Definisi Rindu - Part 2




“ Nandin, kamu. Kenapa ga kamu buka daritadi sih ? “ tanyaku kepadanya.

“ aku baru selesai mandi “ jawab Nandin sambil menjulurkan tangannya kepadaku

Aku menerima bantuan Nandin untuk berdiri dari tidurku, setelah bangun aku teringat sesuatu, 100% aku mengingatnya, sebuah ingatan 2 jam yang lalu.

Aku berjalan mengekori Nandin ke kamarnya. Sampai disana aku melayangkan tubuhku ke kasur Nandin.

Aku melihat awan buatan yang dipasang di langit-langit kamar Nandin, tiba-tiba ada air yang menetes ke pipiku, mungkin dari mataku. Ah iya aku menangis. 

Aku memiringkan tubuhku biar bisa menghadap Nandin.

“ Nandin “ panggiku

“ Ya Elisa “ 

“ Sebelum kesini aku abis mutusin Elnando “ ucapku lirih,

“ demi tuhan, akhirnya “ 

Seketika Nandin berdiri dari tidurnya, ia menatapku, aku ikut duduk di sebelahnya.

Tapi berat. Hatiku sakit, mengingat ucapan Elnando.

“ iya, terimakasih sudah menanti aku, terimakasih “

Ucapan itu membuatku berasumsi bahwa Elnan tidak mencintaiku, lalu kenapa 4 bulan yang lalu ia menyatakan cintanya? Kenapa setelah jadian ia selalu mengucapkan 

“ selamat pagi, semangat untuk hari ini ya “

Kadang lewat Chat kadang diucapkan langsung ketika tidak sengaja bertemu di parkiran kampus. 

Memang itu hanya ucapan, namun bagiku itu begitu candu..

Kini aku hanya bisa menangis meratapi nasib cintaku yang absurd ini. 
Nandin beranjak dari duduknya, lalu ia menyodorkanku tissue.

“Udahlah Elisa, ini yang terbaik untuk kalian, jujur ya aku engga suka liat kamu tiap hari melamun, kayak ada hal yang kamu tunggu gitu “ ucap Nandin kemudian.

“ aku menunggu Elnando, biasanya tiap hari dia ga lupa chat aku, tapi sudah sebulan ini dia engga ucapin lagi, pernah aku menanyakannya, tapi jawabannya ga logis banget, dia jawab lupa lah, ga sempat lah, malah yang terakhir kemarin lusa dia bentak aku, dia bilang ucapan kayak gitu bikin ilfeel. Katanya alay “ 
Jelasku panjang dan lebar kali tinggi ditambah isakan tangis.

“ ucapan selamat pagi itu ? “ Tanya Nandin

“ hmm “ jawabku singkat, padat dan jelas.

“ Elisaaaaaaa, ya jelaslah dia bilang alay, balikk aja sana ke masa SMP kalo pacaran masih kayak anak-anak gitu “ ujar Elisa, 

Seketika mata dia terbuka lebar, sangat lebar. Mungkin dia ga percaya sama penjelasanku.
“ Nandin, please listen to me first “ elakku kemudian

“ about what? Come on say it “ 

******

pict by pinterest.

0 komentar:

Posting Komentar