Definisi Rindu - Part 1



“ kita putus, udah cukup aku mengemis perhatian “

Kalimat itu tiba-tiba muncul dari bibirku yang sedang sakit sariawan, perih rasanya. Ya. Bukan sariawan lagi yang sakit. Itu bukan apa-apa. Tidak sebanding dengan penantianku selama 4 tahun. 

Aku memutuskannya bukan berarti aku membencinya. Hanya saja aku tidak tahan..

Air mataku jatuh, sekarang sudah tidak jatuh lagi, tapi mengalir deras bagaikan sungai Brantas. Bagaimana tidak sedih, dia tidak menyanggah perkataanku. 
Dia menjawab:

“ iya, terimakasih sudah menanti aku, terimakasih “

Terimakasih? Dia hanya menjawab permintaan putusku hanya dengan terimakasih? Bahkan dia juga tidak berusaha untuk mempertahankan. Oh demi tuhan;((((

Aku langsung berlari meninggalkannya, aku pergi ke rumah Nandin, dia sahabatku. Rumah Nandin berada di desa sebelah. Dusun Gedangan, No 75.

Aku sudah sampai di rumah Nandin, gerbangnya tidak di kunci, mobil yang biasa diparkir di halaman rumah tidak ada. Syukurlah, orang tua Nandin pasti pergi. Aku mengetuk pintu rumah Nandin. Sebentar, kakiku terasa sangat capek. Lelah. Apakah ini rasanya, lelah fisik dan juga batin? Aku menyelonjorkan kakiku di kursi. 

Di teras rumah andin ada kolam yg isinya ikan emas dan tumbuh beberapa daun teratai disana. Suara air mancur sedikir menenangkan kekacauan yang berkecamuk didalam hatiku.

“ haloo, apakah ada orang? “

aku berada ditengah-tengah pohon pinus. Ada banyak sekali pohonnya, anginya sepoi-sepoi meniup badanku hingga aku melayang, tidak sampai ke angkasa. 

Hanya saja aku berada sejajar dengan pucuk pohon pinus. Indah. 

Pemandangan ini indah. Tapi, dimana semua orang? Diujung sana, entah itu ujung sebelah mana. Aku melihat beberapa kucing. Aku ingin kesana.

“ seseorang tolong pindahkan arah tiupan angin ini ke arah kucing-kucing itu disana “

Tiupan angina ini malah menjauhinya. Aku harus apa untuk kesana? Aku sekarang terbang. 

Aku tidak bisa jalan.

“ El, Elisa, kamu ngapain tidur disini ? “

“ El “

“ Cuy, Elisaa “

aku membuka kedua mataku untuk melihat kenyataan. Ada Nandin disana. Aku seketika tersadar aku bermimpi aneh. tapi aku tidak sadar kapan aku mulai ketiduran.

“ Nandin, kamu. Kenapa ga kamu bukain daritadi sih ? “ tanyaku kepadanya.



>> To Be Continue.


pict by pinterest.

0 komentar:

Posting Komentar