“ kita putus, udah cukup aku mengemis perhatian “
Kalimat itu tiba-tiba muncul dari bibirku yang sedang
sakit sariawan, perih rasanya. Ya. Bukan sariawan lagi yang sakit. Itu bukan
apa-apa. Tidak sebanding dengan penantianku selama 4 tahun.
Aku memutuskannya
bukan berarti aku membencinya. Hanya saja aku tidak tahan..
Air mataku jatuh, sekarang sudah tidak jatuh lagi,
tapi mengalir deras bagaikan sungai Brantas. Bagaimana tidak sedih, dia tidak
menyanggah perkataanku.
Dia menjawab:
“ iya, terimakasih sudah menanti aku, terimakasih “
Terimakasih? Dia hanya menjawab permintaan putusku
hanya dengan terimakasih? Bahkan dia juga tidak berusaha untuk mempertahankan. Oh
demi tuhan;((((
Aku langsung berlari meninggalkannya, aku pergi ke rumah Nandin, dia sahabatku. Rumah
Nandin berada di desa sebelah. Dusun Gedangan, No 75.
Aku sudah sampai di rumah Nandin, gerbangnya tidak di
kunci, mobil yang biasa diparkir di halaman rumah tidak ada. Syukurlah, orang
tua Nandin pasti pergi. Aku mengetuk pintu rumah Nandin. Sebentar, kakiku
terasa sangat capek. Lelah. Apakah ini rasanya, lelah fisik dan juga batin? Aku
menyelonjorkan kakiku di kursi.
Di teras rumah andin ada kolam yg isinya ikan
emas dan tumbuh beberapa daun teratai disana. Suara air mancur sedikir
menenangkan kekacauan yang berkecamuk didalam hatiku.
“ haloo, apakah ada orang? “
aku berada ditengah-tengah pohon pinus. Ada banyak
sekali pohonnya, anginya sepoi-sepoi meniup badanku hingga aku melayang, tidak
sampai ke angkasa.
Hanya saja aku berada sejajar dengan pucuk pohon pinus.
Indah.
Pemandangan ini indah. Tapi, dimana semua orang? Diujung sana, entah itu
ujung sebelah mana. Aku melihat beberapa kucing. Aku ingin kesana.
“ seseorang tolong pindahkan arah tiupan angin ini ke
arah kucing-kucing itu disana “
Tiupan angina ini malah menjauhinya. Aku harus apa
untuk kesana? Aku sekarang terbang.
Aku tidak bisa jalan.
“ El, Elisa, kamu ngapain tidur disini ? “
“ El “
“ Cuy, Elisaa “
aku membuka kedua mataku untuk melihat kenyataan. Ada Nandin disana. Aku seketika tersadar aku bermimpi aneh. tapi aku tidak sadar kapan aku mulai ketiduran.
“ Nandin, kamu. Kenapa ga kamu bukain
daritadi sih ? “ tanyaku kepadanya.
>> To Be Continue.
pict by pinterest.

0 komentar:
Posting Komentar