yang tidak sebesar kepalaku tentang “stative verbs” didalemnya terdapat sensory perception, mental perception, emotion, etc. 

Karena belum begitu paham aku coba buat ngerjain soal-soal sampai pada titik ujung soal aku selesaikan soal yang terakhir ..

142. “ exams will start in a week”
        “I know, ………. All next weekend”
a.     Will be studying
b.    Study
c.     Studied
d. Have studied

e.     Will have been studying

Karena disitu ada “ all next weekend” maka aku langsung jawab E karena sesuai dengan future perfect continous tense, akhirnya mataku pun ngga sanggup lagi buat mahami materi selanjutnya tanpa pikir panjang aku bersandar di meja dan menidurkan kepalaku,

Baru saja aku meletakkan kepalaku di meja aku mendengar pintu kamarku diketuk oleh seseorang dan terdengar suara kakak nyaring.

“ Adinda udah tidur? “

“ Belum kak, habis belajar” 

aku menjawab sambil jawab gontai dan membuka pintu kamarku.

Setelah pintuku sudah terbuka kakakku masuk dan meletakkan notebooknya disisi ranjang kamarku,

“ Kakak tumben hari ini terlihat free, ngga ada tugas ya kak? “

Pertanyaanku pun terdengar kepo

“ Jiwa kakak free tapi hati kakak terasa sesak banyak isinya” 

Kakak menjawab pertanyaanku dengan bahasa yang ngga aku mengerti

“ Maksud dari kata-kata itu kak?”

“ Adinda, kamu juga ngga jauh dari usia kakak, kan?  Kamu harusnya cepat menangkap dan peka “ 

Kakakku gregetan karena aku ngga paham- paham. wkwkw~

“ Maaf kakak, “ begitu polosnya aku minta maaf dan ngga ngerti letak sisi kesalahan dari kata-kataku.

“ Kakak dilema akan apa yang difikirkan oleh kaum hawa din, setiap kakak menjalin hubungan dengan seseorang gadis, gadis itu selalu ingin menghancurkan kakak dan menghilangkan reputasi kakak”

YaAllah, Engga salah kalau kakak sampai gregetan ketika aku engga paham dengan soal yang identik dengan keremajaan, memang aku kebanyakan rasionalistis.

6 komentar:

  1. Keren...,suka banget sama ceritanya

    BalasHapus
  2. kakaknya cowok berarti ya? nice..

    BalasHapus
  3. Komennya masih sama nih.
    Masih banyak yang perlu di perbaiki.
    >> Kalimat yang terlalu panjang
    >> Hindari penggunaan kata kata singkatan seperti klo, meskipun di percakapan
    >> PErhatikan huruf besar kecil ya

    But, aku tetep nunggu nih cerita lanjutnya, penasaran ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. edited & noted kak
      jangan bosan-bosan ngasih aku krisan ya kak hehe
      terimakasih banyaaak

      Hapus