Chapter 4 - My dreams and My love


~~~~~
Ayam jantan berkokok bagaikan membangunkan orang dari tidurnya selama 100 hari, lampu-lampu yang berwarna putih bahkan neon sudah mulai menampakkan cahaya masing-masing dari atas rumah yang berpenghuni, 

Jalanan yang hampir mati kini telah dihidupkan kembali oleh mesin-mesin berjalan dengan suara klaksonnya jika ada orang yang buru-buru menyeberang tanpa melihat kanan dan kiri jalan begitu setia menemani perjalanan orang-orang yang akan bekerja, 

Berjualan di pasar rela bangun pagi-pagi bahkan belum menyentuh pagi masih dini hari namun mereka rela demi memenuhi kebutuhan hidupnya, 

Dinginnya pagi mulai berlarian karena takut dengan hangatnya sinar matahari dari ufuk timur dan kegelapan pun musnah digantikan dengan warna kuning dilapisi embun yang menghangatkan suasana.

Samar-samar terlihat rumah bercat putih dengan pintu terbuat dari kayu jati yang telah dilapisi oleh hiasan berwarna putih dan jendela yang tertutup oleh kaca berbentuk trapesium dengan tirai berwarna merah muda berpadu dengan hitam manis ditambah dengan taman bermacam-macam bunga yang sedang bermekaran membuat orang-orang yang melihatnya meskipun dari gerbang merasa ingin memiliki rumah klasik itu. 

Yeah~ rumah yang kokoh dengan penghuni yang kokoh juga imannya.

“ Ayah, aku berangkat sama kak Andi aja yah “ 
Terdengar suara gadis diseberang dalam rumah itu, orang yang mendengarnya hanya tersenyum geli dan bergelayut dengan embun yang dinikmatinya saat jogging

Tak ada kata yang indah selain ucapan dari Andini dan tak ada yang menggelikan selain manjanya Andini, menjadi anak gadis satu-satunya yang dimiliki orang tua dan bersaudara satu laki-laki memang menjadi jurus andalan untuk Andini bermain-main dengan ayunan manjanya

Rambut panjang yang selalu tertutupi jilbab dan baju muslimah yang selalu dikenakan andini menjadikan gadis usia 17th ini menjadi lebih anggun dan menawan apalagi dengan lesung di pipinya dan kecerdasannya dalam berkata-kata, bagaikan manusia sempurna, itulah isi fikiran Andi ketika memandangi rumah kokoh itu.

~~~~

“ Hei siapa disana ? “ 

Aku terperanjat dari teras rumah yang tadinya duduk membenahi tali sepatu yang lepas dan sekarang sepatu yang talinya lepas sudah siap ditangannya.

Siap untuk menjadi sarapannya orang yang diam-diam mengintip rumahku yang tanpa satpam ini.

“ Maaf Andini, ini aku berpijak hanya untuk menyapamu di pagi hari dan memastikan senyum itu masih ada “

Firman menampakkan senyumnya yang manis sekali. ~menurutku
Rumah yang hanya berjarak sekitar 1 km dan hanya berbatasan dengan sungai dan jalanan yang penuh dengan keramaian, dan udara pagi bersama mekarnya bunga-bunga dalam halaman rumah menambahkan suasana romantis antara Firman dan aku yang berbekas kenangan yang mungkin takkan pupus dan rapuh dimakan waktu.

“ Firman, kau memang suka mengagetkanku, apa hanya ingin menyapaku saja? “

Aku duduk untuk membenahi tali sepatuku lagi dan tak lupa selalu memasang senyum.
Yah.. untuk siapa lagi ya untuk firman seorang.

“ Lantas untuk siapa aku kesini jika bukan hanya untukmu Andini ? “

Firman mendekat  dan duduk di depanku, aku sedang duduk di teras rumah jelas posisiku lebih tinggi dari pijakan Firman dan Firman hanya berpijak di vaping halaman rumah, semakin romantis saja. 

~wah aku ingin terbang

“ Bagaikan keju dan coklat yang menjadi pelengkap di dalam sandwich,  hehe Adinda kejunya Firman coklatnya dan aku rotinya, yang artinya hidupku semakin lengkap karena ada kalian“

Kak Andi langsung membuyarkan pandangan-pandangan Firman tentang masa depannya bersama Andini

“ Mas Andi ? “

Firman langsung berdiri dan menyalami kak Andi yang sudah 2th menjadi guru sastra di masa SMA.

Sekarang mas Andi sudah kuliah dan Firman masih ada dibangku SMA kelas 12 IPA-1, begitu terlihat rindunya Firman kepada kak Andi ketika menyalaminya dengan tulus tapi kak Andi tidak menerima ciuman tangan dari Firman malah ikut menunduk dan 
“ berggg “  Jidat mereka bertabrakan. WKWKWKKW

“ auw Firman semangat banget kau bertemu denganku “

kak Andi langsung saja melepasakan jabatan tangan firman dan langsung mengusap jidatnya yang terbentur jidat Firman yang bagaikan tembok.

“ Maaf mas, sudah lama tak jumpa “

Akhirnya Firman juga tak bisa menutupi rasa sakit di jidatnya dan mengusapnya dengan kedua tangannya.

“ Inilah jawaban dari pentanyaanmu Firman “ 

aku tertawa kekeh.

“ Kamu bertanya apa pada adikku Adindaku ?”

kak Andi hanya bisa mengerutkan dahinya.

“ Saya bertanya pada Andini disini dengan siapa saya menyapa orang lain selain andini “ 

Jawab firman polos dan sopan ditambah jujur.

“ Hahaha “

Ditambah kak Andi yang sekarang sudut di bibirnya sudah berganti posisi di atas.

“ Astaghfirullah sudah ayo berangkat kak. aku ntar telat pergi kesekolah “ 

Aku sengaja seolah-olah menyeka pembicaraan antara Kak Andi dengan Firman pagi itu padahal jam masih menunjukkan jam 6 dan sekolahku masuk pada jam 7.15.

“ Adindaku ternyata rajin juga sekolahnya, kau jangan bahagia dulu Firman melihat rajinnya Adinda karena hanya ada 2 pilihan yaitu pertama, Adinda pergi ke sekolah jam segini karena rajin dan kedua karena dia membantu OB disekolah karena dihukum hahaha “

kak Andi pun tertawa keras, dengan berjalan gontai ke garasi untuk memanaskan mobil.

krik.. krik..

Hanya tertinggal Firman dan aku yang mengamati kak Andi.
Kita tidak mengerti apa maksudnya memang kak Andi adalah seseorang yang aneh di dunia ini.

Oh tidak dia itu manusia Saturnus yang lucu tapi ngga lucu dan yang benar dia sangat jenius.

“ apa ada yang salah ? “

Mungkin saking jeniusnya kak Andi peka akan apa yang terjadi dipikiranku dan firman yang berasumsi “ kak Andi ngga jelas “

“Tenang saja aku masih normal“ timpal kak Andi lagi sambil mengisyaratkan oke dengan ibu jari dan jari telunjuknya, dan berlalu begitu saja,

“ Kedua pilihan itu tidak ada yang benar, yang benar adalah Andini sedang malu ketika aku bercerita ke mas Andi apa yang aku tanyakan, bukan begitu Andini ? “ 

Firman pun membenarkan suasana dan mengakhirinya dengan senyuman.

“ Firman “ 

aku hanya bisa mengangguk dan ngga berani menatap Firman lagi.

Hening…

0 komentar:

Posting Komentar