Definisi Rindu - Part 3
“ perubahan sikapnya Elnan benar-benar membuat aku kayak terjebak di Labirin, awalnya aku fine tentang dia engga ucapin itu, tapi lama kelamaan perubahan dia itu bisa aku rasain, dimulai dari dia yang ga kepo lagi soal keseharianku, dia yang menghindariku seolah-olah aku ini bakteri, dia yang sering non aktifkan whatsappnya, dia yang ga pernah lagi ngajak aku nonton, aku selalu menunggunya Nandin, aku menunggu Elnan yang dulu, kini kesabaranku udah habis, di tanggal jadian hari ini dia engga chat aku sama sekali, biasanya dia yang selalu ngajak aku jalan di tanggal jadian kita, sampai akhirnya aku duluan yang ngajak dia jalan, and you know what? “ tanyaku kemudian
“ what Elisa ?? “ jawab Nandin
“ waktu jalan tadi dia berubah jadi es batu, dia enggak bicara sebelum aku yang mengajaknya bicara, padahal tau ga, aku sekarang kan lagi sariawan, tapi it is okay, hatiku lebih parah sakitnya. Yaudah aku bilang ke dia aku minta putus, terus dia hanya bilang Makasih, dia engga ngajak aku buat mempertahankan hubungan ini. Huweeee( “ tangisku kembali pecah.
“ sudah kuduga, ini yang terbaik buat kamu Elisa, dengan putus dari Elnan, kamu ga akan menunggunya lagi kan ? “ Tanya Nandin.
“ mungkin, hmmmm aku gatau, hanya saja hatiku sakit “
“ rentangkan tanganmu Elisa, ambil nafas yang dalam, keluarkan kemudian move on dari keterpurukan hatimu yang hanya karena cowok brengsek seperti Elnando “ perintah Nandin yang bikin bulu kudukku berdiri.
Dengan bodohnya aku mengikuti intruksi dari Nandin, sedikit lega. Tapi
“ Nandin, haruskan aku pura-pura strong biar Elnando menyesal ? “ tanyaku kemudian
“ ga perlu pura-pura dong “ jawab Nandin tegas.
“ kamu masih cinta sama dia setelah dia nyia-nyiain kamu gitu? Oh Demi God. “ ucap Nandin lagi."
“ sedikit “ (iyuhhhhh. Oke fix aku bucin level 1)
“ keluar dari kamarku sekarang atau move on ? “ Tanya Nandin lagi
“ move on “ (sekarang aku kayak robot yang polos menjawab semua pertanyaan)
“ kamu ga punya rumah ya? “ Tanya Nandin lagi.
“ punya “ jawabku enteng.
“ keluar dari kamarku sekarang “ pinta dia
Aku berdiri menjauhkan diri dari kasur Nandin yang penuh dengan magnet – magnet ajaibnya. Aku membuka pintu kamar Nandin.
Ceklek…
“ berhenti El, seriusan keluar nih? Kagak jadi move on? " Tanya Nandin panic
“ aku lapar, aku ingin jauh-jauh dari kasur itu “ jawabku jujur apa adanya.
“ aku Tanya apa kamu jawab apa! “ seru Nandin lagi
“ dasar gadis putus cinta udah kayak cicak yang mutusin ekornya sendiri “ seru Nandin lagi
Aku tetap berjalan kearah dapur Nandin. Disana aku menemukan bibi Sutra. Beliau sedang memasak sayur sop ternyata, rumah Nandin sudah seperti rumahku sendiri, aku kenal dengan semua orang yang ada di dalam rumah ini, begitu pun juga dengan Nandin. Mama Nandin, seseorang yang merupakan sahabat dekat Bundaku, konon ceritanya sih mereka satu geng selama mereka sekolah di SMAN 2 Jombang. Kemana-mana berduaan dengan dirimu Iqbal~~~ eh kok malah nyanyi lagu itu.
Setelah memanggang roti di dapur sama bibi Sutra yang sedang masak sayur sop, aku duduk di taman rumah Nandin yang asri. Disana ada kolam ikan ukuran 4x4 meter. Aku melihat air mancur yang sedang mengalir dari bawah ke atas lalu turun lagi di titik terbawah. Kebahagiaan manusia ibaratkan air mancur yang kadang naiknya ke atas hingga ke bawah lagi. kalau di gambar grafiknya emang stabil tapi takdir tuhan tidak ada yang bisa menebaknya. Air mancur pun bisa berhenti seketika listrik padam.
pict by pinterest.

Cerbung ni yaaa
BalasHapusIya kak
Hapus